Ada lagi pengalaman beberapa alumni di grup WA Kiai-kiai Pondok Alumni. Di situ kita baca, “Ana supirnya Pak Syukri”, “Ana supirnya Ustadz Soiman”. Semuanya jadi pimpinan pondok pesantren. Sampai supirnya Rektor di sini, juga menjadi pimpinan pondok pesantren. Ini pengalaman dan fakta. Apakah dalam menyetir itu dia diajari menjadi pimpinan pondok pesantren? Tidak! Tetapi mushahabah, mutaba’ah, dengan Kiai, dengan Rektor, dengan pemimpin, itu telah mendidik diri. Karena jelas omongan kita bukan sekedar omongan biasa, tapi omongan pendidikan. Itulah yang dirasakan alumni yang telah menjadi pimpinan pondok pesantren, dan jumlahnya bukan satu, tetapi puluhan.
Ada pengalaman yang lain, di sini dijadikan ketua DEMA setelah keluar (pondok) dia juga dijadikan ketua DEMA. Ketika di Gontor itu menjadi Ketua Koordinator Pramuka, karena dia memang potongannya pemimpin, akhirnya dijadikan ketua DEMA satu perguruan tinggi. Setelah saya tanya, bagaimana kok bisa? “Ya Ustadz, pengalaman menjadi Ketua Koordinator yanfa jiddan.”
Lain lagi pengalaman seorang sekretaris yang sudah terbiasa bergelut dengan komputer dan mesin ketik. Suatu ketika mau kuliah di Madinah, tapi karena dia ‘terjun bebas’ bertemulah teman lalu diajak kerja. Di negara Arab tidak banyak orang yang pintar mengetik. Karena kepandaiannya itu, dia langsung diterima di suatu perusahaan besar, tapi akhirnya tidak jadi kuliah. Tapi dia anfa di bidangnya itu.
Demikian juga sekretaris yang lain pernah bekerja di KBRI Kairo. Di sana dicari yang pandai komputer. Anak ini sedang menempuh S2 lalu kekurangan biaya, terpaksalah dia kerja sambil menulis tesis. Dia diperlukan sekali karena mengetiknya pakai jari 10 bukan 11 sehingga cepat sekali kerjanya. Di samping itu, bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya oke. Kalau sekedar tukang ngetik saja banyak. Tapi ini sekaligus menerjemahkan dari surat kabar, menerjemahkan surat-surat ke orang Arab dalam bahasa Arab, atau pesan dalam bahasa Inggris.
Di samping itu, biasanya anak Gontor itu, ya sekretaris, ya menjadi supir. Dia yang berhubungan dengan orang-orang luar. Dan itu bukan hanya di satu negara, hampir berbagai negara seperti itu, multitugas. Di Pakistan, Qatar, dan negara lain. Jadi bagian apa dia sebetulnya? “Di KBRI ya bagian sekretaris Ustadz.” Tapi Dubes ke mana saja dia ikut. Bahkan Pak Dubes ngomong, selama dia menjadi Dubes, anak ini tidak boleh pulang. Ya karena menerjemahkan ke bahasa Inggris oke, ke bahasa Arab oke, ke bahasa Urdu oke. Jadi all in semuanya. Itu menjadi Anfa Linnas, ditambah lagi dia juga pintar olahraga (badminton), pintar musik lagi. Lah, itu lebih luas lagi talentanya. Ini sebagai contoh saja, bentuk daripada Anfa Linnas itu berbagai bidang, bukan satu bidang saja.
Ada lagi contoh, ada ustadz kita, dosen kita, di dalam seminar internasional itu pakai bahasa Arab, bahasa Inggris. Pesertanya orang Arab dan orang Inggris. Ada orang Arab paham Inggris tapi ada orang Inggris tidak paham bahasa Arab. Akhirnya dia muncul menjadi penerjemah. Kalau orang Arab ngomong bahasa Arab diterjemahkan ke bahasa Inggris, orang Inggris ngomong diterjemahkan ke bahasa Arab. Kalau di negara Arab, Rabithah atau ittihadul alamin min ulamail muslimin itu biasa begitu. Ini karena tidak ada penerjemah, akhirnya dosen kita itulah yang menerjemahkan, dan ini mungkin langka di Indonesia. Nah, di situlah Anfa Linnas. Dia berbuat sesuatu yang mana orang lain tidak mampu berbuat seperti dia. Jadi masing-masing orang punya kelebihan, dan Anfa-nya inilah yang kita ingin canangkan kepada semuanya. Oleh karena itu kalau “bahasa Inggris saya kurang, bahasa Arab saya kurang, keterampilan saya kurang” tidak apa-apa. In syaa Allah ada faktor lain yang membuat kita anfa.
Ada seorang teman yang keilmuannya biasa-biasa saja, kemudian dia pindah jurusan dari Syariah ke HI. Jurusannya cocok HI. Akhirnya dia melamar di Deplu dan diterima karena punya talenta. Musik oke, olahraga oke, bahasa Inggris oke, keilmuan oke. Dia pernah mendapat medali dari Menteri Luar Negeri karena keahliannya. Kalau di sini ya biasa katsirul kalam, tapi katsirul kalam yanfa. Selama (bertugas) di Saudi dia membebaskan TKI yang mau dipancung, itu lebih dari 5 atau 6 orang. Jadi dia membebaskan dari hukuman macam itu. Karena itu di Kementerian Luar Negeri mendapat medali. Kemampuannya kalau di sini katsirul kalam sekedar katsirul kalam begitu saja, tapi di luar yanfa. Nah, di situlah kelebihannya.
Ada lagi satu teman, kalau akademis jangan ditanya, umumnya di bawah kita. Tapi bahasa Inggrisnya bagus. Karena bahasa Inggrisnya bagus dan rekan-rekannya satu kantor itu tidak ada yang bisa bahasa Inggris, akhirnya dia dikirim ke Amerika. Ya, kalau pendidikan di Amerika jelas meningkat sampai S2 di sana. Kemudian pulang lebih bermanfaat. Ada urusan kantornya menghadiri acara ke Australia, dia yang terpilih. Ini Anfa dibanding yang lain. Dia kebetulan di BKKBN, di sana tidak ada yang pintar bahasa Inggris. Karena dia pintar bahasa Inggris dan tahu dunia BKKBN, maka akhirnya wawasannya bertambah luas. []


















