Bandung, Gontornews — Peradaban yang paling agung sepanjang perjalanan dunia ini adalah peradaban Islam. Karena peradaban Islam telah banyak bersumbangsih pada peradaban dunia.
“Kita tengok apa yang telah dilakukan Khulafaur Rasyidin misalnya,” terang Ustadz Juhaman Suriah Al-Fahlawy. Sebagai contoh Khalifah Abu Bakar itu menyumbangkan peradaban di masa khilafahnya dengan mulai mengumpulkan ayat-ayat al-Qur’an.
“Dan ini adalah salah satu peradaban Islam yang manfaatnya akan terus dirasakan sampai hari Kiamat,” tambah sang ustadz. Walaupun dilatarbelakangi dari kecemasan Khalifah Umar akan banyaknya penghafal al-Qur’an yang gugur saat perang Yamamah.
Hingga kemudian, peran umat Islam dalam membangun peradaban dunia kembali terlihat jelas dengan peranan Khalifah Utsman bin Affan yakni pembukuan al-Qur’an di tahun 24 Hijriah. Jika tidak ada itu semua, bagaimana Islam bisa sampai ke kita dan anak cucu kita?
Sedangkan al-Qur’an berisi banyak sekali ilmu dan bekal manusia di dunia juga akhirat. Semua berkat sumbangan peradaban Islam yakni ajaran Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur’an al-Kariem.
Wakil Sekretaris Syar’i DPP Syarikat Islam ini pun menjelaskan bahwa ada tiga wasiat Rasulullah SAW untuk kemajuan peradaban Islam. Pertama, sodaqah jariyah karena merupakan bentuk keagungan atau kehebatan ilmu ekonomi untuk menciptakan kebangkitan ekonomi umat.
Sebab umat ini menjadi lemah, ketika ekonominya terpuruk. Sebagaimana ada keterkaitan yang erat antara pengusaha dan penguasa demikian sebaliknya.
Kedua, ilmu pengetahuan atau tekhnologi. Ketiga, anak sholeh sebagai pelaksana dari peradaban. “Karena sebaik apapun peradaban kalau orang yang melaksanakannya tidak beradab ya tidak berkualitas,” tambah sang guru, sebagaimana disampaikan dalam Majelis Qur’ani yang digelar oleh Hasbi Qur’an Indonesia (9/6/2022) lalu.
Untuk menyemangati para pejuang Islam saat ini, menjelang akhir pembicaraannya, Ustadz Juhaman berpesan bahwa setiap zaman ada tantangannya tersendiri untuk dapat dipecahkan dan tantangan generasi sekarang lebih berat dibanding dulu, seperti ilmu dan teknologi. “Sebagaimana dai zaman sekarang tidak hanya harus ahli fiqih, tapi juga ‘melek’ media sosial,” pungkasnya kepada Gontornews.com. <Edithya Miranti>


















