Kolombo, Gontornews — Pemerintah Sri Lanka, Selasa (1/3/2022), mengumumkan pemadaman listrik selama tujuh setengah jam setiap hari secara nasional. Pemadaman listrik terpanjang selama lebih dari seperempat abad ini terjadi karena krisis valuta asing yang membuat pemerintah tidak dapat mengimpor minyak.
Komisi Utilitas Publik mengatakan ini adalah bencana ‘black day’ bagi negara kepulauan tersebut karena menyetujui pembatasan penjatahan listrik dengan pembangkit listrik yang kehabisan bahan bakar.
“Apa yang kami hadapi bukanlah masalah kapasitas listrik tetapi krisis valuta asing,” kata Komisi Utilitas Publik. Komisi juga mengatakan pemerintah tidak dapat menemukan dolar untuk membiayai impor minyak.
Sebagai informasi, pemotongan tersebut merupakan yang terpanjang sejak tahun 1996. Ketika negara itu mengandalkan pembangkit listrik tenaga air sebanyak 80 persen dari pasokan listriknya. Namun, bencana kekeringan yang berkepanjangan telah menyebabkan waduk mengering.
Pemerintah lantas menginstruksikan semua lembaga negara untuk mematikan AC mereka pada sore hari untuk menghemat energi.
Selain penjatahan listrik, operator bus juga tidak mendapatkan pasokan solar. Akibatnya, setengah dari 11.000 armada tidak beroperasi meskipun hari libur membatasi konsekuensinya.
“Kami akan melihat dampak penuh dari kekurangan solar besok ketika orang kembali bekerja,” kata asosiasi operator bus swasta, Gemunu Wijeratne, kepada AFP.
Salah satu pemasok bahan bakar terbesar Sri Lanka, Lanka IOC, menaikkan harga bahan bakar minyak hingga 12 persen. Sedangkan, Ceylon Petrolium Corporation (CPC), yang perusahaan pengelola minyak milik , juga sedang meminta persetujuan pemerintah untuk menaikkan harga minyak.
Pada Sabtu (26/2/2022), Menteri Energi, Udaya Gammanpila, mengatakan krisis listrik terjadi karena kekurangan dolar. Gammanpila tidak menampik situasi ini merupakan krisis ekonomi terburuk sejak Sri Lanka merdeka tahun 1948.
Negara ini, sekarang, berada dalam cengkeraman krisis ekonomi, dengan sejumlah kekurangan yang meluas seperti makanan, obat-obatan, suku cadang otomotif dan semen. Supermarket, bahkan, terpaksa menjatah makanan pokok termasuk beras, gula dan susu bubuk.
Kekurangan valuta asing juga mendorong inflasi makanan hingga 25 persen pada Januari. Sedangkan inflasi secara nasional telah mencapai 16,8 persen. [Mohamad Deny Irawan]




















