Tadabur, mengamati, melihat alam semesta. Ini juga berdzikir kepada Allah. Kita berdzikir dengan melihat keadaan yang ada. Alam yang kecil, alam yang besar, alam yang gaib yang tidak terlihat dan lain sebagainya itu kita kembalikan kepada Allah SWT.
Kalau kita melihat binatang yang kecil di hadapan kita, kemudian kita melihat bagaimana binatang kecil itu berjalan, bagaimana binatang kecil itu melarikan diri dari bahaya, itu juga kita ingat bahwa Allah telah menciptakan binatang sekecil itu bisa menghindarkan diri dari bahaya, binatang sekecil itu bisa mencari rezekinya, makannya dan lain sebagainya. Ini kita kembalikan kepada Allah yang Mahakuasa, Mahabisa membuat apa saja, membuat binatang yang kecil itu bisa hidup melata dan mendapat rezekinya.
Kemudian kita lihat binatang-binatang, burung atau binatang ternak dan lain sebagainya. Kita hayati binatang-binatang itu ciptaan Allah yang bisa lebih daripada kita kemampuannya. Burung bisa terbang, kita manusia tidak terbang dengan sendirinya kecuali dengan alat yang seperti sekarang ini. Jadi dengan begitu, kita merasa bahwa kita ini lebih rendah kekuasaan kita, kemampuan kita daripada binatang yang diciptakan Allah dalam bentuk burung.
Ada lagi sapi, ada lagi kambing. Yang kita lihat sapi dan kambing itu bisa berada di tanah lapang pada malam hari tidak pakai selimut tapi dia tahan. Ini berarti kekuatannya lebih daripada kita. MakaΒ kemudian kita merasa bahwa sebenarnya kita tidak lebih daripada binatang-binatang itu, kekuatannya. Maka, ini juga merendahkan hati kita, merendahkan diri kita di bawah kekuasaan Allah. Kita tidak lebih dari makhluk Allah, tidak memiliki kelebihan yang betul-betul sempurna lebihnya dari makhluk Allah yang lain. Itu dari binatang.
Kemudian kalau kita lihat bahwa di dunia ini ada bintang, ada bulan, ada matahari, ada galaksi dan lain sebagainya, kita bandingkan dengan diri kita. Bulan ke bumi itu perjalanan sinar adalah 8 detik. Bumi ke matahari perjalanannya adalah 8 menit. Sedangkan sinar itu berjalannya 300.000 km/detik. Jadi berapa ratus ribu jaraknya antara kita ke planet itu. Kemudian kita berada di mana letaknya? Sangat kecil sekali, tidak terlihat. Ketika kita membandingkan diri dengan gunung, itu tidak sebesar apa diri kita. Hanya kecil sekali.
Dengan batu pun kita kalah. Kita kalah besarnya dengan batu. Kita kalah kuatnya dengan batu. Kita kalah umurnya dengan batu. Batu umurnya sudah jutaan tahun tetapi kita umurnya baru beberapa puluh tahun saja. Manusia 100 tahun saja itu sudah banyak, sudah umur panjang. Tetapi kerikil yang kita injak di jalan-jalan itu umurnya sudah ribuan tahun atau mungkin jutaan tahun umurnya. Maka kalau dibandingkan umur kita dengan umur barang, kita tidak ada apa-apanya. Itu dari segi umur.
Dari segi jarak, dari segi besar, kita itu amat sangat kecil sekali. Coba kita bayangkan, tadi kalau jarak bumi dengan bulan, bumi dengan matahari sekian detik itu, sekian menit, itu alangkah besarnya dunia ini, bumi ini. Tetapi kalau kita lihat galaksi mempunyai berbagai macam tata surya. Di bumi kita ini ada tata surya, ada matahari, ada Saturnus, ada Uranus, Neptunus, Pluto, Mars dan lain sebagainya. Itu hanya satu tata surya. Padahal di dalam galaksi itu ada ribuan tata surya, jutaan tata surya, ini seluruhnya sesuatu yang bisa kita pakai untuk merenungkan diri bahwa kita ini tidak memiliki apa-apa dibandingkan makhluk Allah SWT.
Menurut ilmu pengetahuan, antara galaksi satu dengan galaksi lain itu tidak terhitung jumlahnya. Jumlah bintangnya, jumlah galaksinya. Dikatakan satu ujung galaksi ke ujung galaksi itu memerlukan perjalanan sinar satu juta tahun. Jadi kalau kita bandingkan dengan perjalanan hitungan sinar 300.000 km/detik, maka kalau satu juta tahun perjalanan sinar, kita tidak bisa membayangkan. Itu semua ciptaan Allah SWT, maka kita ini harus menyebut Allahu Akbar.
Apalagi dalam ayat Al-Qurβan disebutkan bahwa wazayyannassamΔ al-dunya bi maαΉ£ΔbΔ«αΈ₯a, jadi langit-langit dunia ini dilapisi dengan bintang-bintang. Semua bintang yang terlihat termasuk galaksi-galaksi yang kita sebut tadi, itu baru di bawah langit pertama. Padahal disebutkan sabβa samΔwatin tibΔqΔ, bahwa semesta ini, alam ini diciptakan dalam tujuh lapis langit. Di dalam langit pertama saja, batasnya mana, itu umat manusia sampai sekarang ini belum mengetahui.
Maka bagaimana orang itu akan sombong, bagaimana kita akan sombong, bagaimana kita akan merasa kuat, bagaimana kita akan merasa besar kalau dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain, yang seperti itu.
Jadi ini satu dzikir sebenarnya. Kita perlu berdzikir terus, ingat terus di mana saja. Rasulullah ingat terus kepada Allah di mana saja. Maka dengan cara dzikir yang seperti itu, in syaa Allah kita bisa melakukan dzikir kepada Allah di setiap saat. Melihat apa saja kita kembalikan kepada Allah SWT. Kita mengetahui yang sedikit, kita kembalikan kepada Allah SWT. Bahwa Allah itu Mahabesar, Maha Mengetahui segala sesuatu dan kita ini tidak mengetahui pengetahuan yang banyak.
Masalah ruh apalagi, sama sekali kita tidak tahu ruh itu apa, kecuali hanya sedikit. Maka ketika Nabi ditanya tentang ruh, maka Rasulullah tidak bisa menjawab. Kemudian Allah mewahyukan bahwa ruh itu urusan Allah SWT. Manusia tidak mengetahui tentang ruh kecuali sedikit sekali. Saya kira ini saja yang perlu kita ingat, kita lakukan, kita ucapkan, kita dzikir kepada Allah dengan berbagai jalan yang bisa kita tempuh.[]






















