“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran : 102)
Dalam ayat yang disampaikan di atas dijelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyerukan kepada orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan ketakwaan yang sesungguhnya. Lantas seperti apa ketakwaan yang sesungguhnya itu?
Ketakwaan adalah kedekatan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya. Ketakwaan adalah rasa takut yang ada ketika melakukan suatu maksiat. Ketakwaan adalah gemar melakukan ibadah demi menggapai Ridha Illahi.
Setiap ibadah yang dijalankan oleh orang-orang beriman harus berlandaskan dengan ketakwaan dan menjadikan takwa sebagai tujuan akhir dari ibadah tersebut dan setiap ibadah haruslah menghasilkan ketakwaan.
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Artinya ayat tersebut, jelas disampaikan bahwa beribadah adalah wasilah manusia untuk bertakwa kepada Allah. Jika seseorang melakukan ibadah namun dengan ibadahnya tersebut tidak menghasilkan ketakwaan, makan ibadah tersebut sudah kehilangan ruh. Sebab, ruh ibadah adalah takwa.
Seorang Muslim menjalankan ibadah shalat, misalnya, maka shalat tersebut harus menghadirkan ketakwaan kepada Allah. Kecintaan yang besar terhadap zat yang telah menciptakannya serta rasa takut jika bermaksiat.
Namun ada pula seseorang yang kesehariannya mengerjakan shalat, tapi terus melakukan hal-hal buruk dan maksiat, misalnya saja korupsi, menghina sesama, meng-ghiba saudara atau yang lebih parah memfitnah, maka ibadah tersebut dapat dikatakan telah kehilangan ruh dan shalatnya tidak bisa menghasilkan ketakwaan kepada Allah.
Ibadah lainnya yang menghadirkan ketakwaan yaitu membaca Alquran. Salah satu tujuan seseorang membaca Alquran untuk mendapatkan petunjuk Allah, petunjuk tersebut yang nanti akan membawanya pada ketakwaan, karena Alquran diturunkan agar menusia mendapatkan petujuk agar mereka bertakwa.
Selain itu, ada pula puasa. Perintah puasa yang diturunkan melalui Baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam tujuannya agar orang-orang beriman itu bertakwa kepada Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183)
Ketakwaan bersifat dinamis, tidak diam namun terus bergerak di seluruh aspek kehidupan. Katakwaan yang terus bergerak akan direalisasikan dalam bentuk ihsan, yaitu perbuatan baik yang menghasilkan ketakwaan. Misalnya, menahan diri dari amarah maupun dari perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain maka akan menghasilkan ketakwaan dan kebermanfaatan bagi orang lain. Demikian dengan sedekah, perilaku berbagi yang dilandasi karena Allah, itu bisa menghasilkan ketakwaan dan kebermanfaatan bagi orang lain. Hal inilah yang disebut dengan ketakwaan yang bersifat produktif.
Ketakwaan yang bersifat produktif juga harus dengan ilmu dan rasa syukur. Sebagaimana dalam ayat puasa, di akhir ayat 184 dan ayat 185 dari Surat Al Baqarah yang mengatakan “Jika kamu mengetahui” dan “Jika kamu bersyukur”.
Jika ketakwaan hanya bisa memberikan kebermanfaatan untuk dirinya saja, maka ketakwaan itu bersifat pasif.
Maka diwajibkan kepada seluruh orang beriman untuk terus meningkatkan ketakwaan, ketakwaan yang terus bergerak melalui berbagai amalan ibadah, dan ketakwaan yang produktif yaitu ketakwaan yang dapat memberikan kebermanfaatan bagi orang lain. Wallahu a’lam bish shawab.[]






















