Tidak hanya berfungsi sebagai tontonan pelipur lara, media sosial juga menjadi pengisi relung hati manusia yang jauh dari nilai-nilai keimanan. Karena itu, media sosial sudah sejak lama dimanfaatkan sejumlah da’i sebagai media dakwah yang efektif.
Dakwah di media sosial dinilai tepat sasaran, asyik, mudah dinikmati, dan relatif terjangkau. Inilah yang menjadi pertimbangan para da’i semakin melek media sosial untuk menyukseskan gerakan dakwah kekinian.
Namun perlu diingat, media sosial memiliki tantangan dan batasan, seperti penyebaran berita palsu, kritik, dan ujaran kebencian. Karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak dan memakai strategi dalam dakwah sehingga hasilnya maksimal.
Ustadzah Liza Azizah Lc, pendakwah sekaligus narasumber program religi TV One menjelaskan beberapa strategi efektif dalam penggunaan media sosial sebagai ladang dakwah. Strategi via media sosial bisa dengan menentukan dulu target dakwah, ditujukan untuk pemuda atau pemudi, ibu-ibu atau anak-anak kecil. Ingat, semua niat karena Allah dengan ikut memberi manfaat, dan bukan niat untuk viral.
“Menurut saya, dua target saja cukup untuk kita fokus menyiapkan materi konten dakwah,” ujarnya kepada Majalah Gontor.
Perintah dakwah memang jelas disebutkan dalam al-Qur’an. Namun, bukan serta merta siapa pun bisa terjun ke dunia dakwah, sebelum memperhatikan beberapa hal. “Tentunya bekali diri dengan ilmu, adab, dan akhlak. Dakwahnya pun dilakukan dengan kasih sayang, merangkul, bukan memukul,” ujar alumnus Universitas al Azhar Mesir itu.
Selain itu “Finalis Aksi Asia Indosiar” itu menyampaikan bahwa kita juga perlu memperhatikan batasan-batasan bermedia sosial, yang sama dengan batasan-batasan dalam bermuamalah secara offline. Pertama, jika Anda perempuan, tak perlu bernada bicara berlebihan sehingga mengundang syahwat lawan jenis. Kedua, berpenampilan yang rapi, bersahaja, dan menutup aurat tentunya. Bukan dengan dandanan yang menor sehingga menghilangkan inti dakwahnya.
“Ingat, Anda mensyiarkan kalam-kalam Allah, teladan Rasulullah SAW dan salaf shalih. Bukan untuk jadi ajang one man show,” jawab Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an Sirojul Qori Karawang itu.
Satu lagi, hiraukan komentar-komentar negatif orang lain dan teliti terlebih dahulu materi dakwah sebelum kita tampil menyampaikan. Dakwah via media sosial itu tidak semulus yang kita kira. Ustadzah Liza menceritakan tantangannya, yaitu kemunculan haters, orang yang dengan sengaja memberi komentar negatif dan kritik keras tanpa alasan yang jelas. Kita mungkin kadang lelah karena selain harus siap menyapa jamaah, masih ditambah dengan komentar pedas haters. Meski begitu, istiqamahkan doa dari Nabi dan para guru kita dengan membaca, Rabbishrahli shadri wa yassir li amri. “Insya Allah hujan badai angin sekalipun tak membuatmu gentar dalam mensyiarkan apa yang kamu pahami,” ujarnya.
Kemudian terkait peran influencer dalam membantu menyebarkan pesan dakwah melalui media sosial, Ustadzah Liza mengutarakan bahwa saat ini pemuda-pemudi kita tak banyak yang berdiam diri di masjid. Tak sering mau hadir di majelis taklim. Mereka lebih banyak hadir di depan layar handphone. “Lantas, apakah kamu mau hanya menjadi penonton yang menghabiskan kuota internetmu atau mau menjadi bagian dari perubahan dan bernilai pahala?” kobar pendakwah pemilik akun Instagram lizaazizah89, Tiktok Liza azizah official, dan YouTube Liza Azizah Channel itu kepada generasi penerus bangsa.
