Depok, Gontornews — Para orangtua Muslim tentu senang jika mendapati anaknya senang berinteraksi dan pandai dalam menguasai ilmu-ilmu al-Qur’an. Beragam metode pembelajaran serta menghafal al-Qur’an juga semakin marak terlihat di tengah masyarakat Indonesia.
Maka, kata kunci pertama agar anak dapat mencintai al-Qur’an ialah jadikanlah anak kita menjadi duta al-Quran. Buatlah anak tertarik dengan al-Qur’an lewat senyuman di wajah kita serta sikap lemah lembut yang terlihat dari perangai orangtua sehari-hari.
“Hal itu berpengaruh, karena sikap yang kasar, keras, bisa membuat anak-anak kabur dari Islam,” terang Ustadz Bendri Jaisyurrahman kepada Gontornews.com. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah mencontohkan mengajar dengan kata-kata yang kasar.
Selanjutnya, tambah praktisi parenting Islami tersebut, jangan mengajarkan al-Qur’an secara terburu-buru. Sebab Allah SWT memerintahkan manusia untuk mempelajarinya secara bertahab.
Al-Qur’an saja diturunkan secara bertahab, selama dua puluh dua tahun supaya diresapi, supaya ia berinteraksi. Nah, diantara kita banyak yang terburu-buru. “Jika anak semangat tidak apa-apa, tapi jika ia belum siap, jangan dipaksa,” tekan Ustadz Bendri.
Kadang kita membandingkan anak tetangga, tapi tidak membandingkan orangtuanya, diri kita. Jika anak kita dipaksa tidak sesuai dengan minatnya, kadang-kadang malah menjauhkannya kelak. Masalah saat ini, banyak anak kita yang hafalannya bukan bertambah tapi berpindah. Ini tantangannya!
Karena kita sering lupa, jika anak kita ingin berusaha menghafal al-Qur’an, maka ia harus punya kebiasaan yang dipraktikkan sampai mati, yakni murajaah. Seadngkan yang dapat membuat seseorang istiqamah melakukan murajaah adalah cinta. Maka, teruslah berusaha menanamkan kecintaan untuk berinteraksi dengan al-Qur’an kepada diri sendiri dan keluarga, agar kita bisa tetap istiqamah bersamanya di setiap keadaan. <Edithya Miranti>
























