10
Tonton Selengkapnya
30 °c
Pecenongan
Tue
Wed
Monday, 6 July, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Menjadi Pribadi yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
6 July 2026
in Tafsir
0
Menjadi Pribadi yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Foto: Tebuireng Online

Landasan Teologis

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu yaitu yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salam’.” (QS Al-Furqan: 63)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Ibadah dan Amal Terbaik  

Peran Jin dan Manusia dalam Kehidupan Sehari-hari

Membangun Integritas Pendidik dan Peserta Didik

Belajar Ikhlas dan Taat dalam Perjalanan Haji

Tafsir As-Sa’di menyebutkan, penghambaan (ubudiyah) kepada Allah terbagi menjadi dua macam. Pertama, ubudiyah karena rububiyah (ketuhanan dan kekuasaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur). Dalam bentuk ini, seluruh makhluk ikut serta di dalamnya, baik yang Muslim maupun kafir, orang yang taat maupun yang durhaka. Semuanya hamba-hamba Allah yang berada di bawah pemeliharaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya.

Kedua, ubudiyah karena uluhiyah (penghambaan melalui ibadah), kecintaan, dan rahmat Allah. Inilah bentuk penghambaan para nabi dan para wali-Nya, dan inilah yang dimaksud dalam ayat ini. Oleh karena itu, Allah menyandarkan mereka pada nama-Nya. Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), sebagai isyarat bahwa mereka dapat mencapai kedudukan mulia tersebut semata-mata karena rahmat-Nya.

Tafsir Al-Baghawi menyebutkan makna firman-Nya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih (Ar-Rahman)”, maksudnya hamba-hamba yang paling utama. Ada pula yang berpendapat bahwa penyandaran (idhafah) kepada nama Ar-Rahman bertujuan untuk memberikan pengkhususan dan kemuliaan, karena pada hakikatnya seluruh makhluk merupakan hamba Allah.

Adapun makna “(Yaitu) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” maksudnya mereka berjalan dengan tenang, penuh wibawa, rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, dan tidak membanggakan diri.

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Mereka orang-orang yang berilmu dan bijaksana.“ Sedangkan Muhammad bin al-Hanafiyyah berkata, “Mereka orang-orang yang memiliki kewibawaan dan menjaga kehormatan diri. Mereka tidak berbuat bodoh, dan apabila ada orang yang berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar.”

Dalam Tafsir Al-Baghawi juga disebutkan “Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,” yakni orang-orang yang bodoh dan berperilaku sembrono dengan ucapan yang mereka benci. Adapun mereka mengucapkan kata-kata yang baik (salam). Mujahid ibn Jabr menafsirkan, maksudnya ucapan yang benar dan tepat. Muqatil bin Hayyan berkata, “Mereka mengucapkan perkataan yang membuat mereka selamat dari dosa.”

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Apabila orang bodoh berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar dan tidak membalas dengan kebodohan.“

Diriwayatkan pula bahwa Al-Hasan al-Bashri apabila membaca ayat ini beliau berkata, “Ini gambaran kehidupan mereka pada siang hari.” Kemudian beliau membaca firman Allah: “Dan orang-orang yang menghabiskan malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.“ Lalu beliau berkata, “Ini gambaran kehidupan mereka pada malam hari.”

Tafsir Ibnu Katsir  menyebutkan, ini sifat hamba-hamba Allah yang beriman, “(Yaitu) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati,” maksudnya mereka berjalan dengan tenang dan penuh kewibawaan, tanpa kesombongan dan keangkuhan.

Adapun hamba-hamba Allah ini, mereka berjalan tanpa kesombongan, tanpa sikap membanggakan diri, tanpa keangkuhan dan kesewenang-wenangan. Sebab, junjungan seluruh anak Adam, Nabi Muhammad SAW, apabila berjalan, langkahnya seolah-olah menuruni tempat yang landai, dan seakan-akan bumi dilipat untuk beliau.

