Jakarta, Gontornews — Tokoh muda Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menilai peristiwa kecelakaan yang mendera Setya Novanto (Setnov) di Permata Hijauh penuh kejanggalan. Doli pun mengaku tidak pernah melihat Setnov menggunakan kendaraan sekelas Toyota Fortuner.
“Itu bukan levelnya,” kata Ahmad Doli sebagaimana rilis yang diterima Gontornews, Jumat (17/11) siang.
Doli menambahkan, jika pergi sekalipun, Setnov akan didampingi sejumlah ajudan pribadi serta patrol pengawalan polantas.
Tidak hanya itu, keinginan Setnov untuk pergi ke kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) malam itu tidak logis. Pasalnya, sebelum mengalami kecelakaan, Setnov menghilang dari rumah karena menghindar dari penjemputan paksa yang dilakukan KPK.
Doli pun mengatakan, dampak dari kecelakaan tersebut lebay. Kecelakaan semacam itu mustahil mengakibatkan luka parah seperti dugaan gegar otak yang disebutkan oleh pengacara Setnov, Fredrich Yunadi.
“Sulit untuk tidak bisa kita simpulkan bahwa semua itu adalah rekayasa Setnov untuk menghambat proses hukum yang sedang berjalan. Bila dilihat dari sepak terjangnya, saya menduga skenario berikutnya setelah kecelakaan ini adalah Setnov akan menyatakan dirinya gegar otak, amnesia, lupa ingatan, dan berharap kasusnya tidak dapat diteruskan. Dan bukan tidak mungkin kemudian berusaha izin berobat ke luar negeri sebagai bagian dari upaya melarikan diri,” ungkap Ahmad Doli.
Tapi, mereka lupa bahwa rakyat Indonesia saat ini tidak lagi bodoh. “Masyarakat kita sudah sangat cerdas dan mampu mengakses berbagai informasi serta menganalisisnya. Dan memang tidak perlu terlalu cerdas juga untuk menganalisis akal bulus Setnov itu,” paparnya.
“Oleh karena itu kita tinggal menunggu ketegasan, kecerdikan, dan gerak cepat KPK. Jangan biarkan lagi untuk kesekian kalinya mau dikelabui oleh Setnov. Rakyat sepenuhnya mendukung dan berada di belakang KPK. Langkah KPK untuk segera menerbitkan DPO adalah langkah cerdas, agar Setnov segera dapat ditahan,” tandas Ahmad Dolli sambil memberi tagar Generasi Muda Partai Golkar #savegolkar #saveindonesia. [Mohamad Deny Irawan]



















