Banyak orang yang pelit, justru hartanya hilang dan tidak berkah. Sementara orang yang rajin sedekah, membangun masjid di mana-mana semakin kaya dan selalu berkah rezekinya.
Cinta dunia, gila harta, gemar berbuat dosa, lalai ibadah, berat bersedekah, hobi foya-foya, dan takut mati. Begitulah kondisi sebagian manusia di akhir zaman.
Banyak dari mereka belum menyadari dan tak menyiapkan bekal sebelum mati. Terlalu asyik dengan dunia yang sementara hingga tak sadar, kematian datang tak disangka.
Ketika maut menjemput, tak ada lagi pilihan karena ketetapan sudah diputuskan dan seluruh aktivitas seseorang pun berakhir. Di saat itulah, manusia meminta kepada malaikat untuk menangguhkan kematian dan ingin menjalani kehidupan yang lebih baik, di antaranya menjadi tidak kikir dengan memperbanyak sedekah. Tapi semua itu sudah tidak bisa karena ketika ajal tiba, maka tak dapat diakhirkan ataupun dimajukan (Al-Aβraf: 34).
Dalam Surat Al-Munafiqun ayat 10, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk membelanjakan harta yang dititipkan kepada mereka sebelum ajal menjemput. βLalu dia berkata, βYa Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?β
Pendakwah, Ustadz Abdul Somad menjelaskan, maksud bersedekah di ayat tersebut yaitu segala perbuatan baik. Karenanya, manusia paling menyesal selamanya yakni tidak memanfaatkan hidupnya di dunia untuk menghabiskan waktu di jalan Allah SWT.
Dahsyatnya alam kubur bahkan membuat orang yang telah mati akan meminta pada Allah untuk dihidupkan kembali lantaran tahu azab akhirat dan ingin meningkatkan amal baiknya selama hidup di dunia, tapi semua sia-sia saja karena ajal sudah menjemput.
Ustadz Abdul Somad menjelaskan sesuatu yang dimakan dan dipakai akan lapuk, namun tidak dengan sedekah yang kekal menjadi ladang pahala bagi kaum Muslimin. Justru dengan adanya sedekah, Ustadz Abdul Somad mengungkapkan sedekah tidak menghabiskan harta atau membuat miskin.
“Kalau mau kekal abadi bersedekah, berinfak. Harta habis hanya untuk makan dan pakaian saja itu akan menjadi bangkai dan lapuk,” jelas Ustadz Abdul Somad dalam sebuah ceramahnya.
Ustadz Abdul Somad menyebut banyak orang yang pelit, justru hartanya hilang dan tidak berkah. Sementara orang yang rajin sedekah, membangun masjid di banyak tempat semakin kaya dan selalu berkah rezekinya.
Salah satu keberkahan dari bersedekah dituturkan Ustadz Abdul Somad yaitu dapat menolak bala dan bencana. Sedekah bermakna menginfakkan harta atau uang bagi yang membutuhkan dan diniatkan karena Allah.
Sementara itu Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pesantren Al Bahjah Cirebon KH Yahya Zainul Ma’arif atau akrab disapa Buya Yahya mengatakan, banyak disebutkan oleh para ulama bahwa begitu hebatnya sedekah, sehingga mayat yang sudah mati ingin hidup kembali untuk melakukan sedekah.
Menurut Buya Yahya, sedekah itu pahalanya akan terus mengalir. Misalnya jika membangun pondok pesantren, masjid, kemudian si penyumbang meninggal dunia, maka semua yang shalat di pondok atau masjid pahalanya akan terus mengalir untuknya. βMaka ini ibadahnya orang cerdas,β tegasnya.
Ada ibadah qashirah. Pahalanya untuk yang melakukan ibadah tersebut saja. Contohnya haji, shalat. Tapi kalau berderma, maka pelaku dan yang merasakan manfaatnya, dapat pahala.
βYang bangun masjid, majelis, selagi masih dipakai maka pahala akan terus mengalir. Beruntung Anda yang telah beramal,β jelasnya.
Buya Yahya juga mengatakan sedekah di bulan Ramadhan sangat banyak pahalanya. Oleh karena itu, Buya mengimbau umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan agar mendapat pahala melimpah dari Allah. Salah satunya dengan sedekah.
“Di antaranya amal baik yang dicontohkan oleh Baginda Nabi Muhammad yaitu sedekah. Sedekah di bulan Ramadhan,” ungkap Buya Yahya.
Ia mengatakan, sedekah sebenarnya dianjurkan setiap waktu, ketika memiliki tenaga dan rezeki. Namun, sedekah di bulan Ramadhan mempunyai keistimewaan tersendiri, sebagaimana sabda Rasulullah: “Dari Anas Radhiyallahu Anhu, sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sedekah apa yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Sedekah di bulan Ramadan’.” (HR At-Tirmidzi)
Kendati demikian, kata Buya Yahya, jangan pula hanya rajin bersedekah di bulan Ramadhan dan pelit seusai Ramadhan. Seharusnya, bersedekah di bulan Ramadhan dapat menjadi kebiasaan dalam sehari-hari di bulan-bulan lainnya.
Khalifah Umar bin Khattab sering berjalan pada malam hari. Jika menemukan warga yang kelaparan, dia akan menyedekahkan makanan kepada mereka.
Putra Sayyidina Husein as-Syahid, Ali yang bergelar permata ahli ibadah (zainul βabidin) dan ahli sujud (as-sajjad), gemar bersedekah secara diam-diam pada malam hari. Di mana ada orang kelaparan dan mengalami keterbatasan, di situlah Ali Zainal Abidin berada, menghibur mereka.
Karena rajin sedekah secara diam-diam, ditambah sering melaksanakan ibadah shalat dan dzikir, Ali mendapatkan kemuliaan di dunia dan akhirat. Suatu ketika dia melaksanakan thawaf. Selesai berkeliling satu putaran, barisan pelaku thawaf terbuka dan membuat jalan bagi Ali untuk mencium hajar aswad dengan mudah. Hal itu terus terjadi setiap dia menyelesaikan putaran thawaf.
Sementara itu, ada pula seorang khalifah Bani Umayyah yang juga berthawaf dengan pengawalan, tapi kesulitan untuk mencium hajar aswad. Kisah itu diceritakan oleh Imam Dzahabi dalam Kitab Siyarul βAlam an-Nubala.
Pada abad ke-19, Habib Muhammad bin Thohir al-Haddad melakukan perjalanan ke Hiderabad, India. Di sana dia dijamu oleh penguasa setempat. Di sana dia berceramah di sebuah masjid. Setelah itu, kantongnya dipenuhi uang oleh si penguasa. Setelah penguasa pergi. Habib Muhammad berdiri di dekat pintu masjid dan menyedekahkan uang tersebut kepada jamaah di sana sampai habis. Sedekah semacam itu dilakukan untuk melembutkan hati, mengikis penyakit cinta dunia, dan meningkatkan kepasrahan kepada Allah. []






















