Sebanyak 87 ribu alumnus Gontor tersebar di seluruh Indonesia bahkan dunia. Mereka bernaung di dalam organisasi bernama IKPM.
Pagi itu, Sabtu 8 September 2019, (Almarhum) KH Syamsul Hadi Abdan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (1944-2020) memberikan pidato di depan peserta musyawarah besar Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor pada 2019. Kiai Syamsul memulai pidatonya dengan kisah pendirian organisasi tersebut.
Inisiasi wadah alumni Gontor adalah upaya menguatkan keimanan kepada Allah yang merupakan pengejawantahan sila pertama Pancasila, mengeratkan kekeluargaan dengan merujuk kepada sila ketiga Pancasila. Juga menjadi wadah perjuangan membangun negeri, serta menyebarluaskan kecintaan kepada Tanah Air.
Trimurti pendiri PMDG mendirikan organisasi komunitas tersebut pada 17 Desember 1949 di Yogyakarta. Dua tahun setelah Gontor mengalami dua peristiwa penuh duka. Pertama, penyerbuan PKI Musso yang hampir saja menewaskan KH Ahmad Sahal (1901-1977) dan KH Imam Zarkasyi (1910-1985). Kedua, agresi militer Belanda kedua. Santri Gontor terlibat dalam suka duka perjuangan tersebut yang menunjukkan kecintaan kepada Tanah Air.
Beberapa bulan setelah agresi Belanda usai, Gontor hidup dalam kesusahan. Tapi semangat untuk menghidupkan dan mengembangkan pesantren selalu menggelora. Pak Sahal memotivasi para santri untuk terus belajar dan selalu optimis mendakwahkan Islam. Pak Zar saat itu menyusun sejumlah buku bersama kakaknya, KH Zainuddin Fanani (1908-1967). Kemudian buku itu dijual di Toko Buku Paneleh di Surabaya. Hasil jualannya dipakai untuk ongkos dan bekal perjalanan menghadiri sebuah kongres Muslim di Yogyakarta. Saat di Surabaya, Pak Zar bertemu sejumlah alumni Gontor. Mereka sungguh menghormati Pak Zar.
Duduk bersama di kereta api menuju Yogyakarta, sang inisiator sistem KMI Gontor itu mendapatkan banyak cerita dari alumni yang berjuang di pedalaman dan bahkan angkat senjata meneguhkan kemerdekaan Indonesia. Tiba di Yogyakarta, suami Siti Partiyah itu bertemu lebih banyak lagi alumni Gontor. Terutama KH Idham Chalid (1921-2010) yang menjabat menjadi pembantu Presiden Sukarno.
Suasana menjadi semakin akrab. Pak Zar merasakan kebanggaan menyaksikan mereka banyak berkiprah dan memberikan sejuta manfaat kepada umat, meski usia KMI saat itu baru 13 tahun.
Dari situlah muncul ide membentuk IKPM. Setelah itu, personel IKPM menjadi pihak yang menerima wakaf Trimurti pada 1958. Mereka tergabung dalam Badan Wakaf Gontor. “Sejak itu pondok menjadi milik Umat Islam,” ungkap KH Syamsul Hadi Abdan saat menyampaikan pidato pascapenetapan pengurus baru PP IKPM Periode 2019-2024 di Aula Robithoh, Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu (8/9/2019).
Kiai Syamsul mensyukuri dampak positif IKPM terhadap eksistensi PMDG di masyarakat. IKPM menolong fungsi lembaga-lembaga di Gontor seperti Pengasuhan Santri, KMI, Yayasan dan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA), berjalan maksimal. “Peranan mereka mendukung dan menguatkan keberlangsungan Gontor,” katanya.
“Kita bisa bayangkan pondok tanpa IKPM seperti apa. Saya bisa merasakan betul peranan IKPM,” ujar Kiai Syamsul.
Terakhir, Kiai Syamsul meminta kepada seluruh alumni Gontor, terkhusus mereka yang aktif di IKPM agar berupaya semaksimal mungkin dengan apa yang telah menjadi keputusan bersama. “Marilah semua alumni Gontor aktif di IKPM meski kalian juga aktif di profesi masing-masing,” pungkasnya.
