pesanan-majalah-edisi-khusus
33 °c
Pecenongan
Wed
Thu
Tuesday, 8 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Wawancara

Peran Guru dalam Proses Pendidikan

Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, Pakar Pendidikan Asal Malaysia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
1 October 2019
in Wawancara
1
Peran Guru dalam Proses Pendidikan

foto: insists

Dekadensi moral makin tampak pada zaman modern ini. Di antaranya karena pandangan alam di zaman modern ini cenderung berbasis pada paham sekular. Pakar pendidikan asal Malaysia, Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, dan Penyandang Kerusi Pemikiran Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas di Raja Zarith Sofiah Center for Advanced Studies on Islam, Science and Civilization (RZS CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Kampus Kuala Lumpur, mengajak semua kaum Muslimin untuk kembali memahami worldview Islam yang komprehensif serta sistem pemikiran dan peradabannya, dan mengamalkannya dengan bijak.

Menurut pakar dan pegiat Islamisasi Ilmu (Kontemporer) dari Malaysia, Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, pandangan alam umat Islam pada masa pramodern secara umum masih kental Islami. Namun setelah memasuki zaman modern, umat Islam mulai terdedah pada pandangan alam yang dominan terhadap Barat. Terkait hal ini wartawan Majalah Gontor, Muhammad Khaerul Muttaqien, berkesempatan berbincang dengan Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, seputar pandangan alam umat Islam dan peran guru dalam kemajuan suatu bangsa. Berikut petikan wawancaranya:

Apa perbedaan mendasar pandangan alam pendidikan umat Islam pada masa pramodern dan sekarang ini?

Secara umum pandangan alam umat Islam pada zaman pramodern masih kental Islami terutama dari segi kenapa menuntut ilmu, adab pada guru, adab pada tradisi, kandungan pendidikan dan sebagainya. Walaupun dalam pandangan alam, mereka ada yang menuntut ilmu karena mau kehormatan, mau kekayaan duniawi, tapi itu hanyalah merupakan tujuan pribadi bukan institusi. Kemudian sedikit demi sedikit wacana filsafat etos pendidikan umat Islam semakin diperankan dalam tujuan-tujuan keduniawian walaupun dalam pernyataan formal masih disebut tujuan duniawi dan tujuan ukhrowi juga. Tapi secara nonformal karena tekanan publik untuk mencari pekerjaan, dan tekanan pemerintah yang meletakkan pendidikan sebagai alat kestabilan politik dan kemajuan ekonomi, tekanan duniawi itu lebih mendominasi walaupun dalam bidang keislaman. Sekarang makin parahlah. Pandangan alam di zaman modern ini cenderung berbasis pada paham sekular yang lebih sempit, yakni mengikut perspektif manajemen kapitalis neoliberal yang mengarisbawahi keuntungan keuangan. Pendidikan dijadikan sebagai wasilah terpenting untuk kemajuan duniawi. Saya memperhatikan bahwa sistem pendidikan Islam juga tertekan dengan hal-hal itu. Mereka ditekan untuk mengikuti tren sistem pendidikan sekular, terutama di perguruan tinggi.

BACA JUGA

UNIDA Ingin Duduk Bersama Universitas-universitas Kelas Dunia

Belajar Jadi Pengusaha Teladan dan Bermanfaat bagi Umat

Abad Kedua Gontor Dimulai Hari Ini!

Titik Terang Kembalikan Lunturnya Adab dalam Dunia Pendidikan  

Kembali ke Fitrah: Apa yang Berubah Setelah Ramadhan?

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pertama, karena negara-negara Islam dijajah secara langsung ataupun tidak langsung seperti di Afrika Utara oleh Prancis, di Timur Tengah seperti Mesir oleh Prancis dan Inggris. Irak, Syiria, India, Pakistan, Malaysia, Brunei oleh Inggris, Kamboja oleh Prancis, Indonesia oleh Belanda. Kedua, karena penjajahlah kemudian banyak dari worldview Barat mendominasi pendidikan umat Islam. Pandangan alam pendidikan umat Islam, dipecah pada pendidikan umat Islam di bidang yang dianggap agama dan pendidikan umat Islam dalam bidang yang dianggap bukan agama yang ditadbiri oleh penjajah dan orang-orang yang mengikuti penjajah. Semakin lama semakin besar pengaruh pendidikan Barat masuk ke dalam sistem pendidikan umat Islam, walaupun sudah merdeka. Sebab para pemimpin umat Islam setelah merdeka banyak dilatih dari Barat, baik secara langsung maupun tidak langsung dan mendominasi.

