Guru menjadi ujung tombak masa depan bangsa. Guru memiliki peran signifikan dalam keberhasilan sebuah pendidikan. Guru yang tidak berkualitas akan melahirkan anak didik yang lemah. Sebaliknya, guru yang penuh dedikasi akan melahirkan anak didik yang berkualitas.
Pimpinan Pondok Modern Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi dalam sebuah pidatonya menegaskan, seorang guru harus menguasai pelajaran yang diajarkan. Tidak cukup dengan pelajaran, ia juga harus memahami metode yang tepat untuk mengajar. Berikutnya seorang guru harus memiliki keterampilan mengajar yang baik.
“Akan tetapi, ketiganya tidaklah cukup di Gontor. Ada faktor lain yang mana menjadi fondasi kesemuanya itu yaitu jiwa guru,” tegasnya.
Ada sebuah adagium yang kerap terdengar di lingkungan Pondok Modern Gontor bahwa metode lebih penting daripada pelajaran, pengajar lebih penting daripada metode, akan tetapi, di balik itu semua, ruh guru lebih penting daripada guru itu sendiri.
“Guru adalah pengemban amanat, seorang agent of change. Alangkah dahsyatnya peran seorang guru,” tuturnya.
Kiai Syukri menjelaskan, cara membangun jiwa dengan meningkatkan kedekatan kita kepada Allah. Dengan melakukan amalan-amalan wajib, ditambah dan disempurnakan dengan amalan-amalan sunnah. “Bayangkan jika kita mengajar dengan ‘jiwa’. Niat kita ikhlas dalam mengajar, membimbing dan mendidik murid, ikhlas dalam menasihati, disiplin ketika mengajar, berakhlak baik kepada murid, mendoakan mereka di setiap selesai shalat kita atau bahkan mendoakan mereka di sepertiga malam-malam kita. Ilmu dan nasihat-nasihat yang kita berikan terpancar murni dari relung jiwa,” ungkapnya.
Dr Adian Husaini dalam sebuah artikelnya yang berjudul “Menjadi Guru Beradab” menegaskan, guru dalam pandangan Islam adalah mu’allim dan mu’addib. Jadi, guru harus memiliki ilmu dan adab.
“Ilmu penting karena ilmu inilah yang akan diajarkan ke murid, sedangkan adab merupakan perhiasan ilmu. Ilmu dan adab tidak boleh dipisahkan. Ilmu dan adab harus ada dalam diri seorang guru,” tulisnya.
Adian menambahkan, definisi guru sebagai mu’allim dan mu’addib, walaupun sudah jamak diketahui, perlu terus-menerus diingatkan. Kadang-kadang guru lupa dengan tugasnya sebagai guru. Guru hanya merasa sebagai pengajar semata; masuk kelas, menyajikan materi pelajaran, menguji murid, dan seterusnya. Guru tidak merasa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perbaikan akhlak dan adab murid.
Guru bukan “tukang ngajar”, begitu istilah Adian. Tugas guru bukan tugas tukang. Tukang hanya menyelesaikan pekerjaan fisik. Ketika pekerjaan fisik selesai, tukang tidak bertanggung jawab terhadap ruh pekerjaannya, sebab yang tukang kerjakan memang benda mati yang tidak berubah. Murid tidak demikian. Murid adalah manusia yang memiliki fisik dan jiwa.
Guru tidak hanya bertanggung jawab berbagi ilmu kepada murid tetapi juga bertanggung jawab memperbaiki jiwa murid. Di sinilah peran guru sebagai penanam adab.
Sebagai agen penanam adab, guru perlu lebih dulu berbenah daripada murid. Sebuah mahfuzhat berbunyi, “ath thariqah ahamu minal madah, wal ustaadzu ahammu min ath-thariqah, wa ruuhul ustadz ahammu min al ustadz. (metode pelajaran lebih penting dari pelajaran, guru lebih penting dari metode, dan ruh guru lebih penting dari guru itu sendiri)”.
Ungkapan ini menunjukkan, perbaikan dunia pendidikan secara keseluruhan harus dimulai dari perbaikan jiwa guru. Jiwa atau ruh gurulah yang perlu lebih dahulu dibenahi sebelum gedung-gedung, buku-buku pelajaran, dan berbagai strategi pendidikan dan pembelajaran.
