Jakarta, Gontornews — Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Al Azhar Peduli Ummat (APU), Sigit Iko Sugondo, terus berupaya mengedukasi masyarakat akan manfaat dana zakat. Menurutnya, jika masyarakat dapat bersama-sama membayar ZIS ke Badan atau Lembaga zakat, maka masyarakat akan melihat hasil pendayagunaan dari dana zakat itu.
Sebagai lembaga zakat, LAZ Al Azhar fokus pada program pemberdayaan untuk mengentaskan kemiskinan.
“Pemberdayaan kita komprehensif, tidak parsial. Kalau parsial kan sektor pendidikan sendiri, sektor kesehatan sendiri, sektor ekonomi sendiri. Namun, dalam pemberdayaan ini diperlukan pendamping yang tinggal bersama mereka sampai pada tahapan eksis,” ucapnya.
Sigit menjelaskan, ada beberapa fase dalam pemberdayaan yang dijalankannya. Ada penerima manfaat yang sifatnya individu, ada yang sifatnya keluarga.
“Levelnya kan individu dulu, baru ciptakanlah individu yang mandiri, individu kan membentuk keluarga, jadikan keluarga berdaya. Nah keluarga berdaya terdiri beberapa keluarga terbentuklah kelompok namanya kelompok swadaya masyarakat (KSM),” imbuhnya.
KSM ini, kata dia, adalah bentuk kelembagaan lokal dari beberapa orang atau keluarga yang memiliki tujuan yang sama untuk meningkatkan hajat ekonominya.
Sedangkan Sejuta Berdaya adalah bagaimana kita memberikan akses keuangan bagi keluarga atau usaha yang sudah sampai pada kecukupan kebutuhan sejahtera, tapi keluarga ini perlu pengembangan diri, pengembangan usaha. “Nah pembiayaan tipe seperti ini kan belum bisa mengakses pembiayaan dari pihak manapun, maka kita melakukan program sejuta berdaya. Jadi dia harus punya sumber penghasilan dulu lalu dia membutuhkan pembiayaan, kita siapkan pembiayaan berupa pinjaman tanpa riba Qardh Hasan melalui kelompok swadaya mandiri. Salah satunya seperti di KSM Pelita Jampang Gemilang,” jelasnya.
Praktik riba yang mencekik rakyat kecil masih banyak ditemui di Indonesia. Di antaranya adalah Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat. Karena kurangnya modal, bak gayung air bersambut tak jarang untuk memenuhi kebutuhan banyak yang pergi ke rentenir walaupun dengan bunga yang sangat tinggi. Di antara situasi itulah Cahyadi terketuk hatinya untuk mendirikan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pelita Jampang Gemilang yang bekerjasama dengan LAZ Al Azhar untuk memberdayakan masyarakat di sekitar rumahnya itu.
Melalui KSM yang didirikannya pada akhir tahun 2013 silam Cahyadi mengajak warga untuk hidup berekonomi sesuai syariat. Sebagai gantinya, ia menggandeng LAZ Al Azhar memberdayakan UMKM yang terkendala modal. “Untuk pinjam (modal) yang kita jalankan ada program sejuta berdaya. Minimal 1 juta maksimal 5 juta. Tergantung usahanya. Itu kita siapkan wadah agar tidak pinjam ke rentenir,” jelasnya.
Dikatakan Cahyadi, anggota yang dibinanya berjumlah 35 anggota mulai dari jenis usaha warung sembako, perajut keset, hingga budidaya ikan cupang yang beromset jutaan rupiah per bulan. Sedangkan yang tidak menjalankan usaha, kata Yadi, pihaknya hanya membantu pinjam putus. “Kadang-kadang berupa uang, karena kebanyakan untuk beli beras. Tapi kita sarankan kalau bisa ciptakan peluang usaha. Karena kalau untuk konsumsi akan habis, beda kan kalau untuk usaha,” katanya.
Selain memberikan modal usaha nonriba, pihaknya memberikan pembinaan dan pendampingan. “Ada penilaian sejauhmana dia usaha. Kadang kita memberikan penyuluhan tentang usaha itu harus seperti ini, harus ada nilai jualnya untuk meningkatkan kualitas dan penjualan agar tidak kalah saing. Mereka, juga dimotivasi bahwa tantangan ekonomi ke depan akan berat sehingga perlu bekal yang matang agar mampu bersaing,” ungkapnya.
Bukan hanya itu, anggota juga diwajibkan untuk membuat dapur hidup di halaman rumah untuk menekan angka belanja keluarga. Selain itu, masyarakat diwajibkan untuk menghadiri pengajian mingguan untuk mengasah keimanan. Dijelaskannya memang ada anggota yang macet. Namun pihaknya memaklumi hal tersebut bagian dari risiko. “Karena pelaku usaha tidak semuanya mulus dalam berdagang, makanya kita ada pendampingan melalui pertemuan sebulan sekali,” jelasnya.
Di situ, kata dia, yang bersangkutan ditanya apa kendalanya, apakah pendapatan cuma sedikit sedangkan pengeluaran banyak, lalu dicari solusinya. “Kalau kita bisa bantu kita bantu. Sekarang yang macet Alhamdulillah cuma dua orang dari 35 orang,” ujarnya.
Ia pun berharap ke depannya KSM yang didirikannya bisa terus maju dan berkembang agar dapat membantu warga untuk hidup berekonomi yang Islami. [Muhammad Khaerul Muttaqien]





















