Karlsruhe, Gontornews — Sebuah penelitian menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk melindungi iklim adalah dengan reboisasi. Melalui perjanjian Paris, reboisasi menjadi satu langkah penting dalam upaya mengendalikan perubahan iklim global yang sedemikian ekstrem.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Research Letters itu, peneliti menitikberatkan pada peningkatan kawasan hutan dan mentransformasikannya dengan sistem pangan dan pengurangan konsumsi daging.
Berdasarakan perjanjian Paris, kenaikan suhu global harus dibatasi di angka di bawah 2 derajat Celcius atau 1,5 derajat Celcius jika dimungkinkan. Tindakan mitigasi berbasis lahan seperti penghijauan, pencegahan deforestisasi harus dilakukan demi menyelaraskan tujuan tersebut.
Sebagaimana diketahui, pohon menyerap gas rumah kaca CO2 dari atmosfer dan menghasilakan biomassa. Dengan demikian, upaya menanam pohon juga sering dianggap sebagai βlawan sepadanβ bagi perubahan iklim global.
Meski demikian, perluasan lahan hutan sering kali bersaing dengan lahan pertanian. Terlebih, perubahan kebiasaan diet dalam skala global telah menyebabkan permintaan makanan terkhusus daging semakin meningkat.
βKami membandingkan berbagai skenario dengan permintaan variabel untuk daging, budidaya tanaman energi, efisiensi irigasi dan peningkatan hasil panen,β ungkap penulis utama dalam penelitian ini, Dr Heera Lee dari Institute for Metorology and Climate Research (IMK-IFU), Karlsruhe Institute, Karlsruhe, Jerman
βStudi kami mengungkapkan bahwa perluasan hutan yang cukup untuk perlindugan iklim dan mengamankan pasokan makanan memerlukan transformasi sistem pangan baik pada sisi penawaran maupun permintaan. Penghindaran daging sebagian atau total tentu saja menjadi tantangan besar dalam praktiknya,β kata Heera Lee sebagaimana dilansir Science Daily.
βPenting untuk tidak meningkatkan impor pangan ke Eropa untuk mencegah pergeseran produksi pangan dan penggundulan hutan di wilayah lain di dunia,β tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]






