Ketiga, karena pandangan alam dan tujuan pendidikan umat Islam di sistem pendidikan penjajah keseluruhannya sekular, yakni yang dualistis memisahkan agama dari non-agama, dunia dari akhirat, akal dari wahyu, ruh dan jasad, dan yang menafikan nilai dan kebenaran yang permanen. Semua nilai dan kebenaran harus berubah mengikut perubahan sejarah, sains, gender dan kepentingan. Walaupun di kalangan individu pelajar berbeda ada yang belajar untuk dunia akhirat tapi secara formalnya untuk dunia semata-mata. Walaupun dalam sistem pendidikan Barat sekalipun waktu itu diberikan ruang juga untuk umat Islam belajar Islam yang mungkin di luar sistem formal tapi tidak dikuliahkan.

Apa peran penting guru pada masa pramodern?

Di zaman pramodern guru merupakan sumber ilmu dan sumber akhlak yang paling tinggi dan mempunyai kebebasan mengajar dan mendidik pelajarnya termasuk menghukum jika perlu. Tapi sejak worldview Barat dominan, baik dalam pendidikan yang dianggap bukan agama maupun dalam pendidikan yang agama, peranan guru semakin berkurang . Dan di tahun 1960 ke atas ini, guru hanya dianggap sebagai fasilitator untuk mendapatkan informasi, kemahiran yang diperlukan dan lulus pepereksaan, bukan untuk tujuan mencapai ilmu yang sebenarnya. Apalagi di akhir-akhir ini dengan adanya social media, internet dan lain sebagainya, peranan guru semakin kecil. Sering ribut lagi. Peranan guru yang begitu penting dalam penerapan worldview, hal ilmu dan akhlak, di awal zaman modern dibataskan hanya pada penyampaian ilmu tapi bukan pada pembenahan akhlak. Jadi peranan guru sebagai pendidik dalam konteks yang sungguh-sungguh semakin berkurang dan ini kita harus memberikan perhatian. Sebab akhirnya guru hanya sebagai instrumen saja. Guru tidak diberikan lagi peranan untuk mengevaluasi pelajar bahkan guru memarahi murid bisa kena masalah besar. Malah guru, kalau di Barat, tidak diberi hak untuk mengkritik nilai yang salah yang dilakukan oleh muridnya sendiri. Hanya boleh mengajak murid memahami nilai murid itu sendiri (value clarification). Ini bukan ajaran Islam, ini ajaran sekolah-sekolah biasa. Sedikit banyak hal-hal ini sudah masuk ke dalam sistem pendidikan umat Islam. Karena itu peranan guru yang dulunya kental sebagai sumber ilmu, sumber akhlak, dan sebagainya, perannya tidak boleh dipisahkan.

Lalu bolehkah kita belajar tanpa guru?

Dalam skema sekarang ini, guru perannya hanya dibatasi sebagai fasilitator atau untuk mendapat informasi, kemahiran dan lulus pereksa semata-mata, dengan social media dan internet yang semakin marak itu tendensinya semakin terlihat bahwa guru kurang mendapatkan perhatian dan kadang-kadang guru tidak secepat pelajar dalam memperoleh data-data baru. Karena itu para pemimpin pendidikan Islam harus paham tren baru ini. Menggunakan teknologi seperti internet untuk belajar itu perlu. Kalau dulu di sekolah-sekolah kita, selain guru juga ada buku teks dan papan tulis. Akan tetapi teknologi akan terus berkembang jadi perlu digunakan, tapi harus digunakan dengan frame work dan metode pendidikan Islam yang utuh, jangan sebagai pengganti, jangan sebagai perusak.

