Brussels, Gontornews — Program penanganan pandemi WHO berencana untuk mengirimkan 100 juta dosis vaksin Covid-19 asal Cina mulai akhir bulan depan. Sebagian besar ratusan juta dosis vaksin tersebut akan terkirim ke negara-negara Afrika dan Asia.
WHO menganggap pengiriman vaksin asal Cina ini akan membantu program berbagi vaksin COVAX yang sejauh ini gagal. Pada awal programnya, COVAX menargetkan pendistribusian 2 miliar dosis vaksin Covid-19 ke negara miskin atau berpenghasilan rendah. Namun, pasokan vaksin terkendala sejumlah aturan mulai dari masalah pasokan hingga pembatasan ekspor dari produsen utama.
Bagai Cina, pendistribusian vaksin ini merupakan bagian dari diplomasi bagi Beijing. Rencananya, 100 juta dosis vaksin yang akan didistribusikan terbagi menjadi dua produsen yaitu: Sinopharm dan Sinovac. WHO, dalam dokumen yang dilansir Reuters, berencana melakukan pendistribusian mulai Juli hingga September 2021 mendatang.
Juru bicara Global Alliance for Vaccines and Immunization (GAVI), yang memimpin program COVAX, menyebut Cina akan mengirim 10 juta dosis vaksin Sinopharm pada pertengahan Agustus mendatang. meski demikian, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Cina maupun dua perusahaan farmasinya, Sinoparhm dan Sinovac, tentang jadwal pengiriman vaksin.
Sejauh ini, vaksin asal Cina telah dialokasikan ke 60 negara, sebagian besar di Afrika, yang diperkirakan akan menerima sepertiga dari 100 juta dosis yang akan diberikan. Masalahnya, tidak semua negara Afrika menyetujui kehadiran vaksin asal Cina tersebut.
Afrika Selatan misalnya. Sedianya, mereka akan menerima alokasi 2,5 juta dosis vaksin Sinovac melalui skema COVAX. Namun, Reuters menyebut negara tersebut tidak berada dalam posisi dapat menerima vaksin tersebut.
“Tidak ada informasi yang cukup tentang efektifitas terhadap varian Delta dan tidak ada data tentang Sinovac pada populasi pasien HIV,” sebut Wakil Direktur Jenderal Departemen Kesehatan Afrika Selatan, Nicholas Crisp.
“Kami belum menerima COVAX Sinovac karena terlalu dini dalam proses evaluasi dan perencanaan kami,” sambung Crisp.
Selain Afrika Selatan, Nigeria juga menolak kedatangan vaksin Sinovac. Sedianya, Nigeria mendapatkan alokasi 8 juta dosis Sinopharm. Mereka menyetujui kedatangan vaksin Sinopharm tetapi menyebut vaksin asal Cina tersebut sebagai ‘opsi potensial’ dari kampanye inokulasi negara itu.
Negara-negara Afrika lain seperti Kenya, Rwanda, Togo dan Somalia, tidak sependapat dengan kedua negara di atas. Mereka mengatakan tidak khawatir dengan efikasi vaksin asal Cina tersebut dan berdalih WHO telah memberikan rekomendasi vaksin tersebut. [Mohamad Deny Irawan]






















