Maka saya sekedar meramal, tapi bukan ramalan buntut. Dikatakan doa, boleh! Yang ada ini saja. Kamu bisa mendirikan pondok pesantren yang besar, yang nanti bisa lebih besar dari Pondok Modern Gontor. Bisa! Tidak mustahil. Kapitalmu sekarang saya anggap lebih dari kapital saya. Alat-alat sekarang lebih lengkap dari waktu saya dahulu. Pondok pesantren pun demikian.
Tegal Sari ketika itu dikatakan paling masyhur. Kiainya besar. Sebelum Tegal Sari itu betul-betul maju, sudah ada pondok pesantren sebelumnya. Yaitu Pondok Setono. Kiai Ageng Muhammad Besari pertama itu belajarnya dulu di Setono. Sekarang pondoknya juga masih. Tapi yang besar nantinya Tegal Sari.
Sekarang dikatakan orang yang besar itu Gontor. Ada yang menulis di surat kabar, Gontor itu titisan Tegal Sari. Tegal Sari menjelma menjadi Gontor. Sekarang Tegal Sari juga masih hidup. Maka, kalau kamu sungguh-sungguh bisa!
Sekarang ini di Kalimantan, Sumatera, yang mendirikan pondok dari permulaan seperti Gontor sudah banyak. Itu nanti mungkin – katakan 50 tahun lagi – akan menjadi pondok pesantren besar-besar. Sekarang ini yang jelas sudah ada: Ngabar, Prenduan, Pabelan, Gintung, dan lain-lain. Nanti mungkin akan lebih dari itu. Kalau dulu lain dengan sekarang. Kalau dulu muballigh tidak perlu tahu arti mes, pupuk urea. Tetapi zaman sekarang muballigh harus mengerti pupuk urea dan lain-lain. Ini perbedaannya.
Maka pelajaran-pelajaran di sini tidak seperti pelajaran di pondok-pondok dahulu. Harus mengikuti zamannya. Tapi jangan hanyut! Kalau mengikuti zamannya; kalau begitu anak-anak ini supaya mengikuti ujian Aliyah saja! Kalau kita disamakan dengan Aliyah saja, namanya hanyut dan salah. Ini semua, supaya kita mempunyai pegangan yang mantap.
Seperti saya katakan di muka, kita harus mengetahui mana yang sebab dan mana yang musabbab. Kita harus mengetahui sababan fa-atba’a sababa. Pada bulan Syawwal, calon pelajar yang datang ke Pondok Modern 1600 anak. Kita harus berpikir apa sebabnya mereka berbondong-bondong datang kemari. Yang jelas karena adanya kepercayaan masyarakat.
Kita berpikir lagi, apa faktor-faktor kepercayaan masyarakat kepada Pondok Modern Gontor? Faktor-faktornya bermacam-macam. Di antaranya ialah dari segi hasil didikan Pondok Modern, dari segi keikhlasan guru-gurunya, dari administrasinya; keuangan yang dapat dipercaya, dan masih banyak lagi yang lain.
Kalau Al Baquri, Menteri Waqaf Mesir yang datang ke Pondok Modern tahun 1955 berkata, “Saya menaruh perhatian kepada pondok ini, bukan karena banyaknya murid, bukan karena keadaan gedung-gedungnya, bukan karena bahasa Arab – meskipun bahasa Arabnya baik -, tetapi karena pondok ini telah mempunyai filsafat hidup, yang akan menjamin kelangsungan hidupnya.”
Maka kamu sekalian harus berpikir, bagaimana supaya mempunyai pondok yang mempunyai kepercayaan dari masyarakat seperti yang dimiliki Gontor. Kemajuan madrasah atau pesantren tidak karena banyaknya murid, tidak karena gedung-gedungnya bagus, tidak karena kiainya kaya, dan lain-lain.
Pondok pesantren akan maju dan berhasil kalau dibina sungguh-sungguh, ada kiainya yang benar-benar mau menangani bidang ini, melaksanakan pembinaan dengan memberikan bimbingan sepenuhnya kepada anak-anak didik dalam asrama. Kiai benar-benar menjadi sentral figur dalam kegiatan belajar para santri. []























