Amsterdam, Gontronews — Sebuah penelitian menjelaskan perbedaan tawa antara orang dewasa dengan bayi. Jika orang dewas tertawa menghirup nafas dengan proporsi tertentu, maka bayi tertawa sambil menghirup dan menghembuskan nafas secara bersamaan.
“Manusia dewasa kadang tertawa dengan menghirup nafas tetapi dengan proporsi yang berbeda dari tawa bayi maupun simpanse. Hasil kami sejauh ini menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran secara bertahap (tentang tawa dari bayi menjadi manusia dewasa) dan bukan terjadi secara tiba-tiba,” ungkap Psikolog sekaligus guru besar di University of Amsterdam Belanda, Disa Sauter, sebagaimana dilansir Science Daily.
Penelitian yang dilakukan oleh Psikolog Mariska Kret, mahasiswa pascasarjana University Leiden, Dianne Venneker dan Bronwen Evans dari University College di London mempelajari 44 rekam klip tawa bayi berusia 3 hingga 18 bulan.
Dalam penelitian tersebut, Sauter dan rekan berhasilmenemukan bahwa bayi-bayi berusia muda tertawa dengan menghirup dan menghembuskan nafas seperti halnya simpanse. Berbeda dengan bayi yang lebih tua yang mampu tertawa dengan hanya menghembuskan nafas seperti halnya orang dewasa.
Mereka pun menjelaskan bahwa tawa bayi tersebut terjadi akibat kontrol vokal manusia yang berkembang saat mereka belajar berbicara dan bukan terjadi karena adanya keterkaitan antara simpanse dan manusia.
Selain meneliti tawa pada bayi, para peneliti juga berusaha untuk menemukan hubungan antara jumlah taqwa yang dihasilkan saat menghirup nafas dan alasang mengapa seorang individu bisa tertawa.penelitian selanjutnya direncanakan dengan berusaha untuk melakukan penelitian tentang tawa yang dihasilkan dari permainan fisik semacam menggelitik.
“Jika kita mengetahui perkembangan suara bayi, maka kita dapat mengetahui secara dini tanda-tanda awal perkembangan atipikal dalam vokal verbal dan non verbal mereka,” pungkas Sauter. [Mohamad Deny Irawan]


















