Jakarta, Gontornews — Model dakwah saat ini sangat beragam dan menarik. Satu di antaranya adalah model dakwah yang dilakukan oleh KH Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha. Siapa yang tak kenal dengan kiai muda yang suka memakai baju putih dan kopiah hitam itu. Di samping penampilannya yang sederhana penguasaan terhadap ilmu tafsir dan hadis membuat dakwahnya diminati masyarakat.
Meski pola dakwah ala pesantren tradisional dan bahasa Jawa digunakan dalam berbagai ceramahnya, Gus Baha mampu menyaingi popularitas dai lainnya yang lebih dulu eksis. Berdasarkan hasil survei Alvara Research Center (2020) menempatkan Gus Baha sebagai ustadz paling populer (15,7%) setelah Ustadz Abdul Somad (18,6%). Sedangkan peringkat ketiganya adalah KH. Mustofa Bisri (8,3%) keempat, Abdullah Gymnastiar (5,3%), kelima Prof Quraish Shihab dan keenam Ustadz Adi Hidayat (4,9%).
Adalah pendakwah, setiap dakwahnya memiliki gaya penyampaiannya masing-masing. Ada yang ‘berat’ ada juga yang santai dan menyenangkan. Gaya yang terakhir inilah yang digunakan oleh Gus Baha sebagai caranya dalam berdakwah. Kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 29 September 1970 ini bahkan mengaku obsesi terbesarnya adalah mengajak jamaahnya menjadi bahagia. “Cita-cita terbesar saya memang, setiap ngaji saya ingin orang mukmin semuanya bahagia,” tuturnya, dalam sebuah tayangan video.
Menurutnya, dengan menjadi bahagia, orang tidak akan mencari kebahagiaan melalui kemaksiatan. Bahkan dalam konstitusi ulama yang ditulis dalam kitab- kitab Ushul Fiqh para ulama membuat pembelaan pada sesuatu yang dihukumi mubah.“Karena melihat mubah itu, misalnya tidur. Tidur itu mubah, bermain catur itu mubah. Rileks dengan teman, jagongan dengan teman, rektor, dosen atau yayasan itu melihatnya bukan mubah, tapi tarkul ma’shiyah (meninggalkan maksiat),” jelasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Tahfidul Quran LP3IA Rembang itu juga tidak pernah terpikir kalau ternyata dakwahnya jadi viral atau terkenal. “Komitmen saya hanya ingin mengenalkan bahwa ajaran Allah itu indah. Ajaran Allah ini solusi. Saya ndak pernah kepikiran kalau itu jadi viral,” bebernya.
Ketika mendengar, dakwahnya jadi terkenal, Gus Baha teringat kisah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam ketika diperintahkan Allah untuk menyampaikan kewajiban haji. “Beliau mengatakan, ‘Saya bisa apa? Suara saya terbatas ya Allah’. Kemudian Allah jawab,‘Sampaikan saja. Nanti saya yang menyampaikan sehingga orang di seluruh dunia bisa mendengar, yang ditakdirkan bisa berangkat haji’,” ungkap Gus Baha.
Dari kisah ini, Gus Baha memahami bahwa kenabian harus dimaklumatkan. Apalagi dalam sebuah Hadits Qudsi ditegaskan, Allah menciptakan makhluk agar Allah dikenal. “Allah yang menyampaikan, sehingga tidak jadi beban untuk saya harus perlente, harus gaya. Saya tetap biasa seperti ini. Karena ini pakaian yang saya kenal, saya merasa nyaman. Syukur-syukur ini mewakili ‘bilisani qaumi’ karena saya orang Indonesia, ndeso lagi,”imbuhnya.
Menanggapi cara dakwah yang digunakan oleh Gus Baha itu, Prof Quraish Shihab mengatakan, dakwah itu harus bisa menjadikan orang simpatik, hormat, dengan menggambarkan sifat-sifat Allah sebagai Al-Kamal dan Al-Jamaal, menyampaikan sifat keindahan-Nya dan sifat kebaikan-Nya. “Ini yang dipraktikkan Gus Baha. Tidak khawatir dicela orang, tidak peduli dipuji orang. Kalau dipuji alhamdulillah, kalau dicela alhamdulillah. Itulah risiko dai (mubaligh),” tandasnya.
























