“Sebagai orang-orang pondok; kiai pondok, guru pondok, pengelola pondok harus mempunyai kerjaan yang namanya tajarrud. Artinya menelanjangi diri; mencopot baju-baju keduniaan, nafsu-nafsu keduniaan, nafsu-nafsu egoisme, nafsu-nafsu tamak harus tinggalkan semuanya. Kalau di dirinya masih ada keduniaan, jangan jadi kiai, jangan dirikan pondok. Tajarrud-nya saja gak lulus. Kalau jadi kiai hanya untuk dapat apa, berapa, dan bagaimana caranya — palsu. Kiai palsu. Ulama palsu. Madha nawaita? (Apa) Niat kamu jadi guru, jadi pegawai, jadi wakil rakyat, jadi pejabat, jadi presiden?” (KH Hasan Abdullah Sahal)
Kata-kata Kiai Hasan Abdullah Sahal di atas bukan sekadar nasihat moral, tetapi seruan eksistensial untuk melakukan tajarrud — melepaskan diri dari belenggu dunia dan ego.
Dalam bahasa Arab, tajarrud (تجرّد) berasal dari akar kata جرد yang bermakna menanggalkan, mengosongkan, atau membersihkan dari sesuatu yang melekat. Ungkapan “tajarrada min al-tsiyāb” berarti menanggalkan pakaian, sedangkan “tajarrada lillāh” berarti menanggalkan segala selain Allah dari hati.
Makna ini bukan sekadar simbolik. Ia menandai sebuah proses pembersihan batin — de–attachment — terhadap dunia dan hawa nafsu. Imam al-Qusyairi dalam al-Risālah al-Qusyairiyyah menjelaskan: “Al-tajarrud huwa khurūj al-qalb min al-‘alā’iq” — “Tajarrud adalah keluarnya hati dari segala ikatan selain Allah.”
Dengan demikian, tajarrud bukan berarti meninggalkan dunia secara fisik, melainkan menanggalkan keterikatan batin terhadap dunia sehingga hati menjadi cermin yang bersih bagi cahaya Ilahi.
Pondok sebagai Madrasah Tajarrud
Dalam konteks pesantren, tajarrud adalah fondasi ruhani dari sistem pendidikan. Pesantren lahir bukan dari ambisi duniawi, tetapi dari keinginan suci untuk menghidupkan agama dengan menghidupkan manusia.
Kiai Hasan menegaskan bahwa tugas utama orang pondok kerja tajarrud — kerja sunyi untuk membersihkan niat. Ketika seseorang mendirikan pondok, mengajar, atau memimpin dengan niat memperoleh keuntungan, status, atau pengaruh, maka ia telah gagal di ujian pertama spiritualitas: niat.
Pertanyaan yang mengguncang dari beliau — “Madha nawaita?” — “Apa niatmu” merupakan inti dari pendidikan ruhani Islam. Ia menguji fondasi kesadaran moral: apa niatmu dalam setiap amal? Sebab sebagaimana sabda Nabi SAW: “Innamā al-a‘mālu bi al-niyyāt.” Semua amal tergantung niatnya.
Tajarrud dalam Perspektif Filsafat dan Tasawuf
Secara filosofis, tajarrud adalah proses menjadi manusia sejati — manusia yang bebas dari determinasi nafsu dan dunia. Dalam terminologi tasawuf, ia termasuk tahap takhalli (pengosongan diri dari sifat tercela), yang menjadi prasyarat bagi tahalli (penghiasan diri dengan akhlak mulia) dan akhirnya tajalli (penyingkapan cahaya Ilahi).
Al-Ghazali dalam Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn menulis bahwa manusia tidak akan mencapai hakikat ikhlas sebelum melepaskan keterikatan terhadap selain Allah. Dunia merupakan ujian, bukan tujuan. Sedangkan Ibn ‘Aṭā’illah al-Sakandari menegaskan dalam al-Ḥikam: “Tidak akan bersinar hatimu selama di dalamnya masih ada sesuatu selain Allah.”
Tajarrud, dengan demikian, adalah peniadaan demi penegasan: ketika dunia dinafikan dari hati, maka yang tertinggal hanyalah Allah. Inilah tauhid dalam bentuk eksistensial — bukan sekadar doktrin, tetapi pengalaman batin yang mengosongkan diri dari yang fana untuk mengisi diri dengan yang baka.
Tajarrud sebagai Kritik terhadap Kapitalisme Spiritual
Kiai Hasan sebenarnya sedang melancarkan kritik tajam terhadap gejala modern: komersialisasi agama dan pendidikan. Ketika lembaga keagamaan berdiri karena motif ekonomi, ketika jabatan kiai dan guru menjadi alat status sosial, maka tajarrud telah digantikan oleh kerakusan.
Malik Bennabi menyebut fenomena ini sebagai crisis of ideas, yaitu ketika gerakan keagamaan kehilangan motivasi ruhaniahnya dan hanya bergerak secara material. Sementara Ismail Raji al-Faruqi menegaskan bahwa tauhid menuntut integritas total antara niat, ilmu, dan amal.
Maka, tajarrud adalah implementasi praktis tauhid — menegaskan keesaan Tuhan dalam niat dan tindakan, sehingga tidak ada ruang bagi kepalsuan dalam dakwah dan kepemimpinan spiritual.
Tajarrud sebagai Cinta dan Kebebasan
Pada tataran paling tinggi, tajarrud bukan sekadar tazkiyah, melainkan mahabbah. Orang yang telah mencapai tajarrud tidak merasa berat meninggalkan dunia, karena hatinya telah dipenuhi oleh cinta kepada Allah.
Rumi mengibaratkan: “Ketika engkau telah memiliki laut, apakah engkau masih akan mengejar tetes air?”
Tajarrud adalah keberanian untuk kehilangan demi menemukan yang sejati. Ia kebebasan spiritual tertinggi: bebas dari dunia bukan karena membencinya, tetapi karena telah menemukan makna terdalamnya di dalam Allah.
Tajarrud dan Peradaban Ruhani
Kiai Hasan Abdullah Sahal berbicara bukan hanya tentang moralitas individu, tetapi tentang fondasi peradaban ruhani. Pondok, dalam pandangan beliau, merupakan miniatur masyarakat tauhid, dan ruhnya tajarrud.
Ketika tajarrud hilang, pondok kehilangan arah: ilmu menjadi alat, bukan cahaya; kiai menjadi simbol, bukan pembimbing. Tetapi ketika tajarrud hadir, pondok menjadi rahmat, bukan institusi.
Penutup
Tajarrud merupakan inti keikhlasan dan puncak kebebasan spiritual. Ia menuntut keberanian untuk menelanjangi diri dari ambisi, ego, dan ketergantungan duniawi. Bagi orang pondok, tajarrud bukan pilihan, tetapi syarat keberadaan moral.
Kiai Hasan telah mengingatkan bahwa pendidikan Islam sejati hanya akan lahir dari jiwa-jiwa yang tajarrud lillāh — jiwa yang telah menanggalkan dunia demi menghidupkan dunia dengan nilai Ilahi. []
Mantingan, 30 November 2025





















