Bandung, Gontornews — Hari Raya Qurban sudah semakin dekat dan kini sudah banyak umat Muslim yang mulai mencari calon hewan qurban ke pedagang hewan yang juga menjajakannya. Namun, dibalik ajaran untuk berqurban tersebut, bisa jadi masih banyak kaum Muslimin yang belum memahami makna dibalik penyembelihan hewan qurban tersebut.
Menjawab pertanyaan di atas, Yayasan Hasbi Quran Indonesia pun kemudian menggelar Majelis Qur’ani bertajuk, Belajar Berkorban seperti Nabi Ibrahim pada Sabtu malam (11/6/2022). Hadir sebagai pemateri yaitu Ustadz Darlis Fajar SS dan kajian pada malam itu diadakan secara live via Zoom Meeting dan kanal Youtube secara gratis serta terbuka untuk umum.
Dalam pemaparannya, Ustadz Darlis menyampaikan bahwa ketika kita berqurban sejatinya Allah SWT tidak melihat dagingnya, hewannya, maupun darahnya. Namun yang Allah lihat kala itu ialah nilai ketakwaan hamba-Nya.
Sedangkan barangsiapa yang bersungguh-sungguh dalam ketakwaan in syaa Allah akan diberi kemudahan dan dibalas dengan kebaikan yang berlipat dari sisi yang tidak disangka-sangka. Sebagai contoh kisah seorang pemulung yang mampu berqurban sapi besar.
“Ada kasus pemulung yang dengan takwanya, menabung dan menghabiskan tabungannya untuk berkurban. Hewannya besar dan ia membeli tanpa menawar,” terang ustadz yang kerap berlogat Sunda tersebut kepada Gontornews.com. Akhirnya, lanjutnya, pengorbanannya dibalas Allah SWT salah satunya dengan tiket berangkat haji gratis.
Dan ingatlah ketika Allah menguji Nabi Ibrahim AS dan ia melaksanakan dengan sempurna. Disitulah kita bisa melihat tingkat ketakwaan, ketundukan, serta pengorbanan yang tinggi dari seorang hamba untuk bisa ikhlas menyerahkan amanah anak yang sudah lama dinantinya. Sedangkan setelah itu, Allah ganti semua yang telah diikhlaskannya dengan berlipat-lipat kebaikan, hingga hikmahnya pun masih dapat kita rasakan sampai detik ini.
Karena itu, dalam momentum Hari Raya Qurban nanti umat Muslim harus berupaya sekuat tenaga untuk berqurban. Memberikan yang terbaik karena di situlah akan terlihat kualitas keimanan kita. Namun jika sudah maksimal berusaha tapi masih gagal juga, maka la yukallifullaha nafsan Illa wus’aha. (Allah tidak akan membebani seorang, kecuali sesuai dengan kesanggupannya). <Edithya Miranti>