Ini perlu penyiapan agar guru yang lebih komprehensif dan canggih secara worlview, akhlak dan pengetahuan, sebab guru kadang tidak tahu dan tidak bisa menilai sumber-sumber itu padahal data-datanya keliru dan banyak anak muda tertarik dengan skema yang disajikan media sosial. Guru harus dipilih dari lulusan terbaik dan diberikan gaji terbaik sebab tugasnya yang komprehensif dan penting bagi kejayaan duniawi dan ukhrawi individu dan bagi kemajuan bangsa. Dalam konteks dunia hari ini di mana ibu bapak sangat sibuk bekerja, peranan guru menjadi lebih krusial.

Apakah sanad itu penting? Mengapa?

Sebagai suatu sumber itu sangat penting. Sebab terlalu banyak konten-konten berasal dari sumber-sumber yang dicurigai. Tampaknya Islami, menarik, tapi ditafsirkan dengan cara yang mengelirukan dan mereka yang menyajikanpun memiliki kualifikasi yang unggul mulai dari master hingga profesor tapi kita tidak tahu dari mana mereka dapat.

Kriteria guru yang seperti apa yang harus dicari?

Kalau di peringkat sekolah dasar, penguasaan skill technical tidak begitu penting. Sebab anak-anak sekolah dasar itu baru belajar membaca, menulis, menghitung, beradab dan berakhlak mulia. Begitu dewasa, SMP, SMA dan S1 ke atas akan semakin banyak tantangan. Sehingga persiapan guru-guru dalam dasar pendidikan umat Islam, bukan saja bidang agama, bidang sains juga penting sekali. Selain itu program deislamisasi, liberalisasi dan sekularisasi bukan di peringkat SD dan SMP, tapi di tingkat SMA ke atas. Orang menjadi murtad, orang menjadi kafir, orang menjadi radikal bukan di peringkat SD dan SMP, tapi di tingkat SMA ke atas. Itu tantangan yang paling besar. Karena itu guru di tingkat SMA ke atas bukan saja harus memahami tentang bidang agama saja tapi harus juga memahami pola-pola pemikiran besar atau tren-tren filsafat, liberalisasi dan sekularisasi yang merusak agama-agama. Karena itu guru SMA ke atas perlu dilatih secara komprehensif agar bukan saja memahami Islam tapi juga memahami filsafat-filsafat yang di luar Islam yang telah memiliki dampak besar kepada worldview agama-agama lain termasuk etika dan tatakrama itu juga.

Dari mana kita bisa mengetahui bahwa guru yang kita cari sesuai harapan?

Seperti pernah diamalkan di pesentren tradisi dan di Gontor. Menilai manusia tidak mudah. Calon guru bukan saja harus terbukti keilmuannya tetapi komited pada worldview Islam dan sistem pemikiran, adab, akhlak, syariat serta peradabannya, dan memahami tren-tren kontemporer. Sehingga perlu interview hingga pengamatan. Itulah manusia. Selain itu institusi pendidikan juga perlu mendidik, membudayakan ilmu yang lengkap. Bukan hanya guru saja, administratornya dan lainnya juga perlu dididik.

Bagaimana seharusnya adab guru terhadap murid?

Guru harus melayani muridnya sebagai anaknya sendiri, dengan kasih sayang, dan ketegasan. Harus menyemai semua nilai-nilai mulia dan memperhatikan sifat-sifat dan sikap serta perbuatan-perbuatan yang tidak baik lalu dinasihati dan diperbaiki; jika yang baik, diberikan pengiktirafan, pujian dan dokongan untuk mencapai yang lebih baik lagi. Guru harus mendedahkan pelajar dengan contoh-contoh ulama dan umara serta tokoh-tokoh Islam yang lampau dan kontemporer, yang berjasa, melihat sifat-sifat pribadi dan sumbangan mereka. Malah dari tokoh-tokoh yang non-muslim juga boleh diperolehi pengajaran yang positif. Guru-guru harus menyemai sifat-sifat keikhlasan dan perjuangan kebaktian untuk agama dan bangsa dan umat manusia bukan untuk sukses pribadi, mendapat jabatan tinggi dan terpandang.

