Depok, Gontornews — “Ibu hanya bisa mewarisi ilmu, tidak bisa mewarisi harta,” itulah kalimat yang disampaikan oleh Hj. Hafsah, ibu dari Ustadz Awalauddin Faj M.Pd.I ketika akan nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor.
Kenangan menuntut ilmu Ustadz Awaluddin Faj di Pondok Gontor menjadi cambuk dirinya untuk terus semangat dalam menuntut ilmu. Pasalnya, ia hampir gagal menyelesaikan belajarnya karena urusan ekonomi. Setiap akan ujian, ia merasa was-was karena tunggakan menumpuk.
“Setiap mau ujian, nama saya selalu ada stabilo tanda belum bayar,” kisah anak keempat atau ragil dari pasangan H. Moch Ishak dan Hj. Hafsah kepada Majalah Gontor.
Meskipun dengan kondisi yang terbatas, Awaluddin tetap semangat untuk bisa menuntaskan belajarnya di Pondok Gontor. Saat nyantri, ia diterima di kelas persiapan di Gontor 2 Ponorogo, lalu lulus dipindah ke Gontor 3 Kediri. Ia menjalani selama setahun di Kediri, lalu dipindah ke Gontor 1.
“Saat berada di ruang pertemuan Gontor 1, ibu saya memeluk saya dan mengatakan ibu yang tidak punya apa-apa bisa memondokkan di Gontor sambil menangis,” kenang Awaluddin yang lulus dari KMI Gontor tahun 2006.
Awaluddin merasakan fase terberat adalah ketika di kelas 4, Wali Kelasnya Ustadz Nur Hadi. Saat itu, bagian administrasi memberikan surat tagihan untuk orangtuanya karena menunggak lima bulan. Awaluddin pun pulang menyampaikan pesan dari pondok terkait administrasi.
“Saat itu ibu menangis, apalagi yang akan dijual, sawah bengkok sudah tergadaikan. Akhirnya dengan lapang dada saya pulang ke pondok. Saya sempat ijin ke teman-teman untuk pamitan pulang karena persoalan ini,” ujar lulusan ISID tahun 2011 ini.
Saat berkonsultasi ke wali kelas, Ustadz Nur Hadi menyarankan untuk bertahan sampai ujian lisan selesai, jika ujian lisan selesai namun belum bayar, maka itu menjadi takdir Awaluddin tidak bisa lagi di Gontor. Akhirnya ia pun fokus untuk mengikuti ujian hingga akhir.
“Alhamdulillah, para mudabir saat itu mengumpulkan uang untuk membayar administrasi. Di kelas 4 saya dapat nilai tertinggi, dan saya terus belajar dan istiqomah di Gontor,” ungkapnya.
Hingga pada masanya, Awaluddin melanjutkan kuliah di ISID. Masih persoalan yang sama ketika belajar di kampus ini, yaitu masalah keuangan. Karena semangatnya untuk bisa melanjutkan kuliah, ia pun berinisiatif membuat proposal untuk minta bantuan ke beberapa alumni.
“Namun kesalahannya adalah surat tersebut menggunakan kop surat kampus. Akhirnya saya dipanggil ustad Badrun. Akhirnya saya sampaikan apa adanya, akhirnya saya disuruh memanggil bapak. Dan setelah itu saya mengirim surat permohonan maaf ke para alumni yang pernah saya kirimi proposal,” kenangnya.
Karena persoalan keuangan, akhirnya saya berhenti kuliah. Ia pun hijrah ke Jakarta untuk mencari penghidupan. Hingga akhirnya ia diterima mengajar di Darut Tahfidz di Cikarang. Tiga bulan berada di Cikarang, tiba-tiba bapaknya nelpon dan mengatakan kalau ia akan bangga jika Awaluddin lulus sarjana di Gontor.
Setelah melalui diskusi dan pertimbangan, akhirnya Awaluddin kembali mengulang kuliah di ISID, padahal saat di Cikarang ia sudah direkomendasikan kuliah untuk membantu pondok. “Akhirnya saya kembali ke kampus di Gontor,” ujarnya.
