Bandung, Gontornews – Sejumlah ulama, akademisi dan habaib dari kalangan Nahdhatul Ulama (NU) menghadiri halaqah ke-6 Komite Khitthah (KK) NU di Pondok Pesantren Al-Qutub, Cipadung, Cibiru, Bandung, Rabu (6/3). Mereka datang dari berbagai daerah seperti Kalimantan, Sulawesi, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta.
Mereka antara lain Prof Dr H Juhaya S Praja MA (pengasuh PP Al-Qutub), KH Salahuddin Wahid/Gus Solah (Ketua KK 26 NU), KH Hamdi Suyuthi Abdul Jabar (santri Kiai Hamid Baidlowi, Lasem-Jawa Tengah), dan Habib Abdullah bin Ali Al Hadad dari Jakarta.
Prof Dr Ahmad Zahro bertindak sebagai moderator. Ia menyebutkan, ini adalah halaqah paling hidup. Bukan karena dihadiri banyak kiai, habaib dan akademisi. Tapi halaqah ke-6 kali ini berhasil menginventarisasi masalah yang melilit NU saat ini.
“Ini halaqah paling hidup. Kita tinggal merumuskan bagaimana cara menyelamatkan NU secepatnya dari tangan para politisi maupun kaum liberal yang merusak NU dari dalam. Silakan hadir dalam pertemuan tertutup Kamis 14 Maret di Pondok Pesantren Tebuireng. Kita bisa bicara sak ketoke (sepuas-puasnya),” ujar Prof Ahmad Zahro seperti dikutip duta.co.
Sementara itu Habib Abdullah bin Ali Al Hadad dari Jakarta mengatakan, NU harus segera diselamatkan dari tangan para politisi. “Hari ini NU sudah dirusak oleh pengurusnya sendiri. Ini membuat semakin banyak orang membenci NU,” paparnya.
Ia melanjutkan, “Saya teringat kekhawatiran Al Habib Salim
bin Djindan tahun 1965-an. Apa masih ada NU ke depan? Sekarang ini NU hanya besar
di suaranya, orangnya gak ada. Ke
mana NU sekarang? Betapa PBNU hari ini sulit menggerakkan warganya.”
Menurutnya, ini semua karena perbuatan pemimpin NU yang keluar dari relnya. “NU
sekarang sudah tidak seperti kereta api yang jelas rutenya, melainkan seperti
taksi yang mudah dipesan (orang) sesuai kepentingan.”
“Saya berharap KK ini bergerak cepat dan masif. Kita tidak mau NU diacak-acak.
Sekarang ini pengurus NU tidak hanya merusak NU dari sisi politik, tetapi agama
(aqidah) juga diacak-acak. Kita tidak rela NU dijadikan alat mencari duit.
Kasihan para pendiri, beliau mengutuk kita. Kita tidak ingin NU seperti ini,”
tegasnya dikutip duta.co.
Habib Abdullah juga menyesalkan politisasi organisasi (NU) yang dilakukan ketua
umumnya. Termasuk pernyataan tentang Luhut Binsar Panjaitan yang disebutnya sebagai
perwakilan NU di Kristen.“Orang Kristen saja gak mau seperti itu. Belum lagi soal tentara Cina yang katanya
tidak ada Indonesia kalau tidak ada Cina. Ini kelewatan dan wajib diganti.
Sekarang, carilah presiden yang tidak mendukung kepemimpinan dia. Jangan diam
saja, Alhamdulillah ada komite khitthah, terus terang saya sedih melihat NU
sekarang,” ungkapnya.
Hal senada dikatakan KH Hamdi Suyuthi Albdul Jabar, santri Kiai Hamid Baidlowi
(Lasem-Jawa Tengah). Menurut Gus Hamdi, NU harus menjadi gerakan sipil, bukan
gerakan politik partisan seperti ini. “Saya ini diutus oleh Kiai Hamid untuk
mencermati penyimpangan pengurus NU. Dan kita lihat sudah lama (pengurus) NU
menyimpang. Saya selalu ikuti ceramah Kiai Said Aqil, dari sini jelas NU sudah
dijangkiti paham Syiah. Jadi, NU Lasem sudah lepas diri dari PBNU sekarang,”
tegasnya.
Menurut Gus Hamdi, bila NU masih dipegang orang-orang liberal, tidak akan lebih
baik, justru lebih bejat. Semua ini akibat orang-orang liberal. Mereka ini
tidak berhaluan ahlussunanah waljama’ah.
Ironisnya mereka berkolaborasi dengan kekuasaan. “Karena itu, kalau ingin NU
selamat jangan pilih 01. Kalau sampai 01 menang, NU tidak akan selamat. Mereka
ini menghancurkan NU,” tandasnya seperti dikutip duta.co. [Rusdiono Mukri]





