Adab murid terhadap guru yang baik itu seperti apa?

Murid harus menyayangi dan meghormati gurunya lebih dari ibu bapaknya sendiri; harus mencoba memahami setiap pendapat gurunya, sebab-sebabnya kenapa guru punya paham-paham seperti itu. Kalaulah tidak paham dia boleh berbeda. Tapi jarang kalau murid lebih paham dari gurunya. Tugas murid, untuk tingkat SD, SMP, SMA, bukan untuk berbeda pendapat. Tapi setelah mencapai tingkat S1, S2, S3 mereka mempunyai latar belakang ilmiah yang memungkinkan bisa menilai gurunya. Kalaupun tahu kekeliruan gurunya selagi tidak fundamental diperbolehkan untuk bertanya. Namun jika berbeda secara fundamental, berbeda boleh, dan boleh tidak mengikuti pemikirannya. Contohnya seperti Abu Hasan Al-Asy’ari yang ketika itu berumur 30 tahun ke atas, bermufaraqah dengan Al-Juba’i, tokoh besar Mu’tazilah yang sekaligus guru Abu Hasan Al-Asy’ari. Abu Hasan Al-Asy’ari bermufaraqah dengan gurunya karena tidak puas dengan gurunya, Al-Jubai dalam menjawab pertanyaannya.

Guru dikatakan sukses mendidik muridnya, apa indikatornya?

Di tingkat fundamental kesuksesan guru dalam mendidik muridnya bisa dilihat dari sikapnya terhadap ilmu, akhlaknya yang mulia, memahami rukun iman dan rukun Islam, menguasai bahasa-bahasa, ilmu dan kemahiran di tingkatnya masing-masing. Selain itu memiliki kotokohan dan kepimpinan diri dan masyarakat. Tapi yang paling baik adalah adab dan akhlaknya, aqidahnya dan amal ibadahnya.

Apa saran Anda untuk guru-guru dan murid di era digital ini?

Senantiasa meningkatkan ilmu pengetahuan dan memperbaiki diri dan masyarakat. Memahami tantangan-tantangan kontemporer dan yang akan datang. Sekarang ini teknologi bisa memudahkan tugas guru. Juga satu tantangan. Bukan sebagai pengganti guru. Kita harus tahu batas-batas dan fungsinya. Teknologi tidak salah. Tidak memahami batas dan fungsi teknologi itu yang salah. Guru harus mampu menilai sumber-sumber yang didapat dari internet apakah benar atau tidak. Di samping itu guru di sekolah-sekolah Islam harus ditraining tentang batas-batas dan kebaikan sosial media dan internet. Memang ada banyak kebaikan-kebaikan dalam internet, tapi juga ada banyak fundamental erornya. Terutama dalam hal etika, dalam hal-hal pandangan alam, nilai-nilai dan konten. Dunia sedang berjalan ke arah itu. Kalau sekolah-sekolah umat Islam terbelakang akan ditinggalkan. Semuanya, training penyiapan pemahaman, teoritikal, historikal dan metodologi itu penting dikuasai oleh para pemimpin sekolah-sekolah umat Islam. []

Tags: GontorGuruWan Mohd Nor Wan Daud
Share757Tweet363Send
Previous Post

Jiwa Guru Penentu Pendidikan

Next Post

Erdogan : Tanpa AS, Turki Akan Dirikan Zona Aman di Suriah

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Comments 1

  1. Widyowarih says:
    7 years ago

    Bahasan yg bagus sekali,jazakallah khair sgt menginspirasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

0
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

0
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

0
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

0
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

6 September 2026
JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

6 September 2026
Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

Kiai Fatwa: Pendidikan Holistik Darul Amanah Lewat Prestasi Nasional dan Sudah Berkarir di Berbagai Sektor

6 September 2026
PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

PBNU Berharap Hubungan NU-Gontor Kian Harmonis di Usianya yang Ke-100

6 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
â–²
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result