Idlib, Gontornews – Sejumlah pertempuran berkecamuk di beberapa wilayah Suriah, tak lama setelah AS dan Rusia menyegel kesepakatan yang bertujuan menghidupkan kembali proses perdamaian yang disponsori PBB.
Lebih dari 100 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan bom pada wilayah yang dikuasai pemberontak di Provinsi Aleppo di utara negara itu, dan di bagian utara-barat negeri itu, Idlib. Bisakah kesepakatan terbaru membawa perdamaian di Suriah?
Serangan terburuk terjadi di Kota Idlib, ibukota Provinsi Idlib. Di sini, 55 warga sipil tewas saat sebuah pasar dibombardir.
“Sebuah jet tempur Rusia menargetkan daerah perumahan dan pasar di Idlib,” kata Adham Abu al-Husam dari Al Jazeera melaporkan dari Kota Idlib. Para pertahanan sipil (hansip), petugas pemadam kebakaran, dan paramedis bekerja keras menyelamatkan korban dari reruntuhan.
“Pasar itu penuh warga sipil yang berbelanja untuk perayaan Idul Adha.”
Di Aleppo, sedikitnya 46 warga sipil, termasuk sembilan anak-anak, tewas dalam pemboman di daerah yang dikuasai oposisi, seorang koresponden Al Jazeera melaporkan dari kota itu.
Penggerebekan di Idlib dan Aleppo diyakini telah dilakukan oleh jet tempur tentara Suriah, atau orang-orang dari sekutu utamanya, Rusia.
Kekerasan meningkat hanya beberapa jam setelah diplomat Rusia dan AS mengumumkan perjanjian gencatan senjata setelah 13 jam pembicaraan di Swiss, Jenewa, Jumat (9/9).
Kesepakatan itu termasuk gencatan senjata yang berlaku sejak matahari terbenam di hari Senin (12/9), hari pertama lebaran Idul Adha. Perjanjian itu juga membuka jalan bagi serangan bersama AS-Rusia melawan kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, termasuk ISIS.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry, yang hadir Jumat di Jenewa bersama Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, mengatakan kesepakatan itu bisa memberikan “titik balik” dalam konflik jika pihak-pihak yang bertikai mengimplementasikannya “dengan itikad baik”.
Rusia adalah sekutu utama Presiden Suriah Bashar al-Assad, sementara AS mendukung pasukan oposisi yang berjuang untuk mengusirnya.
Kantor berita Suriah, SANA, mengatakan bahwa perjanjian Jenewa telah dicapai “dengan sepengetahuan penuh ” Pemerintah Suriah.
Oposisi Suriah menyambut dengan hati-hati kesepakatan itu. Komite Tinggi Negosiasi (HNC), sebuah payung koalisi oposisi, menyambut kesepakatan itu tapi meminta Rusia untuk menekan Pemerintah Assad mematuhi kesepakatan yang telah dibuat.
“Kami berharap ini akan mengakhiri penderitaan warga sipil ,” kata anggota HNC Bassma Kodmani.
“Kami menyambut baik kesepakatan itu jika akan ditegakkan. Bagaimana jika Rusia tidak menekan rezim, karena itulah satu-satunya cara agar rezim mematuhi kesepakatan? Kami menunggu dengan cemas.”
Sebab, gencatan senjata sebelumnya yang ditengahi oleh AS dan Rusia pada bulan Februari, runtuh. [Rusdiono Mukri]





















