Bonn, Gontornews — Para ahli iklim dunia menyayangkan gagalnya dunia dalam menjaga pemanasan global jangka panjang 1,5 derajat Celcius. Akibatnya, kenaikan suhu telah berdampak buruk bagi kehidupan makhluk hidup baik di darat maupun di laut.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) melaporkan suhu udara permukaan rata-rata global telah melebihi 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri selama beberapa hari. Situasi ini menyebabkan peningkatan suhu di belahan bumi utara sejak 1 Juni dan pemecahan rekor suhu laut pada bulan April dan Mei.
“Kita kehabisan waktu karena perubahan memerlukan waktu,” kata Sarah Perkins-Krikpatrick, ahli cuaca dari Universitas New South Wales Australia kepada Reuters.
Dua negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Amerika Serikat dan Cina, berencana untuk bertemu. Saat itu terjadi, suhu Beijing telah memecahkan rekor di bulan Juni. Pun dengan Amerika Serikat yang juga mengalami gelombang panas ekstrem di sejumlah wilayah.
Beberapa bagian di wilayah utara Amerika mengalami peningkatan suhu 10 derajat Celcius di atas rata-rata musiman bulan ini. Situasi semakin parah setelah kebakaran hutan di Kanada dan Pantai Timur Amerika Serikat yang menyebabkan kabut berbahaya dengan emisi kabron mencapai rekor 160 juta metrik ton.
Sementara itu,negara-negara yang rentan terdampak perubahan iklim seperti India, Spanyol, Iran dan Vietnam, melaporkan banyak korban tewas akibat sengatan panas. Beberapa negara bahkan khawatir, musim panas mematikan tersebut bisa terjadi pada tahun-tahun selanjutnya.
Suhu di darat yang meninggi juga diikuti dengan suhu tinggi di lautan, terutama karena El-Nino dan sejumlah faktor lain. Pada akhir Maret, suhu permukaan laut rata-rata global mencapai 21 derajat Celcius pada akhir Maret, April dan Mei. Badan cuaca Australia memperingatkan suhu permukaan laut global bisa meningkat 3 derajat Celcius lebih hangat pada bulan Oktober mendatang.
“Secara keseluruhan, laut bak mendapatkan hantama empat kali lipat (dari biasanya,” kata Piers Forster, guru besar fisika cuaca University of Leeds.
“Lautan akan memiliki respons yang lambat karena mengakumulasi (panas) secara pelahan dan menyimpannya untuk waktu yang lama,” sambungnya. [Mohamad Deny Irawan]

















