Oleh Dedi Junaedi
Wartawan dan Dosen INAIS Bogor
Sains dan teknologi terus berkembang. Kian lama semakin cepat dan canggih. Seorang futurolog memprakirakan, kemajuan sains memungkinkan lahirnya species baru: Homo optimus. Generasi baru manusia super yang jauh lebih unggul dari manusia modern.
Sehebat apa pun manusia masa kini masih punya banyak keterbatasan. Sesehat apa pun dia akan menjadi tua dan akhirnya mati. Secerdas apa pun Homo sapiens sapiens tetap saja tidak dapat menjadi mesin yang dapat beraktivitas siang malam, tanpa istirahat. Dia masih mungkin sedih, jenuh, benci, bosan bahkan marah saat menjalani tugasnya, sekalipun itu profesi yang dicintainya.
Tetapi, Superhuman kelak akan menjadi organisme yang superluwes. Homo optimus, menurut
futurolog Ian Pearson, kelak akan menjadi makhluk superior dalam segala bidang. Kuat nalarnya, tahan fisiknya, gesit geraknya, luwes sikapnya, dan emosinya akan selalu terjaga. Dia merupakan makhluk hibrid antara manusia dan supercomputer. Dia akan menjadi makhluk digital yang tidak kenal sakit dan kematian, kecuali jika dia sendiri menginginkannya.
Generasi baru manusia super itu akan muncul tahun 2050. ‘’Dia akan menjadi pesaing terkuat dari generrasi anak dan cucu kita. Jika berusia 30-an sekarang, mungkin dapat menyaksikannya,’’ ungkap Pearson dalam The Big Bang Fair 2016. Big Bang Fair merupakan perayaan tahunan terbesar di Inggris. Di dalamnya ditampilkan sejumah perkembangan terahir dan mutahir
Kepada Daily Mail (2/2), dia menyatakan percaya bahwa dalam 35 tahun ke depan, manusia akan ‘hidup’ serba online. Bahkan bisa berbicara dengan hewan peliharaan. Ia mengklaim ide transhumanisme muncuk akibat dorongan teknologi yang lebih baik dan akan mencapai puncaknya pada tahun 2050.
‘’Dengan optimalisasi genom, kinerja manusia semakin tinggi, lebih cerdas, lebih kuat secara fisik, lebih terjga emosinya, lebih sehat dan lebih indah kehidupan sosial ekonominya,” jelasnya.
Dengan sinergi kemajuan teknologi android, secara bertahap eksistensi Homo sapiens pelan tapi pasti akan digantikan oleh Homo Optimus.
“Kita bisa berharap proses evolusi dapat mengikuti proses teknologi. Sejumlah perubahan dan perbaikan terjadi sebagai respon terhadap kemajuan teknologi,’’ ungkap Ian Pearson. Dia mengklaim bahwa dalam 35 tahun ke depan, manusia akan dapat berkomunikasi dengan komputer yang punya inderawi yang lebih baik, termasuk kapasitas memori dan kecerdasannya. Kulit emas elektronik dan implan kecil antar sel-sel bisa mengaktifkan aneka jaringan dan organ, termasuk otot buatan.
Manusia berpotensi menjadi ‘peri’ eksplorasi antariksa. Dr Pearson menjelaskan, sebagian besar wisatawan ruang angkasa akan lebih seperti per dengan sayap yang akan memudahkannya berkeliling di medan gravitasi nol.
Perkembangan bioteknologi dan nanoteknologi akan memungkinkan manusia mengembangkan otak kecil dengan kemampuan lebih besar. Sementara sisa tubuh lain dapat diperkecil sesuai harapan. “Manusia akan semakin kreatif dan indah merencanakan masa depa nya. Termasuk mengendalikan mimpi kita sendiri dengan imaji yang nyaris tanpa batas.”
Dr Pearson percaya bahwa kemajuan teknologi masa depan memungkinkan orang memiliki beberapa eksistensi dan identitasnya, serta melanjutkan hidup berkelanjutan atau lebih lama bahkan setelah kematian sosok biologisnya” tegasnya,
Perkiraan sementara, teknologi ini dapat tersedia sekitar tahun 2050. Populasinya akan tumbuh signifikans pada tahun 2.070.




















