Sekitar dua pekan lalu, 25 Juni 2024, Pondok Al-Barakah dipenuhi gegap gempita kemeriahan. Pondok yang seperti biasanya diisi dengan riuh rendah lalu lalang santri yang sibuk melalar kitab, kala itu berubah menjadi kawasan yang dipenuhi hiasan pesta serta lantunan shalawat pernikahan. Ternyata, Al-Ustadz Muhammad Rizki Nawari, SAg, anak pimpinan Pondok Pesantren Al-Barakah saat itu mengambil amanah baru sebagai seorang suami. Beliau yang baru lulus pengabdian S1 di Pondok Modern Darussalam Gontor lalu melanjutkan S2 di Universitas Gajah Mada, menikahi Al-Ustadzah Fatimah Wulan Purnamasari, SE yang juga lulusan pondok yang sama. Kala itu tidak ada yang kurang, semuanya seperti sempurna. Ibarat siklus pertanian, saat itu waktunya Pondok Al-Barakah Nganjuk memanen buah yang sudah lama ditanam dan diinvestasikan. Sang ayah yang juga pimpinan pesantren, Drs KH Rosyidin Ali Said bersama keluarga juga terlihat sangat bahagia akan perayaan agung ini. Arak-arakan menggunakan delman pun melengkapi kesenangan yang ada.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Pada Jumat, 28 Juni 2024, kabar mengejutkan datang. Berita yang menurut sebagian orang terlalu cepat dan bagi sebagian lagi yang memahami takdir Allah memang begitulah adanya. Drs KH Rosyidin Ali Said yang tiga hari sebelumnya ikut menyaksikan kenaikan fase anaknya, meninggal dunia pada pukul 13.00 WIB setelah dirawat di rumah sakit. Guncangan keras ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga pondok tetapi juga oleh seluruh pesantren jaringan alumni Gontor se-Indonesia.
Singkat cerita, beberapa hari setelah itu diumumkan jajaran pimpinan pondok pengganti dan Ustadz Rizki Nawari, sang pengantin baru, mendapatkan amanah sebagai salah satu pimpinan baru. Kami yang dulu pernah kenal selama pengabdian, meskipun tahu bahwa ia akan menjadi pimpinan pondok pada suatu saat, tak mengira tanggung jawab tersebut datang secepat itu. Tentu ini amanah besar. Bahkan sangat besar. Kedewasaan dan kemampuan beradaptasi kali ini benar-benar diperas habis. Bahkan keteguhan dan dukungan sang pendamping hidup dituntut lebih agar ia bisa bertahan dan Allah mengaruniakan ketetapan hati untuknya.
Saya teringat kisah Tom Kirkman, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan di Amerika Serikat, yang dipindahtugaskan menjadi duta besar Kanada, lalu tiba-tiba menjadi Presiden karena semua eksekutif lainnya tewas akibat bom di Gedung Putih. Tentu ini bukan kisah nyata. Meskipun sekadar karangan fiksi, sinopsis ringan dari series netflix Designated Survivor ini mengajarkan bagaimana seseorang yang sangat akademis dan teknis dituntut untuk menjadi politisi sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi negara sebesar Amerika. Tantangan yang ia hadapi belum pernah ia siapkan sebelumnya seperti bagaimana mendapatkan reputasi publik, bernegosiasi dengan lawan, membasmi teroris, bahkan membangun kembali Amerika yang sedang dilanda trauma terorisme kala itu. Pada akhirnya memang ia bisa memenangkan hati rakyat sekaligus memantapkan reputasinya sebagai kepala negara dengan prestasinya. Tentu jalan adaptasinya tidak mudah. Ia dibantu oleh orang sekelilingnya.
Pelajaran yang dapat kita ambil yaitu bahwa hidup ini penuh dengan wicked learning enviroment berupa liku-liku ruang belajar yang tidak dapat diprediksi. Tidak ada yang tahu pengalaman atau pembelajaran mana yang akan menjadi kekuatan kita di masa depan. Maka dari itu, terus belajar menjadi kunci untuk siap menghadapi setiap kemungkinan yang datang. Ini sejalan dengan apa yang ditulis oleh David Epstein dalam bukunya Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World. Epstein berpendapat bahwa menjadi seorang generalis memberikan kita kemampuan untuk melihat gambaran besar, untuk menghubungkan berbagai bidang pengetahuan, dan untuk memiliki fleksibilitas dalam menghadapi berbagai tantangan yang kompleks dan tak terduga.
Bayangkan jika seorang dokter spesialis saraf yang memiliki anak bayi mendapati lampu di rumahnya mati di tengah malam. Tentu kemampuan dan keberanian untuk sekadar mengganti lampu sangat dibutuhkan pada saat yang krusial itu dibandingkan harus menunggu tukang pada pagi harinya. Bayangkan juga seorang guru yang tidak memiliki pesangon yang cukup dari lembaga pendidikan yang ia perjuangkan. Tentu mental juang dan kemampuan berwirausaha sangat membantunya untuk bernafas lebih lega dibandingkan hanya mengeluhkan sistem, regulasi, ataupun industri. Setidaknya kita perlu menginvestasikan sedikit waktu untuk mengumpulkan hal-hal kecil sebagai bekal jika ada suatu hal yang tidak kita sukai terjadi.
Cerita tentang Ustadz Rizki Nawari dan Tom Kirkman dari serial Designated Survivor menjadi pengingat betapa pentingnya memiliki perspektif luas dan fleksibilitas dalam hidup. Mereka mengajarkan kita bahwa siapa pun bisa dipanggil untuk memikul tanggung jawab besar kapan saja. Selain itu, kisah di atas mengajarkan bahwa memiliki berbagai keterampilan dan pengetahuan merupakan keunggulan yang tak ternilai dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Maka, memperbanyak bekal apa pun merupakan jawabannya. Berbekal ilmu dan harta untuk esok dan berbekal ketakwaan serta amal shalih untuk esok lusa. []



