Al-Hasan al-Bashri berkata: “Mereka orang-orang yang penyantun. Apabila orang lain berlaku bodoh kepada mereka, mereka tetap bersikap sabar.” Mereka juga senang bergaul dengan sesama hamba Allah pada siang hari dengan akhlak mulia. Adapun malam mereka merupakan malam yang paling mulia, yaitu dipenuhi dengan ibadah kepada-Nya.

Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan makna firman Allah: “Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan ‘salam’.” An-Nahhas menjelaskan bahwa kata “salam“ di sini bukan berarti ucapan salam (assalamu’alaikum), melainkan bermakna keselamatan dan melepaskan diri dari perselisihan.

Dalam bahasa Arab, ucapan “salāman” dapat bermakna: “Aku berlepas diri darimu; tidak ada pertengkaran antara kita.“ Mujahid ibn Jabr menafsirkan: “Mereka mengucapkan perkataan yang benar.“ Yakni, mereka menjawab orang bodoh dengan ucapan yang lembut sehingga mampu meredakan kebodohannya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa seseorang memang dianjurkan mengucapkan kata “salāman” kepada orang yang bodoh, yaitu sebagai ungkapan meninggalkan pertengkaran.

Nilai-Nilai Pedagogis

QS Al-Furqan: 63 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Pendidikan Akhlak (Tawadhu’). Ayat ini mengajarkan pentingnya sikap rendah hati dalam kehidupan. Frasa “yamshūna ‘alā al-arḍi hawnā” menunjukkan bahwa seorang Mukmin tidak berjalan dengan kesombongan, tetapi dengan ketenangan, kesederhanaan, dan penuh kewibawaan.

Guru dan orang tua harus mendidik dan membentuk pribadi peserta didik yang rendah hati, yang senang menghargai sesama manusia tanpa membedakan status sosial dan menumbuhkan sikap santun dalam pergaulan. Anak yang sederhana akan bersikap rendah hati kepada guru, orang tua, dan teman, serta mereka tidak akan membanggakan harta, ilmu, maupun jabatan; yang mereka cari keridhaan Allah SWT dan ampunan-Nya.

Kedua, Nilai Pendidikan Pengendalian Diri (Self-Control). Ayat ini mengingatkan untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan. Dalam menghadapi orang yang berperilaku buruk, seorang Mukmin harus membalas dengan salam, yaitu dengan ucapan keselamatan dan perdamaian yang tidak menimbulkan pertengkaran.

Guru dan orang tua harus melatih kesabaran peserta didik dan memberikan pelajaran mengendalikan amarah serta tidak mudah terpancing provokasi. Anak yang dilatih berbuat kebaikan, menyukai perdamaian, dan menghindari permusuhan akan menjadi hamba yang disenangi oleh Allah dan makhluknya. Mereka akan menjaga keamanan dan perdamaian bangsa dan agama.

Ketiga, Nilai Pendidikan Komunikasi yang Santun. Ayat ini mengajarkan etika berbicara yang baik bahkan kepada orang yang bersikap kasar. Berbicara yang santun akan melahirkan ketenangan, kerendahhatian, kewibawaan dan dihormati orang lain serta menghormati orang lain.

Guru dan orang tua harus menggunakan bahasa yang lembut dan mengajarkan bahasa santun kepada peserta didik agar mereka pandai menjaga lisan dari perkataan buruk dan senang mengedepankan perdamaian dalam komunikasi. Anak yang terbiasa santun akan berbicara sopan kepada siapa pun, menghindari ujaran kebencian dan bijak dalam bermedia sosial.

Keempat, Nilai Pendidikan Kepribadian Islami. Ayat ini menggambarkan identitas seorang Mukmin sejati yang memiliki akhlak mulia. Islam mendidik kaum Muslimin agar mengedepankan akhlak yang baik dalam kondisi apa pun dan situasi apa pun dengan tenang, rendah hati, dan konsisten berbuat baik

Guru dan orang tua harus memberikan teladan dan menjadikan akhlak sebagai cerminan keimanan untuk menumbuhkan integritas pribadi peserta didik yang taat dan menjadi teladan bagi masyarakat. Anak yang tumbuh dengan akhlak yang mulia akan menjadi generasi yang terpuji dan mampu mengendalikan hawa nafsunya dengan baik. Maka ia tumbuh menjadi hamba Allah yang taat dan senang berbuat kebaikan.

