Saya ingat betul kata-kata Pak Sahal (KH. Ahmad Sahal) beberapa waktu sebelum wafatnya, “Cukup sudah. Saya ini sudah cukup. Cukup sudah”. Itu dikatakan oleh beliau berulang-ulang. “Ya… sawahnya, ya… rumahnya, ya… anaknya. Ya… macam-macam. Cukup.”
Penyakit iri itu ada pada orang yang tamak. Sebaliknya, yang membuat orang tenang itu qona’ah. Orang fakir yang cukup lebih baik daripada orang yang tamak. Itu menurut Al-Qur’an, Hadits, Mahfuzhat, dan lain-lain.
Ada orang yang sudah kaya tetapi masih iri kepada pondok. Orang seperti itu banyak. Al-Qur’an memberikan keterangan:
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ
حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (QS. At-Takatsur: 1-2).
Hal itu terjadi pada zaman jahiliyah dan juga pada zaman sekarang (jahiliyah modern). Berhati-hatilah bila mendengar segala sesuatu yang merupakan api fitnah, lebih-lebih terhadap dirimu, terhadap pondokmu.
Walau rumah saya seperti itu. Kesyukuran saya tak ada habis-habisnya. Setiap detik saya melihat pintu rumah, alhamdulillah. Tiap detik saya melihat kursi saya, alhamdulillah.
Tapi orang lain mengatakan, “Kok, masih begitu saja?”
Saya sudah qani’. Orang lain yang malah tamak. Tamaknya itu dikobar-kobarkan kepada saya, kepada keluarga saya, anak-anak saya, dan santri-santri.
Kebanggaan saya yaitu jikalau saya sederhana. Perhitungan orang lain berlainan dengan perhitungan saya. Saya bangga dengan kesederhanaan, orang lain bangga dengan kemewahan. Itulah artinya “Lakum dinukum wa liya din”.[]























