Islam telah menjadi bagian integral sejarah Amerika Serikat. Sejak awal kedatangan kapal-kapal budak dari Afrika Barat, umat Islam diam-diam menjalankan ajaran Islam jauh sebelum Konstitusi AS terbentuk. Kelompok ini pun terus berkembang, dengan beragam sejarah sosial dan budaya yang unik.
Menurut data Pew Research Center, diperkirakan ada 2,35 juta Muslim di AS tahun 2007. Pada tahun 2011 meningkat menjadi 2,75 juta Muslim. Sejak itu, populasi Muslim terus bertambah dengan laju sekitar 100 ribu per tahun, didorong oleh tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi di kalangan Muslim di Amerika dan berlanjutnya migrasi umat Islam ke AS.
Sekitar sepuluh tahun berikutnya, yaitu pada tahun 2017, ada sekitar 3,45 juta Muslim di AS atau sekitar 1,1 persen dari total populasi. Meski tidak sebanyak jumlah orang Amerika, Pew Research Center memproyeksi umat Muslim di AS akan tumbuh lebih cepat dibanding populasi Yahudi di sana.
Bahkan, di tahun 2040 mendatang penduduk Islam disebut-sebut dapat menggantikan populasi Yahudi di AS setelah Kristen yang menempati urutan pertama. Di tahun 2050 mendatang, po pulasi Muslim di AS diperkirakan akan mencapai 8,1 juta jiwa atau 2,1 persen dari total populasi negara tersebut—hampir dua kali lipat dibandingkan saat ini.
Meski umat Islam di Amerika Serikat berasal dari latar belakang yang beragam, Ramadhan tetap menjadi momen yang menyatukan. Di tahun 2025 ini Muslim di seluruh AS merayakan bulan suci Ramadhan dengan menyelenggarakan sejumlah acara buka puasa bersama dengan melibatkan masyarakat dan pemerintahan setempat.
Acara ini merupakan bagian dari misi untuk memperkuat ikatan dan memberdayakan warga Amerika Arab. “Pertemuan-pertemuan ini menciptakan peluang untuk berdialog, bersosialisasi, saling menghormati dan membantu menjembatani kesenjangan budaya dan agama,” ujar Presiden Arab America Foundation (AAF) Warren David kepada Arab News.
Sementara itu Hassan Nijem, ketua American Arab Chamber of Commerce (AACC) di Chicago menjelaskan, acara buka puasa biasanya ditujukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat selama Ramadhan. Jadi, Ramadhan bukan hanya peristiwa suci penting bagi umat Islam, tetapi juga merupakan kesempatan mendidik non-Muslim. Siapa Muslim, apa yang diperjuangkan, dan menekankan bahwa Muslim tidak berbeda dengan komunitas etnis, nasional, atau imigran lain di AS.
“Ini sangat menggembirakan bagi komunitas kami, yang selama bertahun-tahun telah menjadi sasaran rasisme, diskriminasi, dan banyak kesalahpahaman,” kata Hassan Nijem kepada Arab News.
Ada banyak warga Arab Muslim yang mencalonkan diri untuk jabatan pemerintah daerah dalam pemilu di Illinois. “Dengan meningkatnya jumlah kandidat Arab yang maju dalam Pemilu, kami juga melihat banyak video ucapan selamat Ramadhan dari kandidat dan politisi Amerika yang berharap dapat menarik suara warga Arab Amerika,” tambahnya. [] M Khaerul Muttaqien





















