New York, Gontornews — Lembaga Dana Darurat Anak, UNICEF, mencatat ada lebih dari 11.000 anak tewas atau terluka akibat konflik Yaman yang berkecamuk sejak tahun 2015. Karenanya, UNICEF, Senin (12/12/2022), meluncurkan penggalangan dana global baru bernilai miliaran dolar Amerika Serikat.
Pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan Houthi yang bersekutu dengan Iran telah meningkatkan perang ekonomi. Akibatnya, kesepakatan gencatan senjata antara kedua belah pihak yang PBB upayakan terhenti sehingga menyebabkan lebih banyak rasa sakit kemanusiaan.
“Pembaruan gencatan senjata yang mendesak akan menjadi langkah pertama yang positif yang memungkinkan akses kemanusiaan kritis,” ungkap Direktur Eksekutif UNICEF, Cahtherine Russell, kepada Reuters.
Meski demikian, UNICEF memprediksi bahwa jumlah tersebut jauh lebih besar mengingat data kematian tersebut adalah hasil verifikasi PBB. Pada bulan Apri, saat kedua pihak menyepakati gencatan senjata, ada 164 orang yang tewas atau terluka akibat ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak antara Juli dan September. 74 dari 164 orang yang tewas merupakan anak-anak.
Pekan lalu, UNICEF meluncurkan Aksi Kemanusiaan untuk Anak (HAC) senilai 10,3 Miliar Amerika Serikat pada tahun 2023 guna membantu anak-anak yang terkena dampak konflik dan bencana di seluruh dunia. Langkah ini bertujuan untuk mengumpulkan dana hampir 484,5 juta dolar Amerika Serikat untuk Yaman, sekitar tiga perempat populasi yang paling membutuhkan bantuan dan perlindungan di dunia.
“Ribuan anak telah kehilangan nyawa mereka, ratusan ribu lainnya tetap menghadapi risiko kematian akibat penyakit atau kelaparan,” sambung Russell.
UNICEF memperkirakan hampir 540.000 anak balita menderita gizi buruk akut di Yaman. Sejauh ini, UNICEF mencatat lebih dari 17,8 juta warga Yaman kekurangan akses ke air bersih, sanitasi dan layanan kebersihan dengan hanya terdapat setengah dari fasilitas kesehatan negara yang berfungsi. Lembaga dunia itu membuat 10 juta anak-anak Yaman tidak memiliki akses untuk mendapatkan perawatan.
Awal bulan ini, PBB dan para mitranya meminta bantuan dana sebesar 51,5 miliar dolar Amerika Serikat untuk tahun 2023. Angka ini meningkat 25 persen dari tahun 2022 atau lima kali jumlah yang mereka minta dalam satu dekade terakhir. [Mohamad Deny Irawan]





















