New Jersey, Gontornews – Sebuah temuan mengejutkan dari Rutgers University di Amerika Serikat berhasil mengungkap adanya hewan yang mengadalkan makanannya melalui proses fotosintesis sebagaimana halnya tanaman hijau. Hewan tersebut bernama siput air Elysia chlorotic.
Tanaman ini disebut para peneliti berhasil mengubah bahan mentah dari ganggang sebagai pasokan energi bertenaga matahari sepanjang hidupnya.
“Ini adalah prestasi yang luar biasa karena ada hewan yang berlaku tidak biasa dengan bertahan menggunakan hasil fotosintesis,” kata Guru Besar di Departemen Biokimia dan Mikrobiologi di Rutgers University, Debashish Bhattacharya, sebagaiman dilansir Science Daily.
“Implikasi yang lebih luas memungkinkan anda untuk membuat fotosintesis buatan. Artinya, jika kita dapat mengetahui bagaimana siput mempertahankan plastisida untuk memperbaiki karbon tanpa inti nuleus, maka mungkin kita juga dapat memanfaatkan plastida untuk selamanya sebagai mesin hijau untuk menciptakan energi hijau,” tambah Bhattacharya
Siput laut Elysia chlorotica merupakan hewan yang dapat tumbuh sepanjang 2 inchi yang ditemukan di zona intertidal antara Nova Scotia, Kanda dan Martha’s Vineyard, Massachusetts dan Florida.
Siput remaja akan memakan alga coklat beracun Vaucheria litorea dan mengubahnya menjadi fotosintetik melalui panel surya kecil dan menyimpannya dalam lapisan usus mereka. Proses fotosintesis tadi terjadi ketika ganggang dan tanaman menggunakan energi kimia yang berasal dari karbondioksida dan air. Plastida alga coklat disinyalir merupakan organ fotosintesis siput air tersebut yang berfungsi seperti halnya klorofil pada tumbuhan yang mampu menyerap cahaya.
“Ketika siput laut membuat lubang di dinding sel luar, ia bisa menyedot isi sel dan mengumpulkan semua plastida alga secara sekaligus,” kata Bhattacharya dalam penelitian yang juga diterbitkan oleh jurnal Molecular Biology and Evolution itu.
“Dengan kemampuan untuk mencuri plastida alga, siput ini mampu berhenti makan dan bertahan hidup sekitar 6-8 bulan dengan hanya mengandalkan proses fotosintesis tersebut,” ungkapnya.
Rabbanā mā khalaqta hāẓā bāṭilā,ṣubḥānaka faqinā ‘adzābannār. [Mohamad Deny Irawan]






