Setelah pelantikan tersebut, Covid-19 mewabah. Semua pihak terdampak, termasuk Pondok Modern Gontor. Namun para lulusan Gontor tak tinggal diam. Mereka yang sudah berkecimpung di masyarakat kembali ke almamaternya untuk menguatkan pondok. Ada yang berkomunikasi ke instansi pemerintah. Sebagian alumni yang berkecimpung sebagai jurnalis membantu memperbaiki citra pondok melalui pemberitaan positif.
Yang berkecimpung di bidang hukum seperti advokat dan notaris juga membantu pondok dalam hal perdata dan pidana. Yang pengusaha membantu dalam pengadaan fasilitas dan sarana santri. Sedangkan yang menjadi politisi dan birokrat membantu memuluskan narasi dan kemaslahatan pondok di pemerintahan.
Alumni yang menguasai akademik dan organisasi kemasyarakatan menghubungkan Gontor dengan jaringan strategis baik nasional maupun internasional. Semuanya melalui IKPM berperan membangun wakaf umat tersebut.
Sekretaris IKPM Bekasi Arifiyanto Said menjelaskan khidmah alumni kepada Gontor. “Kami sering mengadakan rapat secara online. Deringan telepon jelang kedatangan santri misalkan, tidak pernah berhenti. Tidak hanya dengan pemangku kebijakan di daerah, kami juga berkoordinasi dengan rekan-rekan alumni Gontor di Bekasi untuk memastikan proses kedatangan santri berjalan lancar,” sambungnya kepada Majalah Gontor.
Tidak hanya Bekasi, langkah-langkah serupa juga diterapkan di beberapa daerah mulai dari Aceh hingga Papua. IKPM-IKPM cabang memainkan peranannya untuk membantu serta melancarkan urusan-urusan pondok, tidak terkecuali urusan guru dan santri di PMDG.
Divisi IKPM
Sejak 2022, ada beberapa organisasi yang diresmikan sebagai penunjang kegiatan IKPM, seperti Forum Pesantren Alumni Gontor (FPAG), Forum Bisnis (Forbis) IKPM, dan Forum Mubaligh Alumni (FMA). Jika Forbis IKPM terlibat di bidang ekonomi dan bisnis, maka FPAG dan FMA merupakan forum yang bergerak di bidang dakwah dan pendidikan.
Saat ini PP IKPM dipimpin oleh H Noor Syahid yang didampingi oleh H Rif’at Husnul Ma’afi dan H Saepul Anwar.
Sekretaris PP IKPM diisi oleh Fawwaz Ahmad Zarkasyi. Sementara Bendahara dipimpin oleh H Imam Iskarom.
Kepengurusan ini diperkuat dengan divisi keputrian. Gontor menilai kaum wanita merupakan penguat dakwah sebagaimana dilakukan istri Pak Zar, Siti Partiyah, dan istri Pak Sahal, Sutichah Sahal.
“Tujuan divisi keputrian yaitu meningkatkan keilmuan, keterampilan dan pemahaman mengenai kemuslimahan, berperan aktif dalam proses pembinaan generasi muda dan pembangunan masyarakat serta mewujudkan ukhuwah Islamiyah yang kuat,” jelas Ketua II PP IKPM Gontor, H Saepul Anwar.
“Alhamdulillah, pelaksanaan program kerja divisi keputrian berjalan dengan baik. Kendalanya yaitu keterbatasan gerak dan ruang gerak alumni putri dengan tugas sebagai ibu rumah tangga,” tambahnya.
Visi IKPM Gontor
- Menjadi organisasi kekeluargaan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) yang profesional, mengedepankan Ukhuwah Islamiyah sesuai dengan nilai, ajaran dan falsafah hidup PMDG
Misi IKPM Gontor
- Membantu Pimpinan PMDG dalam mengawal alumni, mempererat kekeluargaan dan membina persatuan umat.
Tujuan IKPM Gontor
- Mempererat kekeluargaan dan membina persatuan umat.
- Mempertinggi budi pekerti dan kecerdasan para anggota dalam rangka pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara.
- Mengusahakan kesejahteraan anggota.
- Turut serta bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Pondok Modern Gontor dalam rangka mencapai cita-cita menjunjung tinggi agama Islam sesuai dengan Piagam Penyerahan Wakaf Pondok Modern Gontor pada tanggal 28 Rabiul Awal 1378 yang bertepatan dengan 12 Oktober 1958. []



















