Petaling Jaya, Gontornews — Sebuah LSM di bidang medis, Malaysian Medics International (MMI) menyerukan keprihatinannya menyusul meningkatnya profesi dokter tanpa disertai penempatan kerja yang layak. Dokter di Malaysia disebut hanya diberikan “kontrak kerja” sehingga peluang untuk menjadi dokter spesialis mengecil.
Ketua Dewan Pengawas Internasional, Dr Vikkineshwaran Siva Subramaniam, mengatakan Kementerian Pendidikan telah mengizinkan pendirian perguruan tinggi medis di Malaysia. Lebih lanjut, Dr Vikkineshwaran menyebut ada 33 institusi medis di Malaysia yang mampu menelurkan 33.000 dokter setiap tahun.
“Ada 33 institusi medis yang memproduksi 3.000 dokter setiap tahun. Kami memiliki 3.000 dokter lain yang pulang ke rumah setiap tahun dari luar negeri setelah mereka menyelesaikan pendidikan,” kata Dr Vikkineshwaran kepada FMT.
“Tapi tidak banyak pekerjaan untuk mengakomodir seluruhnya setiap tahun,” tambahnya.
Ia juga mengatakan saat ini ada 9.000 dokter berstatus kontrak. Sementara 4.000 dokter lainnya ditempatka posisi sebagai dokter umum.
“Mereka yang terikat kontrak, memiliki pekerjaan yang sama dengan dokter tetap atau petugas medis. Mereka pun berpenghasilan redah dan tidak dapat menjadi spesialis,” ungkapnya.
“Entah mengapa pemerintah harus membedakan semua petugas medis menjadi tetap atau kontrak. Petugas medis melakukan pekerjaan yang sama, tetapi mereka yang mendapat kontrak berpenghasilan lebih sedikit dan tidak dapat menjadi dokter spesialis,” katanya.
Secara spesifik, Dr Vikkineshwaran mendesak pemerintah untuk mengizinkan dokter kontrak untuk mengambil pendidikan spesialis setelah 3 tahun karena Malaysia membutuhkan dokter spesialis.
“Bayangkan, Rumah sakit di Kuala Lumpur hanya memiliki 10 ahli bedah vaskular dan 10 spesialis dan 10 spesialis hati ada di rumah sakti Selayang,” imbunya.
Alhasil, ia menyebut bahwa penghasilan yang rendah membuat para dokter spesialis di rumah sakit pemerintah berpindah ke rumah sakit swasta untuk mendapatkan gaji yang layak demi keseimbangan hidup dan kerja yang lebih baik. [Mohamad Deny Irawan]





















