Sydney, Gontornews — Badan pengawas obat-obatan Australia, Jumat (03/02/2023), mengumumkan bahwa zat psikedelik pada MDMA (ekstasi) dan zat psilocybin pada jamur ajaib dapat digunakan untuk pengobatan depresi dan stres pasca trauma.
Regulator obat dan terapi Australia, Therapeutic Goods Administration (TGA), akan mengizinkan para psikiater untuk meresepkan dua obat tersebut mulai Juli mendatang. TGA berdalih pihaknya menemukan cukup bukti dan manfaat yang potensial dari dua obat terlarang itu bagi pasien depresi dan stres pasca trauma.
“Kami menemukan bukti yang cukup untuk manfaat pontesial pada pasien tertentu,” kata TGA dalam keterangan yang dilansir Channel News Asia.
Sejatinya, kedua obat tersebut merupakan obat terlarang dan hanya dapat digunakan dalam uji klinis yang dikontrol dengan sangat ketat.
Administrasi menemukan bahwa penggunaan dua obat tersebut relatif aman ketika digunakan dalam aturan medis. Dua obat ini, lanjut administrasi, juga memberikan situasi kesadaran yang dapat membantu pasien tertentu.
Peneliti kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri dari University of South Australia, Mike Musker, menyambut baik keputusan regulator obat-obatan tersebut. Selama ini, ia banyak menemukan warga yang mengalami gangguan stress pasca trauma dan depresi terutama kalangan veteran dan para pekerja di layanan darurat.
“Ada banyak masyarakat yang mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)… yang tidak terpengaruh oleh obat psikiatri biasa dan mampu memberikan kelegaan,” ucap Musker.
Musker mengaku kedua obat tersebut dapat mengurangi hambatan tersebut dan membantu orang memproses gambaran dan ingatan yang sulit. Meski demikian, Adminstrator tetap menganggap penggunaan MDMA dan psilocybin dilakukan terbats hanya untuk penyakit depresi maupun stres pasca trauma.
Sejumlah advisor berharap suatu hari dapat menggunakan dua obat tersebut untuk mengobati pasien ketergantungan alkohol, gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan makan. [Mohamad Deny Irawan]
























