Kopenhagen, Gontornews — Sebuah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu akibat perubahan iklim mengurangi jumlah waktu tidur manusia dalam satu tahun. Sederhananya, semakin hangat suhu permukaan tanah semakin berkurang pula jam tidur manusia.
“Dalam studi ini, kami memberikan bukti bahwa suhu yang lebih hangat dari rata-rata mengakibatkan pengikisan waktu tidur manusia,” kata penulis utama Kelton Minor sebagaimana dilansir CTV News.
“Kami menunjukkan bahwa erosi ini terjadi terutama karena penundaan waktu tidur dan mempercepat bangun tidur saat cuaca panas,” sambung Minor.
Penelitian yang diterbitkan jurnal One Earth ini menggunakan data dari gelang pelacak tidur yang dikenakan oleh lebih dari 47.000 orang dewasa di 68 negara kecuali Antartika.
Setelah menganalisis lebih dari 7 juta catat tidur, para peneliti menemukan bahwa suhu hangat di atas 30 derajat celcius membuat waktu tidur berkurang rata-rata 14 menit. Kemungkinan lain, kurang tidur dari tujuh jam juga dialami seseorang saat suhu malam hari melebihi 25 derajat celcius.
“Di seluruh musim, demografi dan iklim yang berbeda, suhu luar yang lebih hangat secara konsisten mengikis waktu tidur, dengan jumlah waktu tidur yang berkurang semakin meningkat saat suhu menjadi lebih panas,” kata Minor.
Penelitian ini juga menemukan bahwa wanita, orang tua dan orang-orang yang tinggal di negara-negara yang lebih panas juga terkena dampak.
Pada tahun 2009, kenaikan suhu global dapat menyebabkan banyak orang kehilangan rata-rata 50 hingga 58 jam tidur tahunan tergantung apakah konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer terus meningkat atau stabil pada akhir abad ini.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa berkurangnya waktu tidur dapat menyebabkan konsekuensi kesehatan yang lain. Temuan ini sekaligus menjadi satu dari sekian banyak dampak yang disebabkan oleh perubahan iklim pada kehidupan manusia.
“Hasil kami menunjukkan bahwa tidur, proses restoratif penting yang integral untuk kesehatan dan produktivitas manusia, dapat terdegradasi oleh suhu yang lebih hangat,” ucap Minor.
“Untuk membuat keputusan tentang kebijakan iklim yang terus bergerak maju, kita perlu memperhitungkan dengan lebih baik spektrum penuh dari dampak iklim masa depan yang masuk akal dan meluas dari pilihan emisi gas rumah kaca masyarakat saat ini,” tutup Minor. [Mohamad Deny Irawan]






















