Tak seperti pendidikan umum yang memisahkan ilmu agama dan sains, pesantren menjadikan agama sebagai payung yang menaungi berbagai bidang keilmuan. Hal inilah yang membuat pendidikan pesantren semakin hari semakin dicari dan diminati oleh masyarakat umum.
Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Madura, kepada Majalah Gontor menyatakan, “Alhamdulillah banyak pesantren sekarang sudah sadar tentang tuntutan zaman.” Maka, sambung salah satu pimpinan pondok terbesar di Indonesia itu, pesantren tertuntut agar segera membenahi diri dalam segala bidang ilmu terutama ilmu sains dengan mempertahankan prinsip kepesantrenan, baik secara ilmu maupun budaya.
Dr H Adian Husaini MSi, ulama sekaligus Direktur At-Taqwa College Depok juga menjelaskan bahwa kualitas umat ini tergantung pada pendidikannya. Umat Islam ini yakin akan keteladanan Rasulullah SAW dalam semua aspek kehidupan dan menjadikannya sebagai uswatun hasanah, contoh yang baik termasuk dalam bidang pendidikan. Karena Rasulullah SAW adalah guru terbaik yang mendidik para sahabat sepanjang waktu.
Perjalanan ulama terdahulu dalam mempelajari dan menguasai bermacam ilmu pengetahuan juga perlu diikuti. Bagaimana mereka tidak hanya mahir dalam ilmu agama (al-Qur’an, Tafsir, Hadis, dan semisalnya) saja, namun juga ahli dalam berbagai ilmu umum lainnya, antara lain matematika, astronomi, fisika, kimia, fisiologi, serta sosiologi.
Semangat inilah yang kemudian menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan pesantren untuk mampu mengembalikan masa kejayaan generasi Islam seperti dahulu. Sehingga alumni pesantren bisa semakin dirasakan manfaatnya karena keluasan ilmu yang dimiliki.
Terkait hal ini, Dr Fauzi Tidjani pun mengusulkan, “Pesantren dituntut untuk membentuk kader-kader dari dalam pondok pesantren untuk dikirim ke berbagai perguruan tinggi dengan berbagai konsentrasi ilmu, baik sains maupun agama.” Diharapkan selanjutnya mereka bisa kembali ke almamaternya untuk mengembangkan integritas ilmunya di dalam pesantren.
Dengan begitu akan tercipta karakter santri yang paling banyak manfaatnya untuk banyak orang dengan berbagai variasi ilmu bahkan menjadi andalan umat dan bangsa. “Semua itu tidak akan tercapai tanpa ada kekompakan perjuangan dan penegasan dalam satu visi dan misi dari semua pemegang kebijakan dalam pesantren,” tegas putra sulung KH Mohammad Tidjani Djauhari MA tersebut.
Upaya memajukan pendidikan pesantren ke depan agar bisa tetap bersaing dengan lembaga pendidikan umum lainnya, menurut Dr Agus Budiman MPd selaku Wakil Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Pesantren Muadalah adalah minimal dengan memperhatikan dan melakukan tiga hal pokok di bawah ini.
Pertama, meningkatkan mutu guru di pesantren. “Kualitas guru mutlak dilakukan oleh pesantren,” tegas Dr Agus kepada Majalah Gontor. Hal yang perlu dilakukan pesantren adalah bagaimana bisa mendidik santri dengan guru yang berkualitas dan paham betul tentang pendidikan pesantren. Ini mutlak dilakukan.
Caranya, bisa dengan studi lanjut untuk guru yang hanya memiliki pendidikan pesantren seperti Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah misalnya, agar bisa ditingkatkan ke jenjang sarjana, magister, atau jika memungkinkan sampai ke jenjang doktor. Karena biasanya latar belakang guru di pesantren mayoritas masih Strata Satu (S1). “Jika semakin tinggi akan semakin bagus, tentunya melihat skema kebutuhan guru pesantren itu sendiri,” tambah Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas Darussalam Gontor itu.
Kedua, melengkapi sarana. Sarana ini penting untuk kenyamanan dan kecukupan santri, di samping juga akan menambah kepercayaan wali santri untuk menyekolahkan putra putrinya di pesantren. Selama ini pesantren masih dikesankan pendidikan nomor dua, bahkan ada yang beranggapan pesantren itu sarananya kumuh, tidak standar, dan seterusnya. Tanggapan ini harus dibantah dengan kualitas sarana di pesantren yang baik.
Ketiga, membentuk jaringan. Hal ini penting dilakukan oleh pihak pesantren sebab bisa jadi pesantren itu letaknya barangkali di pelosok atau pedesaan, ketika pesantren memiliki jaringan yang luas, seakan-akan ia seperti berada di pusat kota. Contohnya, Pondok Modern Darussalam Gontor yang berada di desa kecil Gontor, karena jaringan yang luas di dalam dan luar negeri, akhirnya keberadaan Pondok Gontor ini bisa diakui.
Maka, imbuh Ustadz Agus Budiman, pesantren sedapat mungkin bisa mengembangkan jaringan agar eksistensinya diakui. Sehingga bisa mengembangkan program-program pesantren karena dikenal dan diakui. Minimal tiga hal penting tadi yang harus dilakukan dari dalam pesantren.
Kemudian dari luar pesantren, yang paling utama pengakuan terhadap pendidikan pesantren. Melalui Undang-Undang Pesantren Tahun 2019 dan turunannya, ada upaya besar dan bagus untuk pesantren yaitu pengakuan. Contoh seperti muadalah, pengakuan program pendidikan pesantren sebagai pendidikan formal, sehingga lulusannya bisa melanjutkan studi dan mendapatkan fasilitas dan manfaat dari program-program pemerintah dan lainnya.
Jika melihat pendidikan formal pesantren dalam UU itu hanya tiga, Muadalah, Pendidikan Diniyah Formal, dan Ma’had Ali. Sekian banyak pesantren sampai hari ini, program pendidikan pure pesantrennya tidak bisa berkembang karena terkendala oleh formalitas atau tidak diakui sebagai pendidikan formal. Sehingga santri harus bersekolah di Sekolah Menengah Pertama atau Atas dan seterusnya agar nantinya lulus pesantren dia tetap mendapatkan pengakuan di legal pendidikannya. Inilah yang dibutuhkan pesantren sekaligus menjadi kendala besar di pesantren.
Karena dengan pesantren membuka Tsanawiyah, Aliyah, atau SMP dan SMA di dalam pesantren, akhirnya program kekhasan pesantren itu menjadi program pendidikan nomor dua setelah Tsanawiyah atau Aliyah itu. Demikian yang harus kita pahami bagaimana mengembangkan pesantren dan kendala besarnya. “Tentunya ada banyak hal yang perlu disiapkan pesantren untuk menjawab tantangan ke depan, dan menurut saya ini yang pokok untuk bisa memajukan pesantren,” pungkas Agus Budiman.[]




















