Aceh, Gontornews — Hari ini, Senin (26/12/2022), masyarakat Aceh memperingati 18 tahun bencana gempa dan tsunami 2004. Gempa dan tsunami 26 Desember 2004 menjadi bencana alam yang paling membekas bagi masyarakat Aceh, dan menjadikan bencana alam paling dahsyat pada abad ini.
Lokasi itu kini sudah dijadikan tempat wisata religi untuk membuktikan dahsyatnya gelombang tsunami pada 26 Desember 2004 silam.
Kubah berwarna hitam tersebut terbawa gelombang tsunami sejauh 2,5 Kilometer dari lokasinya.
Dahsyatnya gelombang tsunami setinggi 30 meter tersebut membawa kubah Masjid Gurah yang sebelumnya Mesjid Jamik berasal dari Desa Lamteungoh, Peukan Bada, Aceh Besar.
Kubah seberat 80 ton tersebut saat ini lebih dikenal dengan nama Masjid Al-Tsunami.
Saat ini, Masjid Gurah hanya dijadikan sebagai objek wisata dan terdapat satu mushalla yang digunakan sebagai tempat ibadah untuk para pengunjung.
Letak kubah saat ini berada di tengah sawah, di pinggiran bukit Desa Gurah. Sawah itu dulu milik warga, namun telah diwakafkan untuk dudukan kubah tersebut.
Kubah ini juga disebut sebagai kapal penyelamat. Banyak orang menyelamatkan diri dengan naik ke atas kubah saat tsunami menerjang.
Awal kubah ditemukan, warga juga menemukan beberapa kitab suci Al-Quran yang telah terendam gelombang tsunami di lokasi kubah. Saat ini Al-Quran yang telah hancur itu disatukan dalam sebuah wadah kaca.
Kubah Masjid Al-Tsunami kini menjadi salah satu destinasi wisata di Aceh. Untuk menjaga dan merawat situs kubah masjid itu, pemerintah telah membangun sarana dan prasarana kawasan objek wisata tersebut dengan anggaran Rp6,4 miliar lebih pada tahun 2022.
Mesjid Gurah yang saat ini memiliki lahan taman seluas kurang lebih 2 hektare (ha) tersebut menjadi salah satu jejak tragedi Aceh pada tahun 2004 yang menewaskan ratusan ribu jiwa itu. [Fath]






















