New York, Gontornews — Sebuah penelitian yang dipimpin oleh peneliti asal New York University School of Medicine, Moon-Shong Tang, menemukan bahwa 23 dari 40 tikus yang terpapar asal dari rokok eletronik atau vape mengalami hiperplasia kandung kemih yang berujung pada kanker paru-paru.
Sementara itu, hanya satu dari 17 belas tikus yang tidak terpapar langsung asap vape yang mengalami hiperplasia. Dalam penelitian tersebut, tikus memang tidak menghirup asap seperti halnya manusia namun mereka dikeliling oleh asap vape.
“Asap tembakau adalah salah satu agen lingkungan paling berbahaya yang secara rutin terpapar pada manusia. Tetapi, potensi asap rokok elektronik sebagai ancaman terhadap manusia belum sepenuhnya dipahami,” kata Tang yang juga merupakan guru besar di Departemen kedokteran, kedokteran lingkungan dan patologi tersebut.
“Hasil penelitian kami pada tikus tidak dimaksudkan untuk membandingkannya dengan penyakit manusia, tetapi sebaliknya berpendapat bahwa asap rokok elektronik harus dipelajari lebih teliti sebelum dinyatakan sebagai aman dan dipasarkan,” tambahnya sebagaimana dilansir Scitech Daily.
Dalam penelitian sebelumnya, Tang beserta tim telah menyatakan bahwa rokok elektronik menyebabkan kerusakan DNA di paru-paru dan kandung kemih tikus. Secara khusus, penelitian sebelumnya menemukan bahwa, oleh tubuh, nikotin diubah menjadi nitrosamin yang bertugas sebagai agen perusak DNA yang pada akhirnya membentuk zat tambahan DNA.
Penelitian ini juga mengonfirmasi temuan tersebut dan menyatakan bahwa asap yang berasal dari rokok elektronik menyebabkan kakner di paru-paru dan pertumbuhan prakanker pada kandung kemi tikus.
“Hasil penelitian kami mendukung argumen bahwa tambahan DNA yang diturunkan nikotin kemungkinan menjadi penyebab utama karsinogenesis pada tikus yang terpapar asap rokok elektronik,” kata tim peneliti, Herbert Lepor dari NYU Langone Health.
“Langkah kami selanjutnya dalam pekerjaan ini adalah memperluas jumlah tikus yang diteliti untuk mempersingkat dan memperpanjang waktu pemaparan rokok elektronik serta menyelidiki lebih lanjut perubahan genetik yang disebabkan oleh asap rokok elektronik,” tutup Lepor. [Mohamad Deny Irawan]






















