pesanan-baju-kaos
28 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 8 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

Negara Berada di Balik Ratusan Korban Pemilu?

Oleh Ma'mun Murod Al-Barbasy, Cendekiawan Muslim

M Khaerul Muttaqien by M Khaerul Muttaqien
8 years ago
in Kolom
0
Negara Berada di Balik Ratusan Korban Pemilu?

Korban kejahatan Pemilu 2019 yang terstruktur, sistematis, masif, dan brutal sudah tembus lebih dari 400 orang. Kebanyakan korban merupakan pelaksana pemilu di level paling bawah. Semoga korban tidak terus bertambah dan secara bertahap menyasar pelaksana pemilu sampai ke tingkatan yang paling atas, seiring terus berprosesnya penghitungan suara ke tahapan yang lebih atas.

Meskipun korban terus bertambah, berkali-kali lipat bila dibandingkan dengan misalnya korban “bom Bali”, namun sikap negara tampak masih begitu dingin. Nyaris tak ada sikap negara yang pantas mendapat apresiasi. Bagaimana mau memberikan apresiasi kalau menyikapi begitu banyak korban, negara kecuali hanya bicara soal santunan terhadap korban meninggal dan yang masih dirawat di rumah sakit. Ini sikap yang menjengkelkan dan tak patut dipertontonkan oleh institusi bernama negara.

Negara misalnya tak ada upaya untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang mandiri yang melibatkan banyak pihak untuk mengusut kasus yang tak lazim dalam sejarah pemilu di Indonesia.





Semestinya negara mengambil inisiatif membentuk tim khusus untuk menyelidiki lebih jauh atas jatuhnya korban yang berjumlah ratusan tersebut.
Dingin dan tak acuhnya negara ini patut dicurigai atau diduga bahwa negara sebenarnya berada di balik jatuhnya banyak korban tersebut.

BACA JUGA

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Al-Qur’an Menyeru Keseimbangan Hidup

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Sebagai pelaksana pemilu, Komisi Pemilihan Umum (KPU), setidaknya yang tergambar dari pernyataan Ketua KPU Arif Budiman juga terkesan mencoba menyederhanakan masalah bahwa jatuhnya banyak korban itu lebih karena kelelahan. Ini cermin pernyataan dari seorang yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab terhadap “anak buahnya” yang menjadi korban.

Bagaimana mungkin “kelelahan” dijadikan sebagai kambing hitam atau faktor tunggal yang determinan atas jatuhnya ratusan korban tersebut.
Sikap ini diambil jangan-jangan karena KPU sudah merasa menjadi bagian dari negara (terstruktur) sehingga tidak merasa perlu untuk secara serius melihat kemungkinan adanya faktor lain di luar faktor “kelelahan” sebagai penyebab jatuhnya banyak korban, misalnya dengan menyebut atau menuduh bahwa institusi negara berada di balik jatuhnya banyak korban.



Menyebut bahwa ratusan korban meninggal semata karena faktor kelelahan jelas sangat sulit dinalar oleh akal sehat. Kalau korban jatuh hanya di kisaran angka satu atau dua digit mungkin masih bisa dipahami untuk menyebut kelelahan sebagai penyebab utama kematian. Sementara korban saat ini sudah mencapai ratusan orang, tak seharusnya kelelahan dijadikan sebagai alasan utama. Kalau kelelahan menjadi alasan utama, seharusnya bukan (hanya) penyelenggara pemilu, tapi para caleg (yang secara serius) berbulan-bulan turun di daerah pemilihan dengan tingkat kecapaian yang luar biasa, semestinya yang jadi korban.

Kalau alasan pemilu serentak menjadikan para petugas pemilu kelelahan dan kemudian meninggal juga tidak sepenuhnya benar dan cenderung berlebihan.

