Bulan Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh warga Muslim di dunia. Beragam tradisi Islam yang sangat kultural nan bersejarah kerap dilaksanakan hanya saat bulan suci tiba. Untuk itu, ragam peringatan sebelum atau saat bulan Ramadhan yang unik biasa berlangsung setiap tahun. Kali ini, Majalah Gontor berupaya untuk mempotret tradisi Ramadhan di berbagai belahan dunia. Selamat membaca!
Bagi umat Muslim sedunia, bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai bulan yang suci dalam Islam. Dalam keyakinan mereka, Ramadhan merupakan bulan yang tepat untuk melipatgandakan pahala, tidak terkecuali dalam memahami hakikat hidup serta memperbarui pemahaman tentang Islam. Karenanya, sambutan masyarakat dunia jelang keadatangan Ramadhan pun beragam.
Sejumlah negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, negara-negara Arab, Afrika utara hingga Eropa dan Australia merayakan kedatangan Ramadhan dengan cara yang berbeda. Kultur masyarakat, iklim hingga kebiasaan Muslim di sebuah wilayah berperan besar dalam mempengaruhi budaya setempat dalam merayakan kedatangan bulan suci Ramadhan. Berikut ulasannya!
Cahaya Ramadhan di London
Walikota London, Sadiq Khan, untuk pertama kalinya memperkenalkan festival lampu untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan pada tahun 2023. Harian The Guardian melaporkan sedikitnya 30.000 lampu ramah lingkungan di pasang di Jalan West End yang ikonik selama bulan Ramadhan, mulai 22 Maret hingga 21 April 2023 silam.
Inisiatif ini dimulai oleh sebuah organisasi nirlaba Ramadhan Lights yang berbasis di Inggris. Mereka Β melakukan aksinya dengan dana sumbangan masyarakat yang diterima. Pendiri organisasi itu, Aisha Sesai mengatakan bahwa festival lampu di West End sejatinya festival biasa. Namun, festival itu menjadi spesial karena dilaksanakan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan.
βSebagai seorang anak, perjalanan ke Pusat Kota London untuk melihat lampu-lampu pesta adalah hal yang biasa dilakukan setiap tahunnya. Saya dan adik saya akan berbaring di belakang mobil sambil memandangi lampu melalui sunroof dan itu menjadi pemandangan yang ajaib menurut saya,β kata Aisha kepada The Guardian.
βSebagai seorang Muslim, saya ingin membawa keajaiban itu ke komunitas saya. Tiga tahun lalu, perjalanan tersebut dimulai dengan cahaya Ramadhan,β sambungnya.
βIni bulan yang penting bagi umat Islam. Karenanya, saya ingin meningkatkan kesadaran tersebut agar para tetangga tahu bahwa ini bulan yang sangat penting bagi kami.β
Selain festival lampu, Ramadhan 2023 di Inggris juga diwarnai oleh aktivitas buka puasa bersama yang dilaksanakan di stadion-stadion klub sepakbola Inggris, sebut saja Stamford Bridge (Chelsea), Amex Stadium (Brighton and Hove Albion), Villa Park (Aston Villa) dan Stadion Wembley di Inggris yang fenomenal.
Shalat Tarawih di Hagia Sophia Istanbul Turki
Masjid Agung Hagia Shophia di Istanbul Turki kembali mengadakan shalat Tarawih berjamaah yang pertama sejak 88 tahun silam atau saat masjid tersebut dialihfungsikan menjadi museum pada tahun 1934 silam. Media Turki, Daily Sabah, melaporkan bahwa Hagia Sophia memperoleh kembali statusnya menjadi masjid pada tahun 2020 dan resmi dibuka sebagai sebuah masjid pada 24 Juli 2020.
Sejarah mencatat, Hagia Sophia berdiri pada tahun 534 Masehi sebagai sebuah gereja dan berfungi selama 916 tahun. Namun, penaklukan Istanbul pada 1453, Hagia Sophia beralih fungsi menjadi masjid dan berlangsung sekitar 500 tahun, hingga 1934. Akan tetapi, era pemerintahan Mustafa Kalam Attaturk, Hagia Sophia kembali beralih fungsi menjadi museum, alih-alih menjadi tempat beribadah, sejak tahun 1934 hingga 2020 atau sekitar 88 tahun lamanya.
Oleh badan kebudayaan PBB, United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Hagia Sophia ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1985. Kini, Hagia Sophia menjelma sebagai salah satu destinasi pariwisata utama di Turki yang dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun internasional.
Meriam Ramadhan dari Sarajevo
Salah satu negara Muslim termuda di Eropa, Bosnia Herzegovina, memiliki cara tersendiri dalam memperingati datangnya bulan Ramadhan. Salah satu peringatan Ramadhan paling ikonik di Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina, yaitu penyalaan meriam tanda masuknya awal Ramadhan atau yang lebih dikenal dengan kanon Ramadhan.
Dilansir dari Sarajevo Times, tembakan meriam dari Yellow Bastion di kota tua Vrantik di Sarajevo berbunyi setiap malam sebagai penanda masuknya waktu buka puasa.
Tembakan meriam di Sarajevo merupakan tradisi Muslim Bosnia yang telah berusia lebih dari seratus tahun. Meski demikian, tradisi ini sempat terhenti karena rezim politik sebelum akhirnya kembali dihidupkan kembali pada awal tahun 1990-an dan terus dilestarikan hingga saat ini.
β(Pemandangan meriam Sarajevo di Yellow Bastion) bukanlah satu-satunya tempat untuk menandai berakhirnya waktu puasa. Ada beberapa tempat di Sarajevo yang menandakan akhir puasa dengan tembakan meriam. Salah satunya di Kota Ilidza yang mulai melakukan tradisi ini,β ungkap seorang wisatawan lokal, Cannoneer Krivic.
βAnak-anak antusias melihat tembakan meriam. Saya pikir, tidak ada tempat di dunia ini yang memungkinkan seseorang berbuka puasa dengan pemandangan seperti ini,β sambung Krivic.
Tradisi Musaharati dari Palestina
Tradisi Musaharati di Palestina menjadi salah satu budaya ratusan tahun yang dilakukan oleh masyarakat Gaza. Musaharati merupakan tradisi membangunkan sahur di malam Ramadhan secara sukarela. Salah seorang sukarelawan Musaharati asal kota Khan Younis di selatan Jalur Gaza, Nizar Al-Dabbas, menggunakan gamis pria tradisional, sorban Palestina, dengan peci merah sebelum melaksanakan tradisi ratusan tahun tersebut.
Selama Ramadhan, Dabbas berkeliling Kota Gaza sambil menabuh genderang, menyanyikan lagu daerah, melantunkan puisi dengan maksud membangunkan masyarakat sekitar agar bangun dan melaksanakan sahur. Baginya, tidak ada kegembiraan di bulan Ramadhan tanpa melakukan Musaharati.
βIni adalah sebuah profesi atau pekerjaan sukarela warisan masyarakat Arab Muslim dahulu,β kata Dabbas sebagaimana dilansir Arab News.
βKetika saya masih seumuran (anak-anak), saya akan menunggu Musaharati Suriah setiap hari dan menemaninya berkeliling kampung. Sejak itu, saya mewarisi kecintaan terhadap pekerjaan sukarela ini yang selalu dikaitkan dengan bulan terindah sepanjang tahun,β ungkap Dabbas yang berasal dari Suriah.
Sebuah sumber sejarah mengatakan, Musaharati muncul di era pemerintahan daulah Abbasiyah, khususnya di masa kepemimpinan Al-Muntasir Billah. []






