Di kampus bersama adik-adik kelasnya, ia mendapatkan hikmahnya karena diamanahi sebagai Ketua Gugus Depan Pramuka, Ketua 2 Dewan Mahasiswa, dan setelah lulus dari ISID tahun 2011, ia pun mengabdi di UNIDA Gontor selama setahun.
Setelah menyelesaikan pengabdian, tahun 2012 ia hijrah ke Depok tepatnya di SD Nasional Plus, selama tiga bulan ia diangkat sebagai Wakil Kepala Sekolah dan menjadi tim perumus dan pendirian SMP Nasional Plus. Namun tahun 2015, ia resign dan melanjutkan bisnis agen tur edukasi Dirgantara.
“Tahun 2014, saya sudah mulai mengajar di bimbingan masuk Gontor di bawah IKPM. Lalu tahun 2015 saya banting setir mencoba mengcreate bidang jasa, yaitu jasa tour edukasi sekolah Dirgantara. Saya dengan Imran dan Adnan berkolaborasi membuat agen tour edukasi sekolah,” ujarnya.
Tahun 2016, ia pun membuat Yayasan Rumah Edukasi yang brandnya bernama Primago. Kemudian ia juga mengembangkan bisnis Rumah Hijabers bersama sang istri. “Alhamdulillah sekarang Rumah Hijabers memiliki 200 lebih reseller,” ungkapnya.
Seiring perjalanan waktu, ada salah satu anak bimbingan Primago yang nyantri di Gontor terkendala dengan biaya. Saat itu juga, ia teringat di mana ketika ia kesulitan untuk bisa lulus karena factor ekonomi. Akhirnya santri tersebut melalui kesepakatan para walimurid yang ada guyub membantu. “Alhamdulillah uang administrasi selama lima bulan terselesaikan,” ungkapnya.
Motivasi ini pula yang menginspirasi Awaluddin untuk mengcreate Primago pada tahun 2016. “Saya ingin ketika anak didik tiba-tiba tidak mampu, maka kami siap menolongnya. Sudah ada dua yatim yang sudah lulus, tahun ini akan kami kirim 4 yatim laskar langit. Kami ingin setiap tahun mengirimkan yatim ke Gontor semoga menjadi pasak bumi kami dalam mengembangkan Primago,” tegasnya.
Sejak berdiri, Primago setiap tahunnya menggratiskan 8-10 yatim untuk belajar persiapan masuk Gontor di Primago. Uniknya mereka tidak ada kewajiban untuk kembali ke Primago. Setiap tahunnya para santri yang belajar di Primago mengalami peningkatan.
Awal merintis tahun 2016 peserta didik yang belajar di Primago ada 100 anak, lalu tahun 2017 meningkat menjadi 200 anak. Dan tahun 2018 bertambah menjadi 250 anak. Bahkan setiap tahun yang konfirmasi ke nomor-nomor kami ada sekitar 1000 orang. “Meski tidak semua ikut program kita, tapi mereka mengikuti melalui buku-buku yang kami terbitkan,” ujarnya.
Tahun 2019 banyak orangtua yang menyarankan untuk membuat pesantren weekend untuk menata kemandirian anak, lalu pada satu kesempatan para orangtua menyarankan membuat boarding. Akhirnya ada dari beberapa orangtua yang memindahkan anaknya yang kelas 5 dan 6 ke Primago. “Padahal waktu itu kami belum ada ijin dan masih berinduk ke PKBM Mawadah,” jelasnya.
Akhirnya Primago menjadi Pesantren Modern, sebagai pesantren untuk persiapan masuk Gontor dan lembaga pendidikan tingkat SDI dan SMPI. Saat ini Primago telah memiliki lima lokal untuk putra di Limo Depok, dan satu lokal untuk putri yang berada di Cilodong, Depok.
Semua rumah yang ditempati oleh anak didik Primago statusnya masih sewa. Namun demikian, Awaluddin telah mengikrarkan diri, jika kelak Primago mempunyai asset, maka akan langsung diwakafkan untuk pengembangan Pesantren Modern Primago.
“Jika Primago punya aset kami sudah berikrar untuk kami wakafkan, saat ini yang saya wakafkan hanya tenaga untuk Primago, karena memang belum punya asset,” tuturnya.[Fath]


