Kalau dari sisi waktu pelaksanaan, Pemilu 2019 sebenarnya tak berbeda jauh dengan Pemilu 2009 dan Pemilu 2014. Bedanya, bila Pemilu 2009 dan 2014 hanya memilih empat kertas suara, sementara pada Pemilu 2019 tambah menjadi lima kertas suara: plus kertas suara pilpres. Dari beberapa TPS, tercatat penghitungan suara pilpres hanya memakan waktu kurang lebih sejam. Artinya, bila dibandingkan Pemilu 2009 dan 2014,.maka waktu pelaksanaan Pemilu 2019 praktis hanya bertambah sejam, sehingga tidak beralasan kalau bertambahnya waktu sejam menyebabkan petugas pemilu menjadi kelelahan.

Selain alasan kelelahan, semestinya KPU Pusat harus mencoba mencari menyebab lain atas jatuhnya ratusan korban. Penyebab lain sangat mungkin dilakukan oleh makhluk bernama negara yang dalam pengertian Weber memang mempunyai kewenangan untuk melakukan tindak kekerasan.

Representasi negara dalam konteks Pemilu 2019 tentu melekat pada petahana. Karenanya, yang potensial untuk melakukan tindak kekerasan politik adalah petahana.
Negara bisa sangat mungkin melakukan kejahatan pada dua hal. Pertama, menekan pelaksana pemilu untuk memenangkan petahana, tentu dengan segala cara, yang setidaknya tergambar dari beragam modus kecurangan yang terjadi. Tekanan harus memenangkan petahana sangat mungkin membuat seseorang merasa tertekan dan bercampur depresi. Satu sisi -mungkin- mereka mencoba bersikap jujur dan adil sebagai penyelenggara pemilu, namun di sisi lain mereka mendapat tekanan hebat untuk memenangkan petahana. Akibatnya mereka tidak hanya stress, tapi juga mengalami depresi yang berujung pada kematian. Banyak fakta di lapangan tentang hal ini, termasuk tekanan berupa tawaran uang dalam jumlah sangat besar untuk pelaksana pemilu di tingkat kecamatan kalau berhasil memenangkan (baca: mengubah) suara petahana yang kalah menjadi menang.

Kedua, belajar dari pengalaman kematian yang terasa janggal yang kerap menimpa beberapa orang yang bersinggungan dengan kekuasaan, seperti yang menimpa Ketua KPU Husni Kamil Manik, sangat mungkin juga kematian ratusan orang penyelenggara pemilu ini juga bagian dari rekayasa negara untuk agenda kemenangan petahana. Semoga dugaan saya ini salah.

Tags: JanggalKorbanPemilu
Share27Tweet17Send
Previous Post

Gubernur Anies Sambut Para Imam Palestina

Next Post

Berbagai Negara di Dunia Tetapkan Awal Ramadhan 1440 H 6 Mei

M Khaerul Muttaqien

M Khaerul Muttaqien

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

KH Izzat Fahd Ajak Santri Baitul Arqom Jember Selalu Menjaga dan Memperjuangkan Pondok

2 November 2026
Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

Kiai Jamhari dan Wasiat Kemandirian Perempuan

2 November 2026

Komjen (Purn) Dr Nurfaizi Suwandi: Mutiara Indonesia di Negeri Piramida

13 February 2018
Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

Santriwati Darul Muttaqin Parung Bogor Kunjungi Majalah Gontor

1 November 2026
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

0
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

0
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

0
Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

Marching Band Gontor Ikut Kompetisi Piala Raja Hamengkubuwo X

0
masjid asmaul husna

Masjid 99 Kubah, Keindahan Arsitektur dengan Filosofi Asmaul Husna

0
Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

Raudhatul Hasanah Medan ‘Belajar’ Bahasa Arab dari Mumtaza Banjarnegara

7 November 2026
Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

Materi Mitigasi Bencana Harus Masuk Kurikulum Pesantren

7 November 2026
Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

Universitas Pancasila Jakarta Kukuhkan Dua Guru Besar

6 November 2026
Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

Menko PM Muhaimin Iskandar Apresiasi Pesantren Al Hikmah 2 Bumiayu

5 November 2026
Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

Kemenag Lantik 15 Anggota Majelis Masyayikh 2026-2031

5 November 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result