Iman, jihad, dan niat, akan terus diuji, di mana dan kapan, sesuai kapasitas kita. Baik dengan musibah, masalah, maupun kasus yang tak habis-habis atau dibuat tak berhabisan. Banyak orang terhempas di medan laga. Macet di tengah jalan karena angin kencang selalu menggoncang. Banyak pula yang lancar melaju dan bernasib lain. โTunggak jarak merajak, tunggak jati mati.โ Bersyukurlah orang yang mampu sampai ke pantai harapan. Karena tak semua orang yang suka kebaikan akan melakukannya, dan tak semua yang suka melakukannya mampu berbuat hingga batas akhir.
Fasilitas perjuangan memang pahit tak menyenangkan, kurang nyaman atau menarik. Tapi kesulitan dan nasib duka sebenarnya akan menjadi keindahan. Seribu satu alasan untuk nyaman dan menarik, namun seribu satu alasan pula untuk tidak nyaman dan menarik. Roda nasib umat manusia tak akan pernah berhenti berputar. Demikian pula, nasib nilai-nilai kemanusiaan tak akan pernah luput dari perputaran posisinya. Ada yang meninggalkan, ada pula yang mempertahankannya. Wa tib nafsan idzรข akmalal-qรขdhรข`.
Ironisnya, umat Islam sekarang layaknya suka disuruh mendorong mobil mogok, lalu ditinggal lari. Walau memang banyak yang cerdas, tapi sengaja tetap tak mau ikut naik mobil itu, sebab mobilnya amat suka mogok. Bagi mereka, lebih baik membuat mobil baru. Tapi bisakah? Itu sering diungkap dalam teori dan celoteh seminar para pengamat yang mengaku cerdas, namun tak mau dan takut berbuat.
Sementara, pejuang dan mujรขhid hakiki, meski ia digocek, ditindas, diancam, atau diteror, ia akan tetap mampu berdiri tegak dan tegar. Musuh berkepala batu dan bertindak sepihak pun ia hadapi. Paradigma perjuangannya: “Berperang, lalu kalah, dan akan mati; tidak berperang, juga kalah, dan mati juga.โ
Karena itu, hidupkan dalam diri kita amanat mundzirul-qaum, bukan mundzarul-qaum; decision maker, bukan decision ngekor. Atau, menjadi ashรขbul-kahfi saja yang ka`annaka tamรปtu ghadan, sementara generasi penerus tampil dengan jargon: Sebelum patah sudah tumbuh, sebelum hilang sudah berganti.
Islam dan umat Islam saat ini dikelilingi lingkungan kurungan yang kotor, jauh dari kemanusiaan. Semua serba money, monkey, dan donkey politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, hingga hukum. Perang peradaban akan terus berjalan, sejak zaman Nabi Adam hingga era Saddam. Konspirasi internasional pun akan terus membina bakat dan minat kaum Muslimin untuk hidup tanpa value (nilai).
Kader umat perlu dibina agar bisa mengondisikan diri, bukan sekedar menyesuaikan diri. Penjajahan harus dilawan dengan kemerdekaan. Dilengkapi dengan kemampuan manajerial untuk memberdayakan dan mengoptimalkan sumberdaya manusia, alam, hati, waktu, sosial kemasyarakatan, ekonomi, organisasi, opini, manajemen informasi, dan lain-lain. Sebab, perjalanan panjang kehidupan manusia adalah proses menuju tatanan dunia baru, kehidupan yang berkemanusiaan, dan fitrah yang sempurna.
Jadi, hijrah bukan hanya perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, bukan pula dari satu sistem ke sistem lain. Tapi lebih merupakan totalitas hijrah dari yang tanpa nilai kemanusiaan, ke tatanan yang bernilai โmoral kemanusiaan yang sempurna. Dari ketergantungan pada sistem penjajah, menuju kemerdekaan dan pengusiran segala macam penjajahan, kolonialisme, maupun neo kolonialisme. Itulah fitrah. Semua kerusakan di dunia ini terjadi akibat penyelewengan manusia dari kemanusiaannya yang sempurna (fitrah,sebagaimana menimpa Bani Israil (Yahudi) sampai kiamat kelak.[]





