Landasan Teoretis

Pribadi yang menenangkan merupakan sosok yang kehadirannya memberikan rasa aman, nyaman, damai, dan manfaat bagi orang lain melalui ucapan, sikap, maupun tindakannya. Sebaliknya, pribadi yang meresahkan merupakan individu yang sering menimbulkan kegelisahan, konflik, ketakutan, atau ketidaknyamanan melalui perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

“Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Al-Isra’: 53)

Dalam hadis Nabi SAW dijelaskan bahwa ukuran kemuliaan seorang Muslim bukan hanya banyaknya ibadah ritual, tetapi juga sejauh mana orang lain merasa aman darinya. Dan ia mampu mengendalikan lisan dan tangannya.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim sejati yaitu orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menjadi landasan bahwa seorang Muslim wajib menjaga ucapan dan perbuatannya agar tidak menyakiti orang lain. Rasa aman yang dirasakan masyarakat merupakan indikator menjadi pribadi yang menenangkan.

Demikian, tidak semua hal yang diketahui harus disampaikan apabila justru menimbulkan keresahan atau perpecahan maka sebaiknya kita diam atau mengungkapkan perkataan yang baik.

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَــقُلْ خَــــيْرًا أَوْ لِيَـصـــمُــتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari)

Lisan merupakan bagian vital yang jika disalahgunakan efeknya bisa lebih mengerikan daripada pedang. Karenanya, Nabi mewanti-wanti soal urgensi menjaga lisan dan menyodorkan dua pilihan saja: berkatalah yang baik atau diam.

Sikap tenang berasal dari Allah dan sikap tergesa-gesa berasal dari setan. Oleh karena itu, kita harus tenang dalam menghadapi apa pun ujian dan cobaan yang kita hadapi.

Rasulullah SAW bersabda:

التَّأَنِّيُ مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

Sikap tenang (tidak tergesa-gesa) berasal dari Allah, sedangkan tergesa-gesa berasal dari setan. (HR Abū Ya‘lā)

Tidak tergesa-gesa merupakan ciri orang berakal. Ia berpikir jernih, mempertimbangkan dampak, dan mendahulukan akhirat daripada nafsu sesaat. Itulah sebabnya, Allah mencintai orang-orang yang tenang dan tidak tergesa-gesa, karena ia menyerahkan keputusan akhir kepada-Nya.

Dengan sikap tenang, ibadah yang kita lakukan akan lebih khusyuk dan lebih fokus kepada Allah SWT, sehingga ibadah yang kita lakukan akan menjadi perantara untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Karena itu, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ……

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada)…” (QS Al-Fath: 4)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa sikap tenang merupakan sikap orang-orang beriman, karena semua tindakan dan perbuatannya akan selalu berada dalam bimbingan Allah dan dalam pertolongan-Nya.

Bahayanya sikap yang meresahkan orang lain, apalagi tanpa ada kesalahan  yang mereka perbuat, maka mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata. Maka hindarilah perbuatan ini, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ

“Orang-orang yang menyakiti Mukminin dan Mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Ahzab: 58)

Ayat ini menegaskan, menyakiti orang-orang Mukmin, baik laki-laki maupun perempuan, tanpa kesalahan yang mereka perbuat, merupakan perbuatan dosa. Mereka telah melakukan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama Islam.

Tidak Meresahkan Orang Lain

Lalu bagaimana cara menjadi Muslim yang menenangkan dan tidak meresahkan orang lain? Berikut beberapa tipsnya. Pertama, menjaga lisan. Dengan lisan, kita bisa menyejukkan dan menenangkan hati orang lain, tetapi dengan lisan pula kita bisa melukai perasaan mereka, bisa memecah belah persaudaraan, bahkan menghancurkan rumah tangga.

Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang Muslim sejati adalah orang yang Muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, senantiasa berusaha menjadi Muslim yang penyayang. Sikap penyayang menjadi salah satu inti dari ajaran Rasulullah SAW. Sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadisnya, yaitu:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ! ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Allah Yang Maha Pengasih! Sayangilah siapa saja yang ada di bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian.” (HR At-Tirmidzi)

Ketiga, senantiasa berusaha menahan amarah dan memperbanyak bersabar. Menjadi manusia yang menenangkan berarti kita harus mampu mengendalikan emosi, menahan amarah, serta menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin dan penuh kesabaran. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang kuat bukanlah mereka yang pandai bergulat, tetapi ia yang mampu menahan diri saat marah.” (HR Bukhari & Muslim)

Keempat, menolak keburukan dengan kebaikan. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَسْتَوِى الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۗ اِدْفَعْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ فَاِذَا الَّذِيْ بَيْنَكَ وَبَيْنَهٗ عَدَاوَةٌ كَاَنَّهٗ وَلِيٌّ حَمِيْمٌ

“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (QS Fushshilat: 34)

Kelima, bersikap tawadhu’ (rendah hati). Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ (رواه مسلم)

”Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar bersikap tawadhu’ (rendah hati), hingga seorang tidak menyombongkan dirinya di hadapan orang lain dan tidak saling menganiaya.” (HR Muslim, No. 2865)

Keenam, berlapang dada dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰۤىِٕرَ الْاِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَۚ

“(Kenikmatan itu juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS Asy-Syura: 37)

Kisah Teladan

Dikisahkan dalam Kitab Ar-Riqqah karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi, seorang ulama besar ahli tafsir, hadis, dan fikih yang bergelar Syaikh al-Islam Muwaffaq al-Din.

Disebutkan dalam bukunya bahwa salah satu ciri orang shalih yang digambarkan dalam buku ini yaitu kecintaan mereka yang mendalam kepada Allah, zuhud terhadap dunia, dan kesungguhan dalam mengingat-Nya.

Sebagaimana Nabi Muhammad SAW digambarkan dengan keteguhannya dalam berdakwah meski menghadapi penindasan kaum Quraisy. Pengucilan selama tiga tahun, kematian Abu Thalib dan Khadijah, serta lemparan batu di Tha’if tidak menghentikan langkahnya. Hingga akhirnya, dakwah beliau diterima di Madinah, membuka babak baru peradaban Islam.

Etos dakwah Nabi ialah tidak pernah memaksakan Islam dalam dakwahnya. Ia menghadirkan kebenaran Islam dalam akhlak mulianya sehingga Islam diterima oleh siapa pun. Nabi dan para pengikutnya juga tidak berperang dan memerangi. Perang yang dilakukan oleh Nabi dan umatnya dilakukan karena terlebih dahulu diperangi; mempertahankan diri dari serangan kaum musyrikin merupakan kewajiban agama.

Tiga sifat Nabi SAW yang mendorong keberhasilan Islam. Pertama, sepanjang hayatnya, Rasulullah SAW memikirkan umatnya. Ia sama sekali tidak menginginkan umatnya menderita di hari kemudian.

Kedua, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan umatnya. Ini merupakan ungkapan cinta, kasih sayang sekaligus harapan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Ketiga, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang-orang Mukmin. Beliau memiliki rasa kasih sayang teramat mendalam pada kaum beriman.

Tiga sifat itulah yang kemudian menopang keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW. Akhlak mulia, cinta, dan kasih sayang yang mewujud dalam penjelasan ayat di atas merupakan fondasi dakwah Nabi SAW dengan mengedepankan akhlakul karimah karena tersimpan harapan besar Nabi kepada umatnya.

Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk senantiasa berusaha dengan kemampuannya sendiri dan jangan meminta-minta kepada orang lain. Islam melarang keras umatnya meminta-minta, menampakkan kemiskinan dan kelemahan. Muslim diperintahkan agar senantiasa bekerja keras, sehingga menjadi umat yang kuat dan menjadi teladan bagi umat lain. Dengan mampu berdiri sendiri, kita akan merasakan ketenangan, bukan keresahan.

اَللَّهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَاَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kebingungan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari ketakutan dan kekikiran, serta dari lilitan utang dan tekanan manusia.“ (HR Bukhari, No. 6369)  []

 

Tags: Rendah hatiTawadhu'Tenang
ShareTweetSend
Previous Post

BAZNAS dan MUI Beri Penghargaan bagi Penegak Hukum Sahabat Dhuafa dan Miskin

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rumah di Negeri Samurai (Bagian 1)

Rumah di Negeri Samurai (Bagian 1)

28 June 2026
Nilai Rata-Rata TKA SDIT Insantama Leuwiliang Lampaui Rata-Rata Nasional

Nilai Rata-Rata TKA SDIT Insantama Leuwiliang Lampaui Rata-Rata Nasional

28 June 2026
Nilai TKA SMPIT Insantama Leuwiliang Lampaui Rata-Rata Nasional dan Jawa Barat

Nilai TKA SMPIT Insantama Leuwiliang Lampaui Rata-Rata Nasional dan Jawa Barat

28 June 2026
UNIDA Gontor Gelar Kuliah Kerja Nyata di SIC Mesir

UNIDA Gontor Gelar Kuliah Kerja Nyata di SIC Mesir

28 June 2026
Cetak Generasi Unggul, SDIT Insantama Leuwiliang Sukses Gelar Insantama Special Moment 2026

Cetak Generasi Unggul, SDIT Insantama Leuwiliang Sukses Gelar Insantama Special Moment 2026

27 June 2026
Pondok Gontor Putri Siap Sambut Ribuan Alumni di Reuni Akbar Gontor Putri 2026

Pondok Gontor Putri Siap Sambut Ribuan Alumni di Reuni Akbar Gontor Putri 2026

0
10,5 Miliar: Transaksi FORBIS National Economic Summit 2026

10,5 Miliar: Transaksi FORBIS National Economic Summit 2026

0
Program Pembelajaran SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Inspirasi Sekolah Negeri

Program Pembelajaran SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Inspirasi Sekolah Negeri

0
BAZNAS dan UNISSA Brunei Darussalam Bangun Kolaborasi Riset Zakat

BAZNAS dan UNISSA Brunei Darussalam Bangun Kolaborasi Riset Zakat

0
BAZNAS: Transformasi Tiga Aktor Zakat Kunci Filantropi Islam Berkelanjutan

BAZNAS: Transformasi Tiga Aktor Zakat Kunci Filantropi Islam Berkelanjutan

0
Pondok Gontor Putri Siap Sambut Ribuan Alumni di Reuni Akbar Gontor Putri 2026

Pondok Gontor Putri Siap Sambut Ribuan Alumni di Reuni Akbar Gontor Putri 2026

2 July 2026
10,5 Miliar: Transaksi FORBIS National Economic Summit 2026

10,5 Miliar: Transaksi FORBIS National Economic Summit 2026

2 July 2026
Rumah di Negeri Samurai (Bagian 3-Selesai)

Rumah di Negeri Samurai (Bagian 3-Selesai)

1 July 2026
BAZNAS: Transformasi Tiga Aktor Zakat Kunci Filantropi Islam Berkelanjutan

BAZNAS: Transformasi Tiga Aktor Zakat Kunci Filantropi Islam Berkelanjutan

1 July 2026
Bersama Kemenag, BAZNAS Optimalkan 25 Ribu Penyuluh Agama Jadi Juru Literasi Zakat

Bersama Kemenag, BAZNAS Optimalkan 25 Ribu Penyuluh Agama Jadi Juru Literasi Zakat

