Depok, Gontornews — Ustadzah Nabilah Abdul Rahim Bayan Lc MA, Juri Hafidz Indonesia, pada Ahad sore (6/3/2022) secara gamblang menjelaskan tiga kesalahan besar para penghafal al-Qur’an.
Kepada Gontornews.com, Ustadzah Nabilah menyebutkan bahwa selain kurang memahami keutamaan al-Qur’an, beberapa kesalahan penghafal al-Qur’an lainnya yakni dimulai dari yang pertama adalah perkara hati.
Dari perkara hati ini yang pertama akan dibidik adalah perkara niat. “Maka, pastikan niatnya mempelajari al-Qur’an adalah semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT,” tekan ustadzah kelahiran Mekkah tersebut.
Ketika Allah sudah mengizinkan kita untuk membuka al-Qur’an, membacanya, bahkan menghafalkannya, itu rezeki yang besar bukti kasih sayang Allah untuk kita. Untuk menjadi temannya al-Qur’an, itu bukan hal yang mudah. “Karena setan pasti akan menggoda kita,” tambah Pimpinan Pondok Pesantren Ibnu Syam itu.
Maka, lanjutnya, jangan sampai kita salah niat, menghafal al-Quran hanya untuk dipuji bukan untuk mencari ridha Allah. “Perkara niat ini kita jangan menyepelekannya dan harus selalu diingatkan kembali, alasan terbesar kenapa kita harus menghafal al-Qur’an,” tegas sang guru di hadapan ratusan jamaah yang hadir dalam Zoominar Bedah Fitur Murajaah Planner Second Edition; Kesalahan-Kesalahan Para Penghafal Al-Qur’an.
Masih berkaitan dengan hati, hal kedua yang harus diperhatikan ialah dosa. Pengaruh dosa kepada para penghafal ini luar biasa. Bagi ahlu Qur’an sangat penting untuk menjaga perilakunya, adabnya, bahkan salah satu contoh yakni tertawa terbahak-bahak saja tidak dibolehkan, tidak seperti orang lain.
Hal ketiga sabar. “Proses menghafal itu menurut saya pribadi susahnya hanya di awal saja, mungkin karena belum menemukan polanya saja, tapi jika sudah menemukan polanya maka bisa cepat,” tutur Ustadzah Nabilah.
Karenanya seorang penghafal al-Qur’an harus sabar dan mempunyai tekad yang tinggi. Sebab jika mau, maka akan ada seribu cara, tapi kalau tidak mau, maka akan ada seribu alasan, termasuk dalam hal mempelajari al-Qur’an.
Berkaitan dengan metode, hafidzah tiga puluh juz al-Qur’an ini pun menyarankan bahwa cara menghafal al-Qur’an ada beragam dan tergantung dengan tipe masing-masing individu.
“Alhamdulillah di Indonesia ada banyak metode, kalau saya sendiri, tujuan dari segala metode itu harus ada satu, harus diulang,” tambahnya. Harus tikrar. Dan ini yang membuat para penghafal al-Qur’an itu bosan. “Sedangkan para penghafal al-Qur’an itu susahnya menjaganya bukan menambahnya,” pungkas wanita kelahiran tahun 1992 tersebut. [Edithya Miranti]






















