Ponorogo, Gontornews — Komitmen meningkatkan kualitas produksi bambu di Desa Mojorejo, Ponorogo, Jawa Timur, tidak hanya menyentuh aspek teknis dan pemasaran tetapi juga budaya kerja. Hal itu terlihat dalam kegiatan Sosialisasi 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin) yang menjadi bagian dari Program Pengembangan Desa Binaan (PDB) tahun kedua. Acara yang dilaksanakan di lokasi produksi Komunitas Rumah Bambu ini menghadirkan tim pengabdian Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sebagai fasilitator dengan dukungan penuh DPPM Kemdiksaintek.
Konsep 5R merupakan adaptasi dari prinsip manajemen mutu yang menekankan kedisiplinan dalam menjaga kerapian dan kebersihan lingkungan kerja. Tujuannya sederhana yakni menciptakan tempat kerja yang efisien, aman, dan menyenangkan, sehingga produktivitas meningkat dan kualitas produk terjaga. Menurut Rindang Diannita MKes, budaya 5R merupakan fondasi penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya indah secara fisik tetapi juga lahir dari proses produksi yang tertib dan profesional.
Dalam sesi pertama, perajin diajak memahami makna tiap unsur 5R. Ringkas berarti memilah barang sesuai kebutuhan dan menyingkirkan yang tidak berguna. Rapi mengajarkan penataan peralatan produksi agar mudah diakses. Resik menekankan kebersihan area kerja. Rawat mengingatkan pentingnya pemeliharaan alat. Sementara Rajin menekankan disiplin dan konsistensi dalam menjalankan keempat langkah sebelumnya.
Setelah pemaparan teori, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung. Perajin diminta menata ulang area kerja mereka. Alat-alat produksi yang biasanya diletakkan sembarangan, kini diberi tanda khusus dan ditempatkan di rak sesuai kategori. Bahan baku bambu dipisahkan antara yang siap pakai dan yang masih perlu diolah. Bahkan, area penyimpanan produk jadi juga ditata ulang agar lebih efisien dan mudah diinspeksi.
Hasil praktik menunjukkan perubahan signifikan. Lingkungan kerja yang sebelumnya tampak penuh sesak menjadi lebih lapang. Perajin mengaku lebih mudah menemukan peralatan mereka, sehingga waktu kerja bisa dipangkas. “Biasanya kami butuh sepuluh menit mencari palu atau pisau. Sekarang tinggal lihat rak, semua sudah ada tempatnya,” ujar Pak Sarmad, anggota Komunitas Deling Studio, sambil tersenyum.
Kegiatan ini juga menekankan aspek keselamatan. Dengan menerapkan 5R, risiko kecelakaan kerja dapat diminimalisir. Kabel listrik yang biasanya berserakan kini diikat rapi, peralatan tajam disimpan di tempat aman, dan area kerja dibersihkan dari sisa serbuk bambu yang licin. Fasilitator mengingatkan bahwa keselamatan kerja bukan hanya untuk melindungi pengrajin, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Selain itu, tim pengabdian mengaitkan 5R dengan nilai keislaman. Menurut Dr Nuraini MPd budaya kebersihan dan kerapian sudah menjadi bagian dari ajaran agama. “Islam mengajarkan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Maka 5R bukan hanya soal manajemen produksi, tetapi juga cermin akhlak dalam bekerja,” jelasnya. Penjelasan ini membuat perajin semakin termotivasi untuk menjadikan 5R sebagai bagian dari rutinitas harian.
Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen sederhana dari perajin untuk menerapkan 5R di tempat kerja masing-masing. Tim pengabdian berjanji akan melakukan kunjungan lanjutan untuk memantau penerapan budaya ini, sehingga tidak berhenti hanya pada sosialisasi.
Dengan adanya sosialisasi 5R, Desa Mojorejo tidak hanya menyiapkan produk bambu yang berkelas, tetapi juga membangun budaya kerja yang tertib, aman, dan bernilai. Budaya ini diharapkan menjadi pondasi kuat dalam mengangkat citra produk bambu Mojorejo di mata pasar, sekaligus menumbuhkan rasa bangga bahwa karya lokal lahir dari proses yang profesional dan berintegritas. [Edithya Miranti]





















