Di samping itu, kita dapat mencontohkan seorang mubaligh. Mubaligh itu, kalau berbicara bisa kita lihat wawasan keilmuannya. Keterampilan berbicaranya oke, diselingi dengan joke-joke ilmiah. Tapi kadang-kadang isi materi yang disampaikan itu tidak variatif. Ditanya masalah hukum dan lain sebagainya dia lemah. Ini juga kurang anfa’. Alangkah baiknya dari segi teknik oke, namun isi madhmun (konten) itu juga lebih bervariasi, lebih bagus, dan lebih komprehensif.
Kami terpaksa mencontohkan UAS dalam fenomena dunia mubaligh. UAS fenomena tersendiri. Keterampilannya oke dibanding Zainudin MZ, sama-sama enak ngomong-nya. Tetapi UAS lebih bervariatif. Ditambah lagi, ia tahu bukan hanya di bidangnya saja, bidang-bidang lain juga tahu.
Sebagai ilmuwan, bidang kita sebetulnya aqidah. Tapi kalau ditanya masalah syariah kita harus bisa menjawab. Keterampilan kita untuk menjawab suatu pertanyaan itu mendorong kita untuk banyak belajar dan mendukung kita untuk terus belajar. Jangan berhenti untuk belajar. Karena itu, di sini ada istilah interdisipliner, yang Pak Hamid sering katakan “apapun jurusannya kalian adalah ustadz”. Itu dalam rangka memadukan keilmuan kita dan keilmuan agama kita. Kalau di UGM itu namanya studi interdisipliner, jurusan ini dengan jurusan lain. Tapi kalau kita di sini, bidang kita dipadukan dengan bidang keagamaan secara luas. Dengan demikian wawasan kita ini bertambah. Setelah wawasan kita ini bertambah in syaa Allah Anfa’uhum Linnas.
Pernah dapat cerita, bagian pembangunan ditugaskan ke pondok (cabang) di Kendari. Dia mengerti bangunan berdasarkan pengalaman. Di sini, fakultasnya Ushuluddin. “Ustadz-ustadz itu Insinyur atau Ustadz?” “Sebetulnya dua-duanya, Pak”, “Kok, bisa ya?” “Di Gontor memang begitu.” Padahal, dengan memanfaatkan pembangunan, dia jadi banyak tahu tentang bangunan, tapi keilmuan mengajarnya juga oke. Suatu ketika dia datang ke sini. “Ustadz, saya ini mau dijadikan kepala Tsanawiyah atau Aliyah, saya masih S1. Diangkat kepala sekolah, kurangnya saya akta 4. Apakah saya boleh ikut akta 4 Ustadz?” “Boleh.” Maka kita beri pelajaran lalu disuruh ikut ujian dan lulus. Lalu kita berikan akta 4, maka jadilah dia kepala sekolah. Kalau dia hanya ustadz saja, kurang anfa’. Tapi setelah ditambah akta 4, dia menjadi kepala sekolah, menjadi anfa’, Padahal di sini mas’ul bagian pembangunan.
Jadi yang penting itu etos kerja, mental skill, mental spiritual, itulah yang kita didikkan. Oleh karena itu, nantinya kita keluar jadi apa, itu tergantung pengalaman kita dan mental skill yang telah kita ajarkan. Kita dapat menempatkan diri di mana saja, tidak terbatas pada satu profesi. Itulah yang kita doktrinkan di sini dan supaya anak-anakku sekalian paham bahwa kita menyuruh begini menyuruh begitu, itu in syaa Allah ada manfaatnya. Jadi, supaya kita menjadi anfa’uhum linnas, kita harus mendidik diri, kita menempa diri sebaik mungkin. Setelah kita menjadi anfa’uhum linnas dalam batas tertentu, jangan lupa “laa tubthiluu shadaqaatikum bil manni wal adza.” Janganlah engkau batalkan, engkau hancurkan shadaqah amal jariyah kalian itu dengan menyebut-nyebut karya kita, menyebut-nyebut dengan riya dan takabur. Itu berarti akan menghancurkan amal perbuatan kita. Ini yang harus dipahami.
Memang kita kadang-kadang sulit membedakan antara tahaddus bin ni’mah dengan riya. Kita kan cerita begini, “Alhamdulillah kita berhasil dalam hal ini ini ini.” Dari penyampaiannya itu, kalau tidak datar, terlalu berapi-api, provokatif, seakan kita riya. Padahal kita ini bersyukur, tahaddus bin ni’mah. Tulisan ayatnya jelas, orang yang bershadaqah termasuk shadaqah ilmu kemudian terus disebut-sebut apalagi bershadaqah dengan menyakiti hati orang yang dishadaqahi, semuanya itu batal. Batal berarti tidak diterima amal jariyahnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu kita harus tahu bahwa shadaqah itu tidak perlu diumum-umumkan, apalagi menyakiti hati orang yang dishadaqahi. Itu jelas dalam Islam.
Kita tahu di masyarakat, ada yang mau shadaqah kalau disyuting. Kalau tidak disyuting dia tidak mau shadaqah. Ini menunjukkan bahwa dia tidak ikhlas. Saya pernah pengalaman menguji doktor di UNIBRAW Malang. Dia dari fakultas umum mencari ayat yang menunjukkan tentang ikhlas. Dia mencari ayat yang ada kata “ikhlas”. Dia tidak tahu bahwa makna ikhlas itu tidak hanya tercantum di dalam ayat ikhlas, tidak ada kata-kata ikhlas tapi menunjukkan ikhlas, ya itu tadi laa tubthiluu shadaqaatikum bil manni wal adza. Alhamdulillah dia menerima sehingga itu menambah kredit poin baginya.
Saya kira itu saja yang dapat kami sampaikan, mudah-mudahan muhasabah kita di akhir bulan Ramadhan ini, muhasabah aktivitas harian kita, muhasabah terhadap ibadah kita, mudah-mudahan semuanya menambah kesadaran kita, menambah ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Memang supaya kita menjadi orang-orang yang Muttaqin ini jalannya banyak. Oleh karena itu melalui Ramadhan ini kita juga berharap betul-betul menjadi orang-orang yang Muttaqin, Allahumma Aamiin. Sekian, wallahul musta’an, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.[]




















