Jakarta, Gontornews — Kelembagaan penyebaran dakwah Syi’ah di Indonesia telah sedemikian marak. Tepatnya, semenjak jatuhnya Shah Iran dan tampilnya Khomeini menjadi pemimpin tertinggi Iran.
Terdapat dua sayap pergerakan Syi’ah di Indonesia, yaitu Lembaga Komunikasi Ahlul Bait (LKAB) dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Gerakan Syi’ah juga didukung dengan pendirian berbagai yayasan pendidikan sebagai basis pengkaderan seperti Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Bangil, Jawa Timur, Yayasan al-Qubra Ampenan, Lombok, Islamic Cultural Centre (ICC), dan Yayasan al-Huda.
Ali Husein, Sekretaris ICC, dalam wawancara eksklusive dengan Gontornews.com, Jakarta, menyebutkan, “Syi’ah tidak pernah melakukan tindakan kekerasan sebagaimana diberitakan selama ini.” Sunni dan Syi’ah semuanya sama. Ada sedikit perbedaan tetapi hanya dalam soal fiqih, tidak aqidah, bela Ali.
“Syi’ah selalu membantah isu-isu miring tersebut lewat dalil aqliy maupun naqliy,” tambah Ali, pria berkulit putih ini. Selama ini yang dimunculkan selalu membahas soal taqiyah dan mut’ah saja. Itupun tidak dari sumber asli Syi’ah yang utama dan jelas. Hal inilah yang menurut Ali Husein sebagai bentuk propaganda yang dilakukan musuh-musuh Islam. Yang suka mengambil manfaat dari perpecahan Muslimin.
Menyikapi perkembangan Syi’ah di Indonesia, MUI Pusat pun menyatakan dukungannya terkait gagasan yang disampaikan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) untuk memelihara umat Islam Indonesia dari aliran sesat Syi’ah.
Dr H Abdul Chair Ramadhan SH MH MM, dalam bukunya, “Syi’ah Menurut Sumber Syi’ah”, juga menyebutkan soal beberapa tahapan Syiahisasi. Tahapan pertama, menanamkan keraguan transmisi agama melalui jalur sahabat Nabi SAW. Kedua, digalakkan rasa kebencian kepada isteri dan sahabat Nabi SAW. Sedangkan ketiga, internalisasi ideology imamah.
Pada tahap terakhirlah, seseorang dibentuk menjadi Syi’ah ideologi, dengan melepaskan taqiyyah-nya. Seiring dengan itu, mereka juga menampakkan dan menunjukkan posisi tabiah. Proses penanaman ideology ini menjadi karakter seseorang penganut Syi’ah menjadi sangat militan.
Bukan hanya memperjuangkan pengakuan jati dirinya sebagai pilar bangunan negara. Di mana saja dan kapan saja, mereka akan selalu mengedepankan imamah dan loyalitas yang sangat tinggi kepada Marja yang ditaklidnya. Terlebih kepada Waly al-Faqih.
Pemerintah Indonesia tidak menerapkan syariah Islam seutuhnya. Fatwa MUI soal ‘mewaspadai’ kehadiran aliran Syi’ah, dirasa masih belum membuat masyarakat kita peka akan bahayanya. “Kecuali sudah ditetapkan bahwa aliran Syi’ah Iran adalah aliran sesat,” tambah Dr Chair dalam bedah bukunya di bilangan Jakarta Utara. <Edithya Miranti>





















