Bengaluru, Gontornews — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang varian baru virus korona di India. “Varian virus negara tersebut menimbulkan kekhawatiran global.”
Kasus harian virus korona di India bertambah 329.942, sementara kematian akibat penyakit itu bertambah 3.876, menurut kementerian kesehatan. Total infeksi virus korona di India sekarang mencapai 22,99 juta, sementara total kematian naik menjadi 249.992.
India memimpin dunia dalam jumlah rata-rata harian kematian baru yang dilaporkan. Menurut penghitungan Reuters sebagaimana dirilis Hurriyetdailynews.com, satu dari setiap tiga kematian yang dilaporkan di seluruh dunia setiap hari tercatat di India. Rata-rata tujuh hari kasus baru berada pada rekor tertinggi 390.995.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan varian virus korona yang pertama kali diidentifikasi di negara itu tahun lalu diklasifikasikan sebagai varian yang menjadi perhatian global. Sejumlah studi pendahuluan menunjukkan bahwa virus itu menyebar lebih mudah.
“Kami mengklasifikasikan ini sebagai varian yang menarik perhatian di tingkat global,” ujar Maria Van Kerkhove, kepala teknis WHO tentang COVID-19, di Jenewa pada 10 Mei. “Ada sejumlah informasi yang menunjukkan peningkatan penularan.”
Meski bangsa-bangsa di seluruh dunia telah mengirimkan tabung oksigen dan peralatan medis lainnya untuk membantu krisis di India, tetapi masih banyak rumah sakit di negara itu yang sedang berjuang mengatasi kekurangan peralatan penyelamat jiwa itu.
Sebelas orang meninggal pada 10 Mei di sebuah rumah sakit pemerintah di Tirupati, sebuah kota di negara bagian Andhra Pradesh, karena keterlambatan kedatangan sebuah kapal tanker yang membawa oksigen, kata seorang pejabat pemerintah.
“Ada masalah dengan kebutuhan oksigen karena ketersediaan yang rendah. Itu semua terjadi dalam rentang lima menit,” kata M Harinarayan, birokrat tertinggi di distrik itu mengatakan pada 10 Mei. Namun sekarang rumah sakit SVR Ruia itu memiliki oksigen yang cukup.
Enam belas anggota fakultas dan sejumlah pensiunan guru dan karyawan yang tinggal di kampus Universitas Muslim Aligarh, salah satu yang paling bergengsi di India, telah meninggal karena virus corona, kata universitas tersebut.
Pemerintah India telah memberi tahu dokter untuk mencari tanda-tanda mukormikosis atau “jamur hitam” pada pasien COVID-19 karena rumah sakit melaporkan peningkatan kasus infeksi yang jarang tetapi berpotensi fatal.
Penyakit yang dapat menyebabkan hidung menjadi hitam atau berubah warna, penglihatan kabur, nyeri dada, kesulitan bernapas dan batuk darah, sangat terkait dengan diabetes. Dan diabetes dapat diperburuk oleh steroid seperti deksametason, yang digunakan untuk mengobati COVID-19 yang parah.
Para dokter di negara itu juga memperingatkan praktik penggunaan kotoran sapi untuk menangkal COVID-19. Sebab, tidak ada bukti ilmiah untuk keefektifannya dan bahkan berisiko menyebarkan penyakit lain.
Di negara bagian Gujarat di India barat, sejumlah orang mendatangi kandang sapi sepekan sekali untuk melumuri tubuh mereka dengan kotoran sapi dan air kencing sapi dengan harapan itu akan meningkatkan kekebalan mereka terhadap virus corona, atau membantu mereka pulih dari virus.
“Tidak ada bukti ilmiah bahwa kotoran sapi atau urin berfungsi untuk meningkatkan kekebalan terhadap COVID-19, itu sepenuhnya didasarkan pada keyakinan,” kata Dr JA Jayalal, presiden Indian Medical Association.
Gelombang kedua virus corona di India telah meningkatkan seruan untuk penguncian nasional dan mendorong semakin banyak negara bagian untuk memberlakukan pembatasan yang lebih ketat, yang berdampak pada bisnis dan ekonomi yang lebih luas.
Produksi Apple iPhone 12 di pabrik Foxconn di negara bagian Tamil Nadu telah merosot lebih dari 50 persen karena pekerja yang terinfeksi COVID-19 harus meninggalkan pos mereka.[]




















