Cambridge, Gontornews — Tahun ini adalah tahun ke-9 diadakannya perhelatan besar Gulf Research Meeting yang dihadiri oleh ratusan peneliti, praktisi dan politisi dari berbagai negara. Acara yang disponsori perusahaan-perusahaan besar dari negara Teluk ini, setiap tahun diadakan di kampus University of Cambridge, Inggris.
Dalam perhelatan kali ini ada 280 peserta yang hadir dari 30 negara dengan salah satu tema pembahasan menyangkut FinTech syariah dan peranannya untuk keuangan syariah. Pada kesempatan ini STEI Tazkia diwakili oleh Murniati Mukhlisin, Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia, membentangkan pengalaman Indonesia, Singapura dan Malaysia dalam mengembangkan FinTech syariah dan bagaimana negara-negara Teluk dapat mengambil pelajarannya.
Pada kesempatan ini pula, Dosen Senior Bidang Akuntansi Syariah STEI Tazkia itu memberikan rekomendasi bahwa FinTech crowfunding berbasis syariah cocok diterapkan di negara Teluk seperti Saudi Arabia, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab and Oman yang rata-rata memiliki GNI perkapita cukup tinggi (kekuatan ekonomi berdasarkan paritas daya beli per orang per tahun).
Disebutkan Murniati, pada tahun 2017, Qatar merupakan negara tertinggi GNI nya yaitu USD 128,060 dan Oman terendah di antara enam negara Teluk yaitu USD 40,240. Dengan model Musyarakah dan Mudharabah, investasi ala FinTech syariah bisa menjangkau negara-negara dengan tingkat ekonomi rendah di sekitarnya seperti Iraq, Mesir, Sudan, Yemen, dan Somalia.
Hal ini sudah dipraktikkan oleh Singapura yang memiliki GNI per kapita sebesar USD 90,570 yang kemudian berhasil membawa ide investasi crowdfunding dibalut dengan FinTech syariah ke Indonesia. Dengan kemudahan teknologi dan pendekatan syariah ini, diharapkan dapat membantu Indonesia untuk meningkatkan GNI perkapitanya yang pada tahun 2017 tercatat sebesar USD 11,900.
“Misi keuangan syariah tidak bertumpu kepada meraup keuntungan semata, yang terpenting adalah menciptakan iklim usaha yang berkeadilan, memberantas kemiskinan dan mencapai tujuan syariah. Kesemuanya itu tetap menjadi prioritas walaupun telah ditransformasi di dalam format teknologi keuangan” ujar Murniati dalam keterangan resmi Tazkia yang diterima Gontornews (4/8) Sabtu siang. [Muhammad Khaerul Muttaqien]


