Gedung, buku, dan strategi pembelajaran penting, tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah jiwa guru sebab guru merupakan ujung tombak pendidikan sedang guru itu sendiri sangat bergantung kepada jiwanya.
Selain dituntut memiliki pola pikir yang benar, guru juga dituntut memiliki amaliah yang dapat diteladani. Dalam kitab Taisirul Khallaq fii ‘Ilmil Akhlaq, Hafizh Hasan Mas’udi menekankan bahwa guru merupakan dalilu tilmidzi (panutan/tuntunan murid). Sebagai dalil murid, guru harus benar agar murid tidak salah.
Pentingnya Adab
Kitab Taisirul Khallaq fii ‘Ilmil Akhlaq merupakan kitab tipis yang disiapkan untuk santri-santri diniyah. Uniknya meskipun kitab ini ditujukan kepada anak-anak diniyah, bab adabul mu’allim (adab guru) diletakkan paling depan setelah bab taqwa sebagai tujuan berakhlak.
Ini menunjukkan bahwa guru harus beradab terlebih dahulu agar dapat membimbing dan menjadi panutan bagi murid-muridnya.
Menurut Adian , hilangnya adab (the loss of adab) dalam proses pendidikan adalah bencana bagi peradaban Islam. Sebab adab menjadi pilar pokok dalam mengurai berbagai persoalan di tubuh umat. Dengan adab, manusia bisa menyadari posisinya di hadapan Sang Khaliq sebagai seorang hamba. Sebagaimana dengan mengedepankan adab, manusia juga mampu saling menghormati sesamanya.
“Kurang apa keluasan ilmu Imam al-Bukhari dan Muslim serta para ulama hadis, tapi mereka tetap saja menaruh hormat yang tinggi kepada Imam Asy-Syafi’i dan ulama madzhab lainnya,” terang Adian.
Pemikiran Syaikh Burhanuddin al-Zarnuji tentang konsep guru ideal dalam kitab Ta’lim Muta’allim diungkapkan bahwa guru hendaklah ikhlas dalam melaksanakan tugas, keikhlasan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya merupakan sarana yang paling ampuh untuk kesuksesan peserta didiknya dalam proses belajar.
Guru harus memiliki sifat zuhud dalam mengajar karena mencari ridho Allah, begitu juga suci badan dan anggota tubuhnya selalu terjaga dari perbuatan dosa, suci jiwanya dengan membebaskan diri dari perilaku sombong, riya, dengki, permusuhan, dan sifat tercela lainnya.
Seorang guru juga harus memiliki sifat Wara’ yaitu menjaga harga diri dari segala sesuatu yang berbau syubhat agar tetap terjaga keilmuan dan kepribadiannya. Guru juga harus mampu memerankan diri sebagai seorang pemimpin dan pembimbing dalam proses pembelajaran.
Guru juga harus memiliki sikap tegas dan terhormat, ia bukan sekedar gudang teori, tetapi juga sosok yang ditiru dan diteladani. Guru harus memiliki sikap kebapakan. Seorang guru hendaknya menyayangi para muridnya sama dengan menyayangi anak-anaknya, dan memikirkan mereka sama seperti memikirkan anak-anaknya.
Dalam sebuah pembelajaran, hubungan guru dan murid sangat penting. Keduanya perlu membentuk lingkungan yang didasari dengan keharmonisan demi tercapainya tujuan pembelajaran dengan baik. Seorang murid harus mempunyai waktu yang cukup untuk mengambil manfaat pengetahuan dan sifat-sifat terpuji dari guru.
Pola hubungan atau relasi antara guru dan murid sebagaimana dianjurkan Az-Zarnuji adalah semacam ‘labolatorium’ pembelajaran akhlak untuk relasi yang lebih besar. Relasi ini dijiwai oleh sifat-sifat sufi seperti tawadhu’, sabar, ikhlas, penuh pengertian, dan saling menghormati. Dengan demikian, harus ada hubungan ruhiyah yang baik antara guru dan murid, yaitu seperti hubungan bapak dan anak.
Jika seorang guru ingin berperan sebagai seorang bapak dalam pembelajaran, maka ia harus mempunyai sifat sempurna seperti bapak di dalam keadilan, kesabaran, mencintai, lemah lembut dalam memberikan peringatan, dan semuanya itu dilakukan untuk membentuk hubungan yang baik. []





















