Surabaya, Gontornews – Para cucu pendiri Nahdhatul Ulama (NU) mulai gusar dengan langkah-langkah PBNU saat ini. Terakhir terkait dengan amandemen istilah “kafir”.
Bagi Agus Solachul A’am Wahib, cucu KH Wahab Chasbullah (salah satu pendiri NU), saat ini penyimpangan di PBNU bukan sekedar penggiringan politik. Tapi sudah masuk wilayah aqidah.
“Mereka tidak merasa salah, sebaliknya merasa lebih pintar. Pembahasan kata kafir dalam Munas NU, semakin memperjelas ke mana NU akan dicampakkan,” ujarnya sebagaimana dirilis duta.co.
“Tidak perlu orang pintar, masyarakat awam saja paham, bahwa semua itu kepentingan politik. NU sudah dijadikan alat politik. Mereka tidak lagi peduli, bagaimana kecewanya para muassis NU, bagaimana kecewanya para dzurriyah muassis,” tegasnya.
Agus Solachul A’am Wahib, yang akrab disapa Gus A’am, mengatakan hal itu merespon hasil halaqah ke-6 Komite Khitthah (KK) NU di Pondok Pesantren Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Jawa Barat, Rabu (6/3).
Gus A’am mengaku sudah keliling daerah, merapatkan barisan pendukung Komite Khitthah 1926 Nahdlatul Ulama (KK 26 NU). “Ribuan kiai dan habaib menyatakan siap berada di belakang dzurriyah muassis NU demi menyelamatkan organisasi yang kini menjadi kuda troya politik serta dalam kepungan kaum liberal,” papar Gus A’am dikutip duta.co, Kamis (7/3).
“Para pecinta NU dari berbagai daerah itu merasa terpanggil,
memberikan ghirah yang tinggi ingin NU benar-benar kembali ke khitthah. Bahkan
mereka ingin NU kembali ke Jombang, kembali ke dzurriyah muassis. Karena yang
ada sekarang telah melakukan penyimpangan besar-besaran.”
Gus A’am mengisahkan, sejumlah kiai dan habaib di Pasuruan, Jawa Timur, sudah
menggelar pembacaan hizib dan doa istighatsah. Mereka mendoakan agar NU
secepatnya kembali ke khitthah 1926. [Rusdiono
Mukri]





