1 July 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Repost from @irengsepur Dirgahayu 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Merupakan sebuah kebanggaan dan kehormatan sebagai salah satu alumni Pondok Modern Darussalam Gontor dapat turut menyemarakkan Milad Satu Abad ini. Meskipun belum dapat hadir secara langsung, Alhamdulillah di sela-sela kegiatan latihan saya diberikan izin oleh kesatuan untuk mengibarkan bendera Pondok Modern Darussalam Gontor di ketinggian  500 ft di atas langit Majalengka. Bagi saya, ini bukan sekadar sebuah penerjunan, tetapi bentuk penghormatan, rasa syukur, dan kecintaan kepada almamater yang telah membentuk karakter dan perjalanan hidup saya.Salam takzim kepada seluruh Bapak Kiai dan para Asatidz atas segala ilmu, doa, dan keteladanan yang telah diberikan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, dan membalas setiap pengabdian dengan pahala yang berlipat.Dirgahayu 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Semoga Gontor senantiasa menjadi mercusuar peradaban Islam, terus melahirkan generasi pemimpin yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi umat. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan memberkahi Gontor sepanjang masa. Aamiin ya Rabbal
  • 🎓BEASISWA JALUR RAPOR✨Kabar gembira bagi alumni Pondok Modern Darussalam
Gontor & Pondok Pesantren Alumni Gontor!Dapatkan beasiswa Free Uang gedung dan Potongn UKT
50% disetiap semester sampai lulus kuliah di Universitas
Ary Ginanjar (UAG) dan wujudkan impianmu menjadi
profesional unggul di berbagai bidang!✍️Syarat Pendaftaran:
✅Lulusan Gontor dan rekanan Gontor tahun
2022-2025
✅Memiliki Hafalan Qur
  • Pre-Order Majalah Gontor Edisi Bulan Juli 2026.1 ABAD GONTOR DALAM SATU GENGGAMAN!
Edisi Paling Bersejarah yang Tak Akan Dicetak Ulang.Menyambut 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, miliki Majalah Gontor Edisi Spesial bulan Juli - September 2026.KUOTA CETAK SANGAT TERBATAS!
Sistem otomatis ditutup jika stok ludes. Jangan sampai Anda menyesal karena melewatkan edisi bersejarah ini!
Siapa cepat, dia dapat.AMANKAN STOK ANDA SEKARANG!
Kunjungi: https://bit.ly/keranjang-buku
Pengiriman Majalah di tanggal 10 juli 2026.
  • Alur Pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Pondok Modern Darussalam GontorSource: gontortv
https://youtu.be/cUA3pvD43i8Video ini menjelaskan alur pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor secara lengkap dan sistematis.Informasi lengkap terkait pendaftaran Program Persiapan Calon Pelajar KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dapat diakses melalui:
https://gontor.ac.id/persiapanPendaftaran online dilakukan melalui halaman resmi:
https://capel.gontor.ac.id
  • Kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor ke Pondok Pesantren Modern Darel Azhar RangkasbitungIntip momen seru kunjungan Tim Redaksi Majalah Gontor saat berkeliling melihat fasilitas, unit ekonomi, hingga suasana belajar di Pondok Pesantren Modern Darel Azhar Rangkasbitung.#DarelAzhar #MajalahGontor #KunjunganMahabbah #PondokModern #Rangkasbitung #SantriIndonesia #UkhuwahIslamiyah #DuniaPesantren #Gontor #LiterasiSantri
#majalahgontor
#gontornews
  • Tujuan dari sains Islam adalah meletakkan kembali jejak Tuhan di dalam kausalitas alam, agar manusia tidak arogan dan menganggap alam bekerja tanpa pencipta.Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A.Ed., M.Phil.#nasehat
#motivasionline
#belajarbaik
#hidupislami
#kehidupanislam
#majalahgontor
#gontornews
#kiaiku
#memperbaikidiri
#ilmupengetahuan
  • Membaca Al-Qur
  • Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan
  • Nasehat dalam memimpin suatu lembaga:
(Yang sulit dan menjadi tantangan dalam memimpin lembaga itu adalah:)
1. Noto Atine Dewe
2. Noto Atine Wong Liyo
3. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo
4. Noto Atine Wong Liyo Sing luwih Tuo Sing Tukaran.KH Hasan Abdullah Sahal#nasehat
#motivasi
#belajar
#hidup
#kehidupan
#majalahgontor
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result