Jenewa, Gontornews — Serangan yang terus berlanjut oleh pasukan pemerintah Suriah dan sekutunya telah menciptakan “neraka di bumi” bagi warga sipil yang terjebak di daerah pinggiran Damaskus yang terkepung. Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres, Senin (26/2), saat serangan udara dan operasi darat berlanjut meski ada gencatan senjata yang telah berlangsung seharian.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin, memerintahkan “jeda kemanusiaan” dari pukul 09:00 sampai 2.00 waktu setempat pada hari Selasa untuk mengizinkan warga sipil mengevakuasi warga dari Ghouta Timur.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris menyebutkan, pemboman terhadap daerah kantong pemberontak selama seminggu terakhir itu merupakan salah satu perang terberat tujuh tahun Suriah. Sebanyak 550 orang tewas dalam delapan hari perang.
Seperti dikutip Aljazeera, Zaher Hajjo, pejabat kesehatan pemerintah, perlawanan pemberontak telah menyebabkan 36 orang tewas dan sejumlah korban luka di Damaskus dan daerah pedesaan sekitarnya dalam empat hari terakhir.
Antonio Guterres menyerukan segera pelaksanaan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata 30 hari di Suriah.
Berbicara di Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, Guterres menggambarkan situasi di Ghouta Timur sebagai “neraka di bumi”.
“Saya mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mutlak mereka dan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional untuk melindungi masyarakat sipil dan infrastruktur sipil setiap saat,” katanya.
“Sama halnya, upaya memerangi ‘terorisme’ tidak menggantikan kewajiban ini,” tambahnya.
Ucapan tersebut muncul saat para dokter di daerah kantong tersebut menuduh pemerintah Suriah meluncurkan serangan gas klorin di Kota Al-Shifaniyah di Ghouta Timur.[Rusdiono Mukri]






