Sementara itu aktivis dakwah komunitas “Mau Bener Bareng” (MBB) Amelia Hardiyanti membagikan resep strategi efektif penggunaan media sosial dalam dakwah, yakni dengan menggunakan bahasa yang ringan tapi menyentuh hati, kontennya konsisten, dan niatkan karena Allah, bukan untuk terkenal. “Bangun interaksi yang hangat, bukan sekadar posting,” ujarnya.
Terkait batasan dalam berinteraksi menggunakan media sosial, gadis keturunan Bugis tersebut menekankan agar jangan sampai niat dakwah kita berubah menjadi ajang dalam mencari validasi. Jagalah adab dan pastikan apa yang disampaikan itu benar, bukan cuma ingin viral!
Aktivis komunitas “One Day One Juz” itu pun menceritakan, kita terkadang lelah dalam dakwah, tapi di situ letak ujiannya: apakah kita tetap sabar atau malah mundur. Peran influencer memang sangat besar. Kalau niatnya lurus, mereka bisa jadi jalan hidayah untuk banyak orang. “Tapi tetap harus disertai ilmu dan tanggung jawab,” tutup Amel.
Amanah yang Besar
Kiai Akbar Saleh BA, pendiri Pesantren Khatamun Nabiyyin Jakarta turut berbagi kesyukuran atas karunia Allah berupa kemajuan teknologi, termasuk media sosial. “Bagi kami di Ponpes Khatamun Nabiyyin, media sosial merupakan salah satu anugerah dan wasilah yang luar biasa dalam menyampaikan risalah dan syiar kegiatan pondok,” ujar Kiai Akbar.
Kepada Majalah Gontor, Sang Kiai menjelaskan, dahulu jangkauan dakwah dan informasi tentang pesantren sangat terbatas pada lingkaran terdekat. Sekarang, dengan izin Allah, media sosial telah membukakan pintu-pintu keberkahan yang lebih luas, memungkinkan kita berbagi kabar kebaikan dan nilai-nilai luhur pesantren ke berbagai penjuru.
Bagi Kiai Akbar, media sosial adalah kebutuhan mendasar dalam upaya syiar pondok. Ada beberapa hikmah dan alasannya. Pertama, meluaskan sayap dakwah dan informasi untuk dapat menjangkau lebih banyak jiwa dengan izin Allah. Kedua, sebagai media membangun citra Islami dan amanah.
Kiai Akbar berupaya membangun citra pesantren sebagai rumah ilmu yang berkah, modern dalam metode, namun kokoh dalam nilai-nilai Islam. “Kami ingin menunjukkan amanah yang kami emban dalam mendidik generasi penerus bangsa. Transparansi melalui media sosial merupakan wujud pertanggungjawaban kami kepada umat,” ujarnya.
Ketiga, sebagai media merajut ukhuwah dan komunikasi antara pihak pesantren dengan berbagai kalangan. Keempat, sebagai mimbar edukasi dan pencerahan berupa kajian-kajian Islami secara daring. Kelima, efisiensi dalam berkhidmat yang memungkinkan kita menyampaikan pesan secara efektif dengan sumber daya yang lebih optimal.
Namun sebagai hamba yang lemah, ia menyadari bahwa setiap kemajuan teknologi juga membawa tantangan tersendiri. Karena itu, ia senantiasa memohon petunjuk Allah SWT agar dapat menggunakan media sosial ini dengan hikmah dan tanggung jawab, mengedepankan konten yang maslahat, mendidik, dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Media sosial itu amanah yang besar agar membawa maslahat bagi umat.
“Bagi kami, media sosial merupakan amanah yang besar jika mampu memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan syiar agama dan pesantren kita,” pungkas Kiai dari 300 santri di kawasan Kramat Jati Jakarta Timur tersebut. []




















