Paramaribo, Gontornews — Mayoritas penduduk Suriname adalah penganut agama Kristen. Sedangkan sepertiga jumlah penduduknya kini telah dipenuhi dengan komunitas Muslim. Dan ternyata kebanyakan dari mereka adalah keturunan Jawa.
Suriname merupakan salah satu contoh negara kaya etnis yang warganya terbukti sangat toleran terhadap perbedaan. Etnis yang ada di negara itu meliputi Creole, India, Jawa, Marun (Afrika), Cina, Indian amerika, Lebanon, dan Brazil.
Agama yang tercatat di sana meliputi Kristen, Hindu, Islam, Winti, dan berbagai keyakinan asli yang belum diberi nama. Sekarang orang keturunan Jawa di Suriname berjumlah 70.000 jiwa.
Masyarakat Jawa telah menjadi etnis keempat terbesar setelah Creole (campuran Belanda dan Afrika), Hindustan (India), dan Marun (Afrika).
Kehadiran warga Jawa khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur berawal pada tahun 1890-1939. Kala itu, sekitar 33.000 orang Jawa telah tergiur dengan janji manis kekayaan yang dipikir bisa diperoleh sepulangnya mereka dari Suriname.
Sayangnya, takdir berkata lain. Di sana mereka hanya dijadikan sebagai kuli kontrak selama lima tahun di sebuah perkebunan tebu dan coklat. Layaknya nasib yang dialami para kuli kontrak asal India, Cina, dan Timur Tengah.
Setelah selesai masa kontrak, orang-orang Jawa ini terlalu malu dan miskin untuk pulang ke tanah air hingga akhirnya mereka menetap di sana dan saling menikah satu sama lain.
Dalam masa sulitnya, warga Jawa tetap berusaha mempertahankan tradisi Jawa guna menjaga persatuan dan persaudaraan antar sesama etnik. Tradisi tersebut nyaris sama dengan masyarakat Jawa di Indonesia.
Hanya saja, jika diteliti lebih dalam, keyakinan orang Jawa di Suriname terhadap Islam cenderung bercampur dengan Kejawen. Hingga saat tiba di Suriname arah masjid yang dibangun pun sengaja diarahkan ke barat sama seperti di Indonesia.
Tak lama setelah itu, datanglah kaum Muslim reformis yang lantas membangun masjid ke arah timur yang dianggap lebih tepat menghadap ke Ka’bah (Mekkah).
Semenjak itulah Muslim Suriname terbagi menjadi dua yakni aliran Barat (Jawa) / wong madep ngulon dan aliran Timur (India dan orang jawa reformis).
Tidak berhenti di situ saja, kaum reformis juga menunjukkan perbedaannya dengan menentang tradisi selamatan dan tayub yang dilakukan aliran Muslim Barat.
Barangkali bisa dibuat kesimpulan bahwa agama Islam dan tradisi di Pulau Jawa pada abad ke 19 adalah kurang lebih sama seperti yang masih dipraktekkan orang Jawa di Suriname.
Sekarang ini para generasi muda Jawa di Suriname sudah mulai meninggalkan tradisi Jawa itu dan lebih memilih tradisi praktis modern. Bahkan, sudah jarang pula yang bisa berbahasa Jawa. [Edithya Miranti]





















