Tunis, Gontornews — Kementerian Perhubungan Tunisia telah mengumumkan penghentian semua penerbangan Emirates Airlines ke dan dari Tunisia.
Pengumuman itu terjadi hanya dua hari setelah wanita warga Tunisia ditolak menaiki pesawat Emirates Airlines yang akan membawanya ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).
Kementerian Perhubungan mengatakan dalam sebuah pernyataan di laman Facebook, pihaknya telah memutuskan untuk menghentikan penerbangan Emirates Airlines ke dan dari Tunisia sampai perusahaan itu dapat mengoperasikan penerbangannya sesuai dengan hukum dan perjanjian internasional.
Menurut kantor berita Tunisia, Salem Zeabi, duta besar UEA untuk Tunisia, dipanggil ke Kementerian Luar Negeri pada hari Jumat untuk memberikan klarifikasi mengenai tindakan yang melarang perempuan Tunisia terbang ke atau transit melalui wilayah negara Teluk itu.
Zeabi dilaporkan mengatakan bahwa tindakan tersebut “bersifat sementara dan berkaitan dengan pengaturan keamanan”.
Sebelumnya pada hari Ahad (24/12), Anwar Gargash, menteri luar negeri UAE, juga menyebutkan keamanan sebagai alasan pembatasan perjalanan.
“Kami telah menghubungi saudara laki-laki Tunisia tentang informasi keamanan yang mengharuskan dilakukannya tindakan spesifik dan tidak langsung,” Gargash menulis di Twitter.
Dia juga mengatakan bahwa UEA menghargai dan menghormati wanita Tunisia. Ia menambahkan, “Kita harus menghindari upaya penafsiran dan kesalahan.”
Berbicara kepada Mosaique FM, sebuah stasiun radio Tunisia, salah seorang wanita menggambarkan pengalamannya di Bandara Internasional Tunis-Carthage pada hari Jumat.
“Ketika kami tiba di sini, kami menemukan situasinya sangat kacau. Mereka (staf Emirates Airlines) mengatakan kepada saya bahwa seorang wanita Tunisia berusia di bawah 30 tahun, dengan paspor Tunisia, tidak dapat naik Emirates,” katanya.
“Saya katakan kepada mereka bahwa itu hanya sebuah penerbangan transit – mereka mengatakan kepada saya, ‘Tidak, jangan menginjakkan kaki di pesawat’.”
Seorang calon penumpang wanita lainnya mengatakan bahwa pria dan anak laki-laki diizinkan naik ke pesawat – tapi bukan wanita di bawah usia 30 tahun.
“Anak perempuan dan ibunya tinggal di Tunisia tapi suami dan anak bisa melakukan perjalanan, apakah ini logis? Ini merendahkan martabatnya, merendahkan martabat wanita Tunisia, kewarganegaraan kita – untuk segalanya”.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat, Kementerian Perhubungan Tunisia mengatakan, tindakan semacam itu “tidak sah” dan “bertentangan dengan peraturan yang berlaku dalam penerbangan sipil internasional”. [Rusdiono Mukri]




















